RABU , 22 AGUSTUS 2018

SAMPAH

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Sabtu , 02 April 2016 09:00
SAMPAH

Haidar Majid

RUMAH saya di Maccini, adanya di pojok lorong, di pinggir jalan raya. Setiap pagi, tatkala membuka pintu rumah, saya selalu saja terkesima, takjub dan entah apa lagi. Depan rumah saya yang semalam bersih, sudah ‘dihiasi’ beberapa kantong plastik yang diikat dan diletakkan begitu saja. Kalau saja kantong itu berisi batu permata atau batangan logam mulia, tentu saya akan tersenyum sumringah, girang dan mungkin histeris.

Karena saya tak sumringah, tak girang dan tak histeris, melainkan terkesima dan takjub, tentu sudah bisa ditebak kalau kantong itu bukanlah berisi batu permata atau logam mulia. Pastilah isi kantong itu bukan sesuatu yang menggembirakan atau sesuatu yang diharapkan. Kantong plastik itu ternyata berisi sampah, sesuatu yang tidak pantas diletakkan di depan rumah orang lain, dengan alasan apapun.

Kalaulah misalnya, si pembuang sampah itu berasumsi bahwa karena rumah saya adanya di poros jalan, sehingga dengan cara meletakkan di depan rumah saya, akan memudahkan armada pengangkut sampah menemukannya, itu juga tidak bisa menjadi alasan pembenaran, kenapa tidak menunggu saja armada pengangkut sampah lewat. Toh waktu-waktunya sudah jelas.

Atau jangan-jangan mereka berfikir, “ero’ na baku'”, atau “biarkan saja”, “assala teai ballakku rantasa, assala teai ballakku a’rasa”, “asal bukan rumah saya yang kotor, asal bukan rumah saya yang bau busuk”. Jika pemikiran mereka sudah sampai di tahap seperti ini, tentu kita sedang menghadapi sebuah ‘peringatan’ dalam konstruksi bermasyarakat.

Kalimat “ero’ na baku”, “assala tea i nakke”, menunjukkan sikap ego yang tak terkendali, “peduli amat”, “emang gue pikirin”, semacam sikap yang mencerminkan betapa kita sedang mengalami “krisis” hidup bermasyarakat yang selama ini mengedepankan rasa saling menghargai dalam bingkai kebersamaan.

Bayangkan, ketika sesuatu itu belum menjadi “sampah”, betapa pemiliknya sangat girang menikmatinya. Apakah itu makanan atau benda. Sama sekali tak ada keinginan untuk berbagi, apalagi menyerahkannya ke orang lain. Bendanya disimpan dengan rapih, ditata dengan apik di dalam rumah. Makanannya, disajikan dengan penuh selera dan dikonsumsi dengan penuh gairah.

[NEXT-RASUL]

Setelah wujudnya berubah menjadi “sampah”, perlakuan pun jadi berubah. Dulunya, benda itu diletakkan di dalam rumah, sekarang berupaya mencari tempat di luar rumah untuk dijadikan penampungan. Dulunya, makanan dinikmati dan disantap, sekarang berusaha agar ‘ampasnya’ tak lagi mampir di dapur atau di dalam rumah. Segera harus di buang, dimana saja, termasuk di depan rumah orang.

Sampah dalam kadar yang lebih luas, sebenarnya tidak saja dimaknai sebagai sampah. Perlakuan kita kepada sampah, bisa juga dijadikan sebagai alat takar “hubungan sosial” kita. Apakah kita memperlakukan sampah dengan baik, apakah kita tidak membiarkan orang lain tercemari oleh produksi sampah kita dan apakah sampah kita tidak mendatangkan mudharat bagi orang lain. Kira-kira seperti itu ‘parameter’ kita terhadap sampah.

Membiarkan orang lain ‘menghirup’ bau sampah kita atau membuat mata orang lain jadi jijik karena sampah kita, sebenarnya sama saja dengan memberi ruang kepada orang lain untuk “mencibir” kita atau secara tidak sengaja dan secara tidak sadar, kita sedang mengundang orang untuk memaki kita. Alasannya sederhana, tiada seorang pun dari kita yang dengan senang hati atau sukarela, mau mencium atau melihat sesuatu yang busuk, terutama jika itu di depan mata atau di depan hidung.

Tak heran jika suatu ketika ada orang yang melakukan hal serupa kepada kita. Pastilah akan mengundang reaksi. Marah, benci dan tidak terima diperlakukan seperti itu. Reaksi seperti ini terbilang ‘manusiawi’ karena sekali lagi yang namanya busuk atau bau busuk, adalah sesuatu yang sering kita hindari, bahkan secara ekstrim, sangat kita hindari.

Jika seperti itu psikologinya atau seperti itu “rasa” yang bisa hadir di diri seseorang, masihkah kita mau meletakkan sampah kita di tempat yang tak pantas? Masihkah kita doyan berkata “ero’ na baku, assala teai nakke?”, masihkah kita dengan leluasa membiarkan hidung orang lain menghirup bau sampah kita dan membuat mata mereka terbelalak karena jijik? Entahlah. (*)


Tag
  • voxpopuli
  •  
    div>