MINGGU , 19 AGUSTUS 2018

Rujukan Survei Tergantung Kredibilitas Lembaga

Reporter:

Suryadi - Iskanto

Editor:

asharabdullah

Selasa , 20 Maret 2018 11:30
Rujukan Survei Tergantung Kredibilitas Lembaga

Ilustrasi. Dok. RakyatSulsel

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Survei kandidat oleh lembaga survei bisa jadi tolak ukur pemenangan pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Namun memang, survei baiknya dilakukan dengan tingkat kredibilitas dan keakuratan yang memang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan oleh setiap lembaga survei.

Saat ini sejumlah lembaga survei mulai pamer riset elektabilitas para paslon yang maju Pilkada di sejumlah daerah. Khusus kota Makassar, misalnya sudah dipublikasikan. Tak kalah menarik adalah hasilnya mengunggulkan kandidat tertentu.

Lantas seberapa akuratka hasil survei yang dikeluarkan oleh lembaga survei yang kredibilitas. Apakah ini mampu untuk meningkatkan keyakinan, sehingga bisa menjadi tolak ukur para paslon.

Direktur Eksekutif Nurani Strategic Nurmal Idrus berpendapat secara hegemoni lembaga survei yang melakukan publikasi elektabilitas kandidat sangat besar pengaruh terhadap publik. “Karena itu memberikan tambahan keyakinan kepada publik,” ujarnya Senin (19/3).

Menurutnya, tak kalah penting juga adalah adanya hasil survei akan dijadikan tolak ukur oleh para kandidat untuk terus bekerja dan memaksimalkan sosiasliasi demi mencapai tujuan kemenangan. “Tentu, hasil survei dari lembaga terkait bisa jadi rujukan untuk kandidat di Pilkada,” katanya.

Ia mencontohkan, berkaca pada Pilkada sebelumnya survei selalu jadi patokan. Hanya saja sebagian survei juga meleset akibat lembaga itu sendiri.

Kendati demikian, ia menambahkn, jika survei tinggi namun money politik masih marak maka kemungkinan dominan adalah politik uang merubah konstalasi.

Ia mencontohkan, berkaca pada Pilkada Takalar, salah satu strategi untuk mengalahkan incumbent adalah dengan jalan money politik.

“Saya sangat percaya dengan anomali suara. Di mana suara bisa berbalik dalam sekejap. Misalnya karena ada kejadian luar biasa, forcemajor, tersangka korupsi, serta money politik yang terstruktur sistematis dan massif (TSM). Contohnya Takalar, petahana kalah karena kemampuan penantang untuk menaikkan partisipasi pemilih di daerah basisnya, dan menekan partisipasi pemilih di daerah basis lawan,” pungkasnya.

Pakar Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto menambahkan, lembaga survei tentunya akan terpercaya apabila bekerja sesuai dengan prosedur yang ada dalam melakukan riset. Karena memang, data yang didapatkan dilapangan harus valid dan tidak asal-asalan. Meskipun terkadang lembaga survei ‘condong’ pada satu kandidat.

“Kalau lembaga-lembaga survei melakukan riset dengan prosedur-prosedur ilmiah yang benar, maka hasilnya akan valid dan reliabel atau terpercaya. Meskipun lembaga survei itu berafiliasi pada kandidat yang berkontestasi,” jelasnya.

Luhur menjelaskan, kalau prosedur-prosedur ilmiah tidak lagi menjadi pertimbangan dalam kerja-kerja survei maka data temuannya tentu tidak layak jadi rujukan. Hasil survei hanya untuk kebutuhan propaganda.

“Sekarang ini lembaga survei lebih banyak memainkan politik survei, untuk kebutuhan kliennya. Seperti merilis data, yang tidak berbasis riset ilmiah untuk kemasan citra elektoral kandidatnya,” terang Luhur.

“Kalau pola operasi riset seperti ini yang di jalankan, maka lembaga survey tersebut akan kehilangan kredibilitas dan integritas,” lanjutnya.

Sementara itu, Direktur Epicentrum Politica, Iin Fitriani yang dikonfirmasi menuturkan, keakuratan hasil riset dilapangan sangat ditentukan apa yang menjadi kebutuhan dan keadaan masing-masing kandidat. Karena tidak dipungkiri berhasil tidaknya riset adalah tergantung kerja-kerja tim dilapangan.

“Survei yang kredibel tentu saja yang mengukur dengan tajam keadaan dan kebutuhan kandidat di lapangan yang dihasilkan dalam bentuk rekomendasi yang akan dipetakan untuk kandidat,” terang Iin.

“Tapi itu tentu saja jadi tugasnya kandidat untuk melaksanakan rekomendasi itu dengan efektif,” lanjutnya.

Kinerja Petahana Baik, Bisa Terpilih Lagi

Pakar Politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Dr Jayadi Nas menghimbau warga Makassar untuk menjadikan kinerja petahana dalam menentukan pilihan di Pilwalkot mendatang.

Menurut Jayadi, bila masyarakat puas dengan kinerja petahana dalam hal ini pasangan Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto-Indira Mulyasari (DIAmi), maka sepatutnya masyarakat Makassar kembali memilih paslon nomor urut 2 ini.

Begitupun sebaliknya. Jika masyarakat tidak puas dengan kinerja petahana, maka pasangan Munafri Arifuddin-Rachmatika Dewi (Appi-Cicu) akan menuai dukungan masyarakat yang besar.

“Kalau petahana bekerja dengan baik, keliru ki semua kalau kita tidak pilih lagi. Sebaliknya keliru ki juga kalau petahana tidak bekerja dengan baik baru kita pilih. Atau ada penantang yang memiliki program yang lebih baik, lalu kita pilih petahana. Dan dalam pentas politik, adalah kecelakaan besar bagi petahana kalau tidak terpilih lagi,” kata Jayadi dalam diskusi bedah pilkada Kota Makassar di Warkop Dottoro Boulevard, Senin (19/03/2018).

Namun harus diingat bahwa tidak ada pemerintahan di dunia ini yang bisa memuaskan seluruh masyarakatnya. Orang yang tidak puas inilah yang merupakan ruang bagi penantang untuk digalang melawan petahana.

“Pemilih makassar kritis dan tidak mudah digoyah pilihannya. Untuk mengimbangi penantang harus menawarkan program yang lebih meyakinkan masyarakat. Jadi ruang untuk mengalahkan petahana masih ada,” imbuh Jayadi.

Dalam survei CRC awal Maret Lalu, DIAmi unggul 71,8 persen atas Appi-Cicu yang hanya meraup 18,8 persen elektabilitas. Angka ini sejalan dengan tingkat kepuasan publik yang tinggi terhadap kinerja Danny Pomanto.

“Kinerja terhadap Walikota Makassar dalam hal ini Pak Danny Pomanto itu 70,5 persen cukup puas, 7,8 persen sangat puas, dan 20 persen kurang puas,” urai Direktur Riset CRC, Andi Wahyuddin Abbas.

Survei ini dilakukan pada tanggal 1-14 Maret, dengan jumlah sampel 1.000 orang responden yang terdistribusi secara proporsional di 15 kecamatan se- Kota Makassar. Margin of error diprediksi mencapai +/- 3 persen. (*)


div>