RABU , 26 SEPTEMBER 2018

Saatnya Industrialisasi di Sulsel Dipacu

Reporter:

mg03

Editor:

asharabdullah

Jumat , 16 Maret 2018 14:57
Saatnya Industrialisasi di Sulsel Dipacu

FGD INDUSTRIALISASI. Ketua Kadin Sulsel HM Zulkarnain Arief bersama sejumlah narasumber pada Focus Group Discussion (FGD) dengan tema 'Menggali Potensi dan Strategi Industrialisasi di Sulawesi Selatan' yang dilaksanakan PJI Sulsel kerjasama Bank Mandiri di Cafe The Boss Jl Botolempangan, Makassar, Kamis (15/3), Zulkifly/rakyatsulsel/D

*FGD Mandiri-PJI

 

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Lima unsur yang menjadi peserta Focus Group Discussion (FGD) dengan tema ‘Menggali Potensi dan Strategi Industrialisasi di Sulawesi Selatan’ di Cafe The Boss Jl Botolempangan, Makassar, Kamis (15/3), sepakat mendorong percepatan industrialisasi di Sulsel. Kelima unsur tersebut adalah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel, Dinas Perindustrian dan Bappeda, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulsel yang menaungi pengusaha, perbankan diwakili Bank Mandiri, pakar atau akademisi, dan Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) Sulsel.

Ketua Kadin Sulsel, HM Zulkarnain Arief, Kadin senantiasa mensupport pengembangan industri di Sulsel. Hal itu, sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang melakukan pengembangan industri di luar Pulau Jawa. Salah satunya di Sulsel. Apalagi, Sulsel ditopang Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia.

“Industri itu harus memang didekatkan dengan bahan bakunya. Di Sulsel itu, ada komoditas unggulan, seperti kopi, kakao, jagung, rumput laut, dan lainnya. Untuk menopang industrialisasi di Sulsel dibutuhkan dukungan seluruh stakeholder. Nah, pada pertemuan ini, stakeholder sudah ada lima serangkai, yaitu pemerintah, dunia usaha, perbankan, dan jangan lupakan teman-teman pers yang tidak kalah besar dukunganya,” jelas Zulkarnain.

Zulkarnain mengatakan, untuk pengembangan industri butuh dukungan finansial, salah satunya dari perbankan. “Banyak bank hanya konsen di pembiayaan pegawai. Mungkin karena mudah dan jelas pengembalian kreditnya. Tetapi kita harapkan itu tidak terjadi pada Bank Mandiri. Mudah-mudahan melalui wadah diskusi ini, salah satu pintu Bank Mandiri masuk ke sektor industi,” harapnya.

Zulkarnaik mengatakan, guna mendorong percepatan industrialisasi di Sulsel, maka kelima unsur tersebut harus segera melakukan langkah kongret dan riil. “Makanya, kelima unsur ini akan melakukan identifikasi dan pembinaan. Agar industri di kabupaten/kota di Sulsel tumbuh dan berkembang serta lebih terarah,” ujarnya.

Sementara, Kepala Dinas Perindustrian Sulsel, H Ahmadi Akil,? mengatakan, era modernisasi saat ini negara bertumpu pada sektor industri. Sebab kontribusi sektor ini sangat luar biasa menopang pembangunan dan kesejahteraan petani serta masyarakat.

Sulsel sendiri memiliki potensi besar menjadi daerah industri ditunjang SDA yang sangat memadai, termasuk nilai history yang dimiliki. Oleh karena itu, saatnya Sulsel beralih ke industrialisasi.?

Ahmadi menjelaskan, Sulsel harus beralih ke industri. Apalagi, itu juga sudah ditekankan pemerintah pusat. “Dulunya itu, kebijakan pemerintah pusat untuk industri 60-40, 60 persen berpusat di Pulau Jawa dan 40 persen luar Pulau Jawa, tetapi sekarang kebijakan Bapak Presiden Jokowi (Joko Widodo) justru terbalik 40-60, dimana akan fokus pengembangan industri di daerah. Termasuk di Sulsel. Ini harus disambut positif,” jelasnya.

Ahmadi mengatakan, potensi industri di Sulsel sangat besar dengan bahan baku yang tersedia. Dinas Perindustrian Sulsel sudah menetapkan ada enam industri unggulan, yaitu kopi, pengolahan kakao, pengeloahan rumput laut, pengolahan kain sutera, pengolahan markisa, dan pengolahan hasil hutan.

“Kopi, kakao, rumput laut, dan hasil hutan sangat melimpah. Bahkan, Sulsel dikenal sebagai produsen unggulan komoditas tersebut,” ungkapnya.

“Sementara, industri sutera dan markisa bahan bakunya sangat kurang di Sulsel. Selama ini didatangkan dari luar. Tetapi kita sudah memiliki komitmen kuat untuk mengembalikan kejayaan industri sutera, walaupun bahan bakunya tidak ada, tetapi history-nya yang sangat lekat dengan Sulsel. Dulu, sutera kita dikenal hingga internasional. Untuk markisa juga sudah identik dengan Sulsel,” bebernya.

