RABU , 19 SEPTEMBER 2018

Salah Urus : Salah Prediksi, Salah Kalkulasi Hingga Terancam Merugi

Reporter:

Editor:

Iskanto

Sabtu , 15 September 2018 11:24
Salah Urus : Salah Prediksi, Salah Kalkulasi Hingga Terancam Merugi

Direktur Linkacipta Daya Komunika dan Direktur Yayasan Bina Insan Bangsa Munadi Arfa

Beberapa hari lalu Pemerintah seperti kelabakan membendung arus fakta terkait kenaikan nilai tukar USD. Beragam argumentasi dilontarkan bahwasanya kondisi itu adalah efek global dan bangsa kita tak perlu terlalu terpengaruh dengan kondisi global tersebut.

Seabreg alasan yang jadi pembenaran dengan dukungan teori-teori ekonomi serta kalkukasi sajian data yang pada dasarnya seperti sajian makanan restoran (yang diusahakan kelihatan baik dan menarik selera) untuk dikonsumsi.

Pemerintah pun turut terbebani mengklarifikasi wacana ekonomi ala 1998 yang dihembuskan pihak tertentu. Pemerintah menyatakan bahwa kondisi ekonomi hari ini jauh berbeda dengan 98 lalu.

Saya turut membenarkan klarifikasi tersebut karena memang durasi waktu fluktuatif dan akar masalah penyebab fluktuasinya pun berbeda. Namun, perlu diketahui memang di 98 itu terasa sekali kepentingan politik turut terlibat sehingga Presiden terpaksa turun tahta akibat desakan politik.

Hal inilah yang berbeda dengan saat ini. Ketika hari ini pemerintah menyatakan bahwa kondisi fluktuasi ekonomi ini dipengaruhi oleh arus global. Maka dengan segala keterbatasan pengetahuan, saya menyatakan bahwa yang namanya ekonomi global fluktuasix berlangsung terus-menerus.

Dan itulah kondisi dinamisnya. Hanya, mengapa kemudian hari ini kita terdampak pada kondisi fluktuasi tersebut, adalah dikarenakan pemerintah kita sibuk melakukan investasi pembangunan jangka panjang tanpa memperhatikan kondisi keuangan negara dan perekonomian bangsa.

Fokus pemerintah yang lebih memprioritaskan infrastruktur menyebabkan anggaran teralokasi mayoritas dalam sektor tersebut. Sementara dalam kefokusannya di sektor infrastruktur, Pemerintah seperti luput dalam menangani perekonomian dalam negeri. Sektor-sektor ekonomi yang secara langsung dibutuhkan dalam keseharian kehidupan masyarakat ternyata lebih banyak merupakan import atau bahkan produksinya dari korporasi perusahaan luar.

Sebuah kondisi yang tentu mengkhawatirkan kelangsungan ekonomi bangsa.
Di sela kesibukan beberapa hari ini, saya kembali tertegun menyikapi sikap pemerintah yang secara gamblang berusaha terus melakukan proses intervensi atas fluktuasi USD yang melanda Rupiah kita. Cadangan devisa pun terus terkuras.

Dari salah satu pemberitaan salah satu pejabat tinggi sektor finansial dengan gamblang menyatakan bahwa kekhawatiran kita terhadap kondisi keuangan untuk kondisi sekarang terlalu berlebihan, “stabilitas nilai tukar rupiah masih di batas kewajaran, kecuali jika nilai tukarnya telah mencapai 20.000,- maka baru kita akan merasa khawatir,” tuturnya.

Secara pribadi, saya menyatakan bahwa pernyataan tersebut seperti sebuah bahasa paling blunder yang potensial menggiring perekonomian kita di ambang batas kekhawatiran sebenarnya. Nilai batasan yang disebut tersebut, boleh jadi akan segera terjadi, jika pemerintah tak segera melakukan upaya intervensi kebijakan terhadap fluktasi kondisi ekonomi global yang mempengaruhi nilai tukar rupiah kita terhadap USD.

Dan yang sejatinya juga perlu kita pahami bersama bahwa, yang pemerintah bisa gunakan dalam waktu cepat untuk mengintervensi kondisi fluktuasi keuangan global yang tentunya menyerempet semua sektor keuangan dan perekonomian adalah cadangan devisa negara kita.

Pertanyaannya kemudian adalah, sampai batasan dimana cadangan devisa kita bertahan di tengah gempuran effect dari kondisi global itu?,

Sepatutnya pemerintah sejak setahun lalu, benar-benar melakukan analisa secara mendalam terkait penerapan kebijakan sektorial pembangunan dalam kaitannya dengan fluktuasi ekonomi global. Ini menjadi hal yang penting, sebab selama ini, pemerintah sepertinya terus menggalakkan pelaksanaan program2 yang diyakininya benar.

Dan sebagian dari program tersebut, merupakan program yang balik modalnya dalam kurun waktu yang lama dengan modal bersumber dari kemitraan dan utang luar negeri.

Sebuah ironi atas kondisi yang harus dipikul oleh keseluruhan warga negara. Dan masyarakat golongan ekonomi lemah tentunya sangat merasakan dampak dari kejadian ini.

 

#catatan jelang siang di sudut jalan.

Oleh : Direktur Linkacipta Daya Komunika dan Direktur Yayasan Bina Insan Bangsa, Munadi Arfa


div>