SABTU , 17 NOVEMBER 2018

Sahroni Berharap Syafruddin Jadikan PNS Tak Terlibat Korupsi

Reporter:

Editor:

pkl uim

Rabu , 15 Agustus 2018 14:35
Sahroni Berharap Syafruddin Jadikan PNS Tak Terlibat Korupsi

int

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantik Wakapolri Komjen Syafruddin sebagai menteri pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi (MenPAN dan RB), Rabu (15/8) di Istana Negara.

Syafruddin dipercaya menggantikan Asman Abnur, yang mundur dari jabatannya. Sejumlah harapan ada di pundak Syafruddin.

Anggota Komisi III DPR Ahmad Sahroni, misalnya, sangat mendukung Syafruddin menggantikan Asman. Menurut Sahroni, sebagai perwira tinggi Polri, Syafruddin adalah sosok yang bersih.

Politikus Partai NasDem ini menilai pengalaman sebagai wakapolri yang memiliki peran mengatur sumber daya manusia di institusi Polri merupakan salah satu gambaran jelas prestasi Syafruddin.

Karena itu, Sahroni berharap dan yakin Syafruddin mampu meneruskan pekerjaan yang belum terselesaikan oleh Asman terkait reformasi birokrasi khususnya di lingkungan aparatur negara.

“Syafruddin sosok yang bersih dan berpengalaman mengatur institusi besar dengan jabatannya sebagai Wakapolri,” kata Sahroni, Rabu (15/8).

Menurut Sahroni, dengan pengetahuannya di bidang hukum, Syafruddin akan mampu menjadikan para PNS menjadi lebih bersih, khususnya dari kasus korupsi. “Jangan lagi ada PNS yang terlibat kasus korupsi. Reformasi birokrasi akan berjalan lebih baik,” jelas Sahroni.

Lebih lanjut, Sahroni juga mengaku sudah mendengar kabar bahwa Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Aziz yang akan mengganti Syafruddin sebagai wakapolri. Menurut Sahroni, sosok Idham terbilang mumpuni.

Dia menyatakan ketegasan yang dimiliki oleh Idham akan diteruskan ketika menjabat sebagai wakapolri. Idham harus mampu meneruskan pekerjaan baik yang sudah dilakukan oleh Syafruddin.

Sahroni berpesan agar Polri di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Idham Azis sebagai wakapolri nantinya mampu memberikan keamanan kepada negara, khususnya dari terorisme. Polri juga harus mampu membuktikan sebagai pengayom dan pelindung masyarakat dengan tak adanya permainan kasus serta memberikan pelayanan yang baik sesuai moto profesional modern terpercaya (promoter).

“Kapolri dan Wakapolri berlatar belakang Densus 88. Ini menjadi gambaran kesiapan Polri dalam pemberantasan teroris. Di satu sisi Polri juga harus terus menjaga kepercayaan masyarakat dengan membuktikan pelayanan yang baik secara promoter,” pesan pria kelahiran Tanjung Priok 8 Agustus 1977 ini.(jpnn)

 


div>