SENIN , 24 SEPTEMBER 2018

Sang Penguasa Arabia

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 03 Maret 2017 10:11
Sang Penguasa Arabia

Arifuddin Saeni

BETAPA menariknya apa yang ditulis oleh H.C Armstrong dalam bukunya, Lord of Arabia Ibn Saud, sebuah kisah nyata yang ditulis dengan lugas. Bagaimana seseorang yang pernah memiliki kekuasaan yang cukup besar, kemudian menjadi terbuang dari Riyadh dan hidup dalam kemiskinan di Kuwait, tinggal di rumah bertingkat satu dengan tiga kamar. Kerap kali dia meminjam uang hanya karena keluarga besar mereka kekurangan makanan dan pakaian.

Tapi Abdur Rahman, ayah yang akan menurunkan keturunan penguasa Arab Saudi, adalah orang yang sangat puritan. Islam baginya adalah harga yang tidak bisa ditawar lagi. Tak heran kalau dia menjadi imamnya para Wahabi, yang jauh dari pergulatan duniawi.

Siapa sangka kalau kemudian anaknya, Ibn Saud, menjadi keturunan pertama yang mampu persatukan hampir semua suku-suku yang ada di jazirah Arab, dan menguasai kota suci Makkah, setelah mendepak keluar sang penguasa yang lalim, Kareem.

Merengkuh kekuasaan bukanlah sesuatu yang gampang, ia bukan hanya mengucurkan darah, tapi juga butuh kesetiaan, tapi kesetiaan dan pertemanan di sebuah gurun yang tandus seperti Arab Saudi,  kadang bukan sesuatu yang mutlak, toh ia bisa berubah.

Itu yang disadari oleh Ibn Saud, ketika dia mencoba mempersatukan orang-orang gurun. Baduwi, baginya adalah suku yang tidak bisa diatur. Selain suka berkhianat, dia juga gampang menelikung. Dalam keadaan  perang pun, suku ini dengan gampangnya beralih.

Tapi Ibn Saud, sungguh setia dengan janji. Pemimpin dengan perawakan badan yang cukup besar dan tegap ini, tak suka dengan pengkhianat. Dia akan menjawabnya dengan pedang.

Lalu di jaman mana tak ada pengkhianat dan orang yang tak setia. Bukankah dia memang dilahirkan dari rasa tak puas dan pecemburu. Ia bukan hanya pandai mengadudomba, tapi juga begitu lihai menyembunyikan seringainya. Dan ketegasan memang harus dilakukan. “Aku sangat membenci pengkhianat, apalagi membunuh. Saya akan selesaikan dengan pedang ini, demi keadilan,” ujar Ibn Saud.

Karena itu, ketika dia memasuki negeri Hijaz, Ibn Saud, tak jumawa. Dia memasuki kota suci Makkah dengan segala kesederhanaannya. Dia disambut sebagai penguasa yang baru dengan segala perubahan yang dibawahnya.

Dan kini keturunannya, Raja Salman bin Abdulazis Al Saud, mampu memperlihatkan kepada rakyat Indonesia, akan kecintaannya kepada agamanya, Islam. Itiqlal dan Kiswahnya, menjadi pertanda untuk itu. (***)


div>