Ahmadi mengakui, untuk menjadikan Sulsel sebagai salah satu daerah industri di Indonesia harus ditopang dan sinergitas semua pihak, yaitu pemerintah, pengusaha, perbankan, dan lainnya. Apalagi, masih ada sejumlah kendala dan permasalahan sektor industri di Sulsel. Yaitu, pertama pengembangan sektor hulu belum optimal bersinergi dengan pengembangan industri, sehingga sektor industri terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) masih rendah. Kedua, Sumber Daya Manusia (SDM) pada sektor hulu dan sektor hilir masih kurang dan harus ditingkatkan. Ketiga, pengembangan produk bernilai tambah masih sangat terbatas dan terpaku pada beberapa jenis produk. Keempat infrastruktur yang belum memadai dalam mendukung pengembangan industri lebih lanjut, sehingga belum tumbuh dan berkembangnya Industri Kecil Menengah (IKM) yang melakukan kegiatan ekspor. Dan, kelima wilayah pengembangan kawasan industri yang telah dicanangkan belum sepenuhnya berjalan.

Ahmadi mengatakan, untuk menunjang industrialisasi tersebut, Pemprov Sulsel akan siapkan Peraturan Daerah (Perda) Rencana Pembangunan Industri Provinsi (RPIP) Sulsel yang saat ini sementara dirancang dan digodok di DPRD Sulsel.

“Diharapkan dengan lahirnya perda ini nantinya menjadi salah satu solusi untuk mewujudkan industrialisasi itu. RPIP ini amanah Undang-Undang (UU) nomor 3 tahun 2014 tentang Perindustrian. Dalam pasal 10 ayat 1 setiap gubernur menyusun RPIP dan pasal 11 ayat 1 setiap bupati/wali kota menyusuk RPI Kabupaten/Kota. Dimana tujuan RPIP adalah pertama meningkatkan laju pertumbuhan dan kontribusi sektor industri daerah dalam mendorong ekonomi kerakyatan. Kedua, meningkatkan nilai tambah komoditas/produk melalui hilirisasi industri agro dan meningkatkan volume, varian, dan nilai ekspor produk-produk industri. Ketiga, meningkatkan penyerapan tenaga kerja daerah ke dalam sektor industri. Keempat, meningkatkan arus investasi ke daerah melalui sektor industri. Dan kelima, mewujudkan iklim industri daerah yang kondusif dan mempu menjamin keberlangsungan eksistensi industri daerah dan menarik tumbuh berkembangnya industri-industri baru.

“Jika ini berjalan lancar, maka sasaran jangka panjang 2017-2037 dapat kita wujudkan. Dimana pertumbuhan industri 2022 dapat mencapai 10,81 persen, 2027 sebesar 11,47 persen, 2032 sebanyak 12,23 persen, dan 2037 mencapai 13,09 persen. Sebagai gambaran pertumbuhan industri 2016 sebesar 9,45 persen,” bebernya.

Ahmadi mengatakan, saat ini ada enam industri unggulan Sulsel, yaitu kopi, pengolahan kakao, pengeloahan rumput laut, pengolahan kain sutera, pengolahan markisa, pengolahan hasil hutan.

Sementara, Kepala Bidang Ekonomi Bappeda Sulsel, Ardin Tjahjo, mengatakan, tidak semua daerah dijadikan industri. Termasuk di Sulsel. “Kalau semua daerah dibanguni industri, lalu dimana memproduksi bahan bakunya. Kalau sudah ada tujuh daerah industri di Sulsel, maka itulah yang disupport dan dimaksimalkan,” ungkapnya.

Department Head Office of Economic Bank Mandiri Dendi Ramdani, menjelaskan, Bank Mandiri akan terus berkomitmen mendorong pertumbuhan sektor industri pengolahan di Sulsel dengan menyediakan pembiayaan bagi perusahaan dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang memiliki prospek usaha yang baik. “Bank Mandiri juga terus mengidentifikasi dan menjaring perusahaan-perusahaan yang layak dibiayai agar bisa maju dan berkembang,” terangnya.

“Salah satu caranya melalui FGD ini, Bank Mandiri mendapatkan masukan perusahaan-perusahaan industri mana yang layak dibiayai,” tambahnya.?

Ketua PJI Sulsel, Abdullah Rattingan, mengatakan, FGD ini bertujuan menggali lebih jauh potensi pengembangan sektor industri di Sulawesi Selatan. Terkait tantangan dan hambatan yang ditemui dalam akselerasi industrialisasi, serta solusi dan strategi mengatasi tantangan dan hambatan tersebut.

“FGD ini akan melibatkan stakeholders, yaitu pemerintah daerah (Dinas Perindustrian dan Bappeda Provinsi Sulawesi Selatan), pelaku usaha, perbankan, dan universitas. Diharapkan pihak-pihak terkait ini dapat berdiskusi dan merumuskan solusi konstruktif dan strategi jitu untuk pengembangan bisnis dan strategi sektor industri pengolahan di Sulawesi Selatan,” jelas doelbeckz, sapaan Abdullah Rattingan. (mg03)


Tag
  • FGD Mandiri
  •  
  • PJI
  •  
    div>