RABU , 19 DESEMBER 2018

RS Siloam dan Grestelina Masuk Daftar Merah

Reporter:

rakyat-admin

Editor:

Sabtu , 23 April 2016 11:11
RS Siloam dan Grestelina Masuk Daftar Merah

Rumah Sakit. Ilustrasi. (ist)

MAKASSAR, RakyatSulsel.com – Sebanyak 28 perusahaan di Sulawesi Selatan (Sulsel) mendapat rapor merah dalam hal pengelolaan lingkungan hidup. Itu berdasarkan hasil penilaian dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2014.

Rapor merah itu dinilai berdasarkan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan (Proper) KLHK yang dilakukan tahun 2014-2015. Dimana penghargaan dari kementerian untuk mereka yang berkategori Hijau dan Biru diberikan Januari 2016 lalu oleh Gubernur Sulsel.

Dari 28 perusahaan dengan rapor merah yang dirilis BLHD, 13 diantaranya adalah Rumah Sakit. Bahkan dua RS berlebel mewah yakni RS Siloam dan Grestelina ikut dapat penilaian buruk soal pengelolaan lingkungan.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Sulsel, A Hasbi Nur menyebutkan, dari 60 perusahaan yang dinilai hanya satu perusahaan yang mendapat rapor hijau, 31 biru, dan sisanya 28 perusahaan mendapat rapor merah.

Pada periode 2013-2014, dimana satu perusahaan mendapat rapor hitam. Sedangkan, untuk tahun 2014-2015, dari 60 perusahaan yang mendapat penilaian, tidak satupun masuk daftar hitam.

“Untuk perusahaan yang masuk kategori merah itu kebanyakan adalah rumah sakit. Ada juga perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, perhotelan, dan perkebunan,” ungkap Hasbi di ruang kerjanya, Jumat (22/4).

[NEXT-RASUL]

Disebutkannya, perusahaan yang mendapat rapor merah, rata-rata disebabkan belum memiliki Instalasi Pengelolaan Air dan Limbah (IPAL). Hal lain yang jadi kendala adalah bagaimana perusahaan mengelola sampah B3 (Bahan Berbahaya Beracun), termasuk pengelolaan kualitas udaranya.

Setelah mengantongi daftar perusahaan rapor merah, lanjutnya, mekanisme yang dilakukan adalah memberi waktu kepada yang perusahaan bersangkutan untuk memperbaiki pengelolaan lingkungannya sesuai catatan yang diberikan oleh KLHK.

“Jika dalam batas waktu yang diberikan, perusahaan bersangkutan tidak bisa memperbaiki kekurangannya,  maka akan diberi sanksi administrasi. Berbeda dengan perusahaan yang diberi rapor merah, perusahaan yang mendapat rapor hitam, langsung dibawa ke ranah pidana karena sudah terbukti melakukan pelanggaran,” terangnya.

Ia mengungkapkan, saat ini sudah ada perusahaan yang masuk dalam ranah hukum karena mendapat proper hitam, yakni PT Barawaja. “Sekarang PT Barawaja masih dalam tahap pengumpulan bahan dan keterangan atau pulbaket. Pabriknya saat ini dipolice line,” jelasnya.

Terpisah, Direktur Walhi Sulsel, Asmar Exwar mengakui selama ini banyak perusahaan yang tak mengelola limbahnya dengan baik, mulai karena persoalan peralatan sampai ketidaktahuan cara pengelolaannya.

“Pemerintah harus melakukan pengawasan ketat terhadap perusahaan, apalagi bagi yang membuang limbah yang berbahaya ke lingkungan tanpa diolah sebelumnya. Tak hanya 60 perusahaan yang masuk dalam penilaian, kalau bisa semuanya,” pungkasnya. (ril/D)


div>