RABU , 19 DESEMBER 2018

Sainte Lague Ancam Kursi Parpol

Reporter:

Lukman

Editor:

Rabu , 08 Agustus 2018 13:00
Sainte Lague Ancam Kursi Parpol

int

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 dipastikan menggunakan metode Sainte Lague dalam penghitungan perolehan jumlah kursi.

Penggunaan metode ini sempat menuai pro dan kontra, karena dianggap hanya menguntungkan partai besar. Meski begitu, beberapa pihak menganggap, kerja keras adalah faktor utama.

Sistem pemilihan tersebut, dianggap lebih baik dibanding pada Pemilu lalu, karena suara partai diutamakan lebih awal setelah itu baru ke Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) yang memiliki suara terbanyak.

“Sainte Lague ini memang berbeda, namun pada prinsipnya hampir sama. Namun yang bebedakan sebelumnya harga kursi lebih mahal,” kata juru Bicara DPW NasDem Sulsel, M Rajab.

Dirinya menyebutkan jika dengan sistem ini, partai-partai yang memiliki suara lebih banyak bisa mendapatkan dua kursi. Bahkan Wakil Ketua Komisi E DPRD Sulsel ini menyebutkan, Pilkada sebelumnya ada partai memiliki suara terbanyak, akan tetapi Bacalegnya dikalahkan oleh partai lain.

“Ada kasus partai mendapatkan 55 ribu hanya mendapatkan satu kursi, dan ada hanya mendapatkan 15 ribu suara dan itu satu kursi saja dan ini sangat jauh dari keseimbangan,” ucapnya.

Rajab juga menyebutkan partai yang memiliki suara melampaui batas, bisa mendapatkan dua kursi di Daerah Pemilihan tersebut. “Partai yang mendapatkan suara tertinggi satu dapil, peluang dapat dua kursi dan ini bagus membangun keseimbangan,” tuturnya.

Rajab menurutkan jika saat ini NasDem sudah siap untuk mengikuti metode perhitungan Sainte Lague. Dengan alasan saat ini kader partai Surya Paloh tersebut dinominasi tokoh-tokoh berpengaruh di daerah mereka.

Seperti saja Dapil 9 DPRD Sulsel, Meliputi Kabupaten Pinrang, Sidrap dan Enrekang. NasDem memiliki kader yang berpotensi Diantaranya calon incumbent Syaharuddin Alrif, mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Sulsel, Abdul Latief yang mendapatkan perolehan suara begitu tinggi disaat Pilkada Pinrang lalu, Faisal Tahir Syarkawi (Ketua NasDem Pinrang) hingga putra Muslimin Bando, Furqan Muslimin Bando.

“Beberapa daerah bisa memenangkan persaingan itu, dan kita bisa menang bisa mendapatkan dua kursi,” tuturnya.

Saat ini DPW NasDem telah mesosialisasikan bahwa perhitungan saat ini sangat berrbeda ketimbang pada Pileg 2014 lalu. Sehingga dibutuhkan kerja keras agar partai bisa mendapatkan suara tertinggi.

“Kita sudah sampaikan ini, namun setelah penetapan DCT kita akan melakukan pemantapan agar mereka bekerja keras,” jelasnya.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrat Sulawesi, Selle KS Dalle mengatakan jika pada perhitungan lama ada beberapa partai yang merasa dirugikan, namun pada Pilkada kali ini seluruh suara sangat bernilai untuk semua kader terkhusus yang memiliki suara banyak.

“Setiap suara rakyat ada amanah. Jika sistem yang lama itu tidak menghargai suara masing-masing orang,” kata Selle KS Dalle.

Selle juga menyebutkan dengan sistem ini, kader partai akan bekerja keras, pasalnya partai pemenang didapil bisa meraih lebih dari satu kursi. “Ini suatu penyemangat bagi kader-kader parpol untuk bekerja meraih suara sebanyak-banyak sehingga peluang untuk mendapatkan kursi lebih dari satu terbuka lebar,” jelasnya.

Juru bicara Gerindra Sulsel, Syawaluddin Arief mengatakan, pihaknya siap menjalankan metode Sainte Lague. Menurut dia, Gerindra tak mempersoalkan untung atau rugi bagi parpol lama atau pun baru. Juga parpol kecil atau besar.

“Kami siap jalankan, tidak menguntungkan partai tertentu dan tidak merugikan partai yang lain tapi adalah pemikiran yang cerdas untuk bangsa Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan, metode Sainte Lague adalah produk KPU yang tertuang dalam PKPU yang dibuat dan diputuskan secara bersama dengan perhitungan dan pertimbangan yang matang. “Semua partai harus tunduk dan patuh dengan PKPU dan undang-undang yang ada,” jelasnya.

Sekretaris DPD PDIP Sulsel, Rudi Pieter Goni berpendapat semua sistem ada plus minusnya. Secara nasional, kata dia, sistem ini menjaga keadilan dalam pembagian kursi tentunya. “Kami melihatnya sebagai cambuk untuk lebih kerja keras. Karena dengan sistem ini diyakini suara rakyat lebih kongkrit,” singkatnya.

Komisioner KPU Sulsel Bidang SDM, Faisal Amir mengatakan, jika pemilu sebelumnya menggunakan metode Kuota Hare (Largest Remainder), maka Pemilu 2019 akan menggunakan metode Sainte Lague.

Metode ini, kata dia, membagi suara partai politik di setiap daerah pemilihan dengan angka ganjil. “Misalnya, 1, 3, 5, 7, 9 dan 11. Setelah itu tentukanlah perolehan kursi dari partai yang tertinggi suaranya,” katanya. (*)


div>