MINGGU , 20 JANUARI 2019

Saling Sikut Berebut Suara, Parpol Siapkan Zonasi

Reporter:

Iskanto

Editor:

Suryadi Maswatu - Fahrullah

Senin , 19 November 2018 08:15
Saling Sikut Berebut Suara, Parpol Siapkan Zonasi

Ilustrasi (ist)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Saling sikut berebut suara tidak bisa dihindari. Tidak hanya Calon Anggota Legislatif (Caleg) lintas partai, tetapi juga sesama caleg di internal partai.

Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sulsel, Rudi Pieter Goni, tidak membantah hal tersebut. Bahkan, kondisi serupa sudah dialami beberapa kader partai besutan Megawati Soekarno Putri ini.

Karena itu, Rudi menekankan, kepentingan partai di atas segala-galanya. Kader PDIP telah diperintahkan untuk meningkatkan kerjasama, solid, dan menjaga kekompakan.

“Caleg PDIP harus mengedepankan strategi gotong royong, sebagai manifestasi ideologi partai dalam perjuangan memenangkan Pemilu Legislatif (Pileg) maupun Pemilihan Presiden. Dengan pemetaan politik tentunya, serta memperhatikan dan melihat gambaran hasil survei,” jelas Rudi, Minggu (18/11).

Ia menilai, setiap caleg punya latar belakang dan kekuatan yang berbeda. Namun, setiap kader diharamkan untuk menggarap lumbung sesama caleg PDIP. “Setiap dapil dalam satu partai di PDIP adalah kawan seperjuangan dan beda partai adalah mitra,” imbuhnya.

Dihubungi terpisah, Ketua Komisi Pemenangan Pemilu (KPP) Partai Demokrat Sulsel, Selle KS Dalle, menuturkan, dalam masa kampanye yang sangat panjang ini, seluruh caleg bisa melakukan pendekatan lebih dekat kepada konstituen mereka. Untuk Caleg Demokrat, pihaknya tidak terlalu mengatur soal caleg sesama partai berebut suara di tempat yang sama.

“Tidak perlu diatur itu. Masing-masing orang tau, dimana basis potensial yang bisa dia datangi dan yang mana yang harus saling memberikan kesempatan. Kalau soal persaingan di lapangan, itu biasa dan tidak bisa dihindari,” tuturnya.

Yang perlu dihindari, kata Selle, caleg harus berhati-hati dalam melakukan kampanye. Jangan sampai membuat pelanggaran yang bisa berujung diskualifikasi hingga penjara.

“Jangan sampai melanggar. Aturan teknis kampanye sangat berbeda pada periode sebelumnya. Dan kita selalu ingatkan caleg dan timnya, jangan sampai melanggar dan paling fatal jika berujung pidana,” ujarnya.

Selle meminta kepada seluruh kader partai berlambang mercy ini agar kiranya bekerja sehat dan membuka diri, walau mereka memiliki strategi masing-masing yang tidak bisa diketahui secara keseluruhan, sesama internal partai.

Sementara, Sekretaris DPD I Golkar Sulsel, Abdillah Natsir, mengatakan, sistem sosialisasi yang diberikan kepada Caleg Golkar sudah jelas. Dimana, saat kampanye atau sosialisasi sesama kader di dapil yang sama, agar tidak tumpang tindih karena sudah ada pembagian waktu.

“Saya pikir kalau sesama kader internal tidak ada gesekan, karena sudah dibekali teknis sosialisasi. Dengan caleg parpol lain pun begitu, saling mengerti,” ujarnya.

Caleg DPR RI ini menjelaskan, pada masa orientasi, teknis lapangan dan pendekatan dengan pemilih juga sudah disampaikan kepada semua Caleg Golkar. Sehingga, mereka sudah memahami dan menerapkannya saat turun ke masyarakat.

Ketua DPD I Golkar Sulsel, Nurdin Halid, juga telah mengimbau kepada Caleg Golkar agar menghindari cekcok di lapangan. Baik sesama caleg internal maupun eksternal.
Nurdin juga mengingatkan kader Golkar agar tidak tandem dengan caleg partai lain. Meskipun itu adalah keluarga dekatnya. “Biarkan dia jalan. Jangan ingin bersama caleg lain meskipun keluarga,” tegasnya.

Sekretaris DPW NasDem Sulsel, Syahruddin Alrif, juga meyakini jika Caleg NasDem dengan kemampuan dan pengalamannya, akan menghindari konflik atau gesekan jika bertemu caleg lain di lapangan saat kampanye. Apalagi, mereka telah dibekali oleh DPP bagaimana meraup suara pada Pileg yang akan berlangsung pada April 2019 mendatang.

“Persaingan perebutan kursi di semua tingkatan semakin sengit dan ketat. Tetapi, semua caleg yang kami usung memiliki kapasitas dan kapabilitas,” imbuhnya.

Menanggapi kondisi tersebut, Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto, menilai, rivalitas caleg di internal partai memang sulit dihindari dalam sistem pemilihan popular vote. Kecuali, badan pemenangan pemilu mengaturnya dengan baik.

“Rivalitas caleg di internal partai memang sulit dihindari dalam sistem pemilihan popular vote. Tetapi, kalau konsolidasi organisasi partai politik berjalan baik, terutama Bappilu partai bekerja optimal, maka ritme persaingan internal itu bisa di atur,” terangnya.

Faktanya, secara umum partai politik lebih dikuasai segelintir elite pengurus, yang hanya memprioritaskan diri dan kelompoknya di Pileg 2019. Sementara caleg lain yang bukan berasal dari kelompoknya, hanya diposisikan sebagai vote getter (pencari suara) untuk caleg tertentu. “Akibatnya, persaingan yang terjadi bukan untuk peningkatan suara partai,” tuturnya.

Ia menambahkan, sistem zonasi hanya akan efektif kalau ada perlakuan sama terhadap semua caleg. Jika partai politik tidak melakukan konsolidasi dengan baik, maka pemetaan atau zonasi dukungan akan selalu diskriminatif dan hanya menguntungkan elite tertentu di partai politik. (*)


div>