SELASA , 23 OKTOBER 2018

Sang Pelita Zaman

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 13 Desember 2016 09:39
Sang Pelita Zaman

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Dalam penanggalan Hijriyah, umat Islam seringkali mengaitkan bulan Rabiul Awal sebagai peringatan lahirnya seorang tokoh dunia  yakni Muhammad saw. sang pencerah zaman. Sekiranya Muhammad saw tidak diutus, maka dunia ini tidak mungkin tercipta. Dunia menjadi gelap karena penghuninya tidak mengenal kebenaran, masing-masing orang, kelompok ingin saja menguasai bahkan memusnahkan orang dan kelompok lain karena mereka tidak mengenal keadilan dan kasih sayang terhadap sesama manusia.

Entah sudah berapa lama umat Islam memperingati maulid nabi, dari waktu ke waktu dan dari generasi ke generasi. Namun, yang dibutuhkan bukan sekedar peringatan yang bersifat upacara-upacara seremonial, dan kegiatan ini tidaklah dimaksudkan untuk “mengkultuskan” pribadi nabi. Melainkan menjadikannya sebagai uswatun hasanah (teladan yang baik), dan reformis sejati dalam membangun peradaban umat manusia. Di tengah-tengah masyarakat yang paganis (penyembah berhala), ia mengajarkan untuk menegakkan tauhid. Ketika akhlak dan moral menjadi sesuatu yang asing dan terabaikan dalam kehidupan masyarakat, ia datang untuk menyempurnakan akhlak dan budi pekerti manusia.

Setiap tahun masyarakat Islam memperingati maulid nabi dan hari-hari besar Islam, tidak terbilang untuk yang ke berapa kalinya. Namun kenyataannya umat Islam hingga hari ini tetap jalan di tempat. Kalau Muhammad saw bersabda: “Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi daripadanya”, realitas berkata sebaliknya yang banyak miskin umat Islam, yang banyak bodoh umat Islam, yang terbelakang umat Islam. Apakah kemudian kita meragukan hadis nabi tersebut? Ataukah kita kemudian berkata bahwa yang salah bukan Islam, tapi kesalahan itu terletak pada pemahaman umat Islam terhadap ajaran agamanya.

Argumen seperti ini tidak tepat, sama halnya ketika kita ingin mengetahui mujarabnya satu jenis obat yang senantiasa di iklankan di televisi, tidak mudah kita percaya sebelum membuktikannya sendiri. Demikian halnya dengan ajaran agama, harus tergambar dalam praktik kehidupan umatnya. Tidak boleh ada kesenjangan antara ajaran agama dengan praktik kehidupan penganutnya. Kalau hal ini terjadi, maka agama akan ditinggalkan oleh penganutnya karena tidak berdaya terhadap gempuran pengaruh perubahan zaman yang mengitarinya.

Duhai Rasulullah junjungan kami, perjalanan hidupmu bertabur kemuliaan, perjuanganmu senantiasa diliputi penderitaan, engkau tidak pernah mengeluh. Kelaparan seringkali hadir dalam hidupmu, tapi engkau pantang untuk meminta. Peluang untuk berkuasa dan hidup senang terhampar dihadapanmu, tapi engkau memilih hidup sederhana. Kecintaan terhadap umatmu melebihi kecintaan kami kepadamu. Hingga di saat menjelang ajal menjemputmu, engkau masih memikirkan umatmu sembari berucap: ummati, ummati, ummati !. Maafkan kami bila kecintaan kami kepadamu tidak sebanding dengan kecintaanmu kepada umatmu.

Allah yang menguasai semesta alam saja senantiasa bersalawat kepadamu, namun kami bersalawat tidak terlepas dari kepentingan untuk keselamatan kami sendiri, dan hal itupun kami lakukan hanya sedikit termasuk dalam memperingati kelahiranmu yang bersalawat hanyalah penceramah. Negeri kami adalah negeri yang mayoritas penduduk muslimnya di dunia, organisasi keagamaannya sangat banyak dari tingkat pusat hingga ke daerah-daerah, kami memiliki ulama, cendekiawan, politisi, hartawan, budayawan. Kegiatan keagamaan pun sangat ramai baik di tingkat pusat maupun di pelosok desa, namun demikian kami belum memiliki kesediaan, keberanian dan kerelaan untuk bersungguh-sungguh mengikuti jejakmu.

Komitmen kami pun mengatakan bahwa kami ridha Allah adalah Tuhan kami, Islam adalah agama kami, Muhammad adalah Junjungan kami, dan Alquran adalah imam kami. Namun maafkan kami bila komitmen seperti ini baru sebatas pernyataan, karena seringkali kami lebih memilih uang, jabatan, popularitas, kekuasaan dan kesenangan hidup daripada mengikuti sunah-sunahmu sebagai suri teladan. (*)


div>