KAMIS , 13 DESEMBER 2018

Rohingya Yang Pilu

Reporter:

get_the_user_login

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 08 September 2017 13:25
Rohingya Yang Pilu

Arifuddin Saeni

BISAKAH kebencian itu begitu membatu, sehingga kematian pun, tak bisa dijadikan ukuran untuk memunculkan rasa kemanusiaan kita. Itu mungkin yang terjadi bagi etnis Rohingya di Myanmar, yang dengan gampangnya dibantai, yang seakan-akan berasal dari sisi yang lain, sebuah sisi yang kita tidak butuhkan, atau barangkali ada genosida di sana.
Yang namanya Negara, kita telah kehilangan banyak kata-kata. Dia bukan hanya sebagai tempat ‘bernaung’ tapi juga sebuah identitas, dan Myanmar bukanlah tempat yang elok untuk sebagian penduduknya, mereka lari menuju perbatasan hanya untuk menghindari yang namanya kematian.

Saya teringat tentang apa yang dikatakan Chairil Anwar, tentang sebuah negeri yang nyaman, tapi tidak untuk siapa-siapa. Sebab, sebuah negeri bukan hanya untuk pijakan, tapi juga soal kesepahaman antara dia, juga yang lainnya. Lalu apakah pembunuhan menjadi sebuah pembenaran.

Kita tidak tahu. Tapi negeri yang ada di ujungsana, telah mempertontonkan kepada kita, tentang bagaimana menghabisi orang, agama tak lagi bisa diijadikan pijakan soal kesadaran untuk saling memahami yang namanya perbedaan. Minoritas seperti sebuah batu kerikil di tengah jalan yang harus disingkirkan dengan sekali sepelemparan—–yang bukan hanya tak memberi makna, juga tak punya nilai.

Tapi manusia bukanlah sesuatu yang absurd. Ia bukan hanya membentuk budayanya sendiri, juga soal harapan dan bentangan masa depan. Kita tak lagi ingin melihat mayat-mayat yang bergelimpangan, dan tentara dengan angkuhnya membungkam etnis Rohingya dengan moncong senjata. Kita memang miris melihatnya, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Mereka, Rohingya, bukan hanya terusir dari negaranya, tapi juga tak diterima di negeri orang. Di perbatasan Banglades, mereka membantu menunggu harapan, berselimut luka tentang anak-anak yang dibantai, orang tua yang kehilangan sanak saudaranya. Doa yang terpanjatkan, entah kapan akan turun.

Tapi entah sampai kapan mereka menyesali dirinya, berada pada negeri yang pemimpinnya pernah meraih penghargaan nobel perdamaian, selain tidur nyenyak pada gubuk yang reot. Atau memang mereka berada pada negeri yang salah, yang dipenuhi orang-orang idiot. (*)


div>