RABU , 12 DESEMBER 2018

Satelit NOAA untuk Tangkap Perambah dan Pembakar Hutan

Reporter:

Editor:

hur

Minggu , 13 September 2015 12:22

MALILI, RAKYATSULSEL.COM – Pencurian kayu oleh perambah hutan di wilayah hutan lindung dan pembakaran hutan lindung terjadi di kabupaten Luwu Timur, terjadi semakin meluas saat ini.

Olehnya itu, Bupati Luwu Timur Irman Yasin Limpo memerintahkan tim Manggala Agni untuk mengungkap pelakunya. Untuk mempermudah pemantauan, None, sapaan akrab Irman Yasin Limpo meminta agar Manggala Agni menggunakan satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration).

Menurut None, rekaman dari satelit NOAA adalah satu-satunya alat yang dapat menangkap pelaku pengrusakan kawasan hutan yang ada di Luwu timur.

Melalui satelit tersebut, dapat direkam gambar dan suara sampai dengan jarak 15 meter. Berdasarkan hasil rekaman itu nantinya bisa menjadi alat bukti untuk meringkus pelaku pengrusakan hutan.

“Bisa ya dimintakan hasil rekamannya. Kalau bisa, setiap lima belas detik, supaya kita tahu pelaku – pelakunya,” ujar None.

Dia menjelaskan bahwa saat ini, alat elektronik semakin canggih. Alat perekam tersebut, sudah banyak digunakan untuk mengungkap kasus di Indonesia. “Jadi pasti kita dapatkan pelakunya. Kalau perlu, secara detail pelakunya kita tahu dan bisa kita lihat secara Langusng, termasuk pembicaraanny,” terang None

Sementara itu, Sakiruddin, Kepala Manggala Agni mengatakan, pihaknya siap menyurat kepada Kementerian Kehutanan untuk meminta hasil rekaman yang diminta Bupati Lutim. “Siap, secepatnya saya akan menyurat ke Kementerian Kehutanan untuk mendapatkan rekaman gambarnya,” ujar Sakiruddin.

Lebih lanjut dia mengatakan, dari hasil pemantauan Manggala Agni, titik hotspot di Lutim ada empat titik api yang terlihat. Selanjutnya, 99 persen kasus kebakaran hutan yang terjadi di Lutim disebabkan karena ulah manusia.

Bukan hanya itu, jelas Sakiruddin, kasus uty diperparah oleh kondisi cuaca, di mana Lutim sudah memasuki musim kering. Saat ini, suhu di Lutim mencapai 33 derajat celsius, dengan kelembaban udara hanya 30 persen, dan kecepatan angin mencapai 3 km perjam, sementara curah hujan 0 persen, sehingga sangat mudah memicu terjadinya kebakaran.

“Seharusnya kelembaban di atas 70 persen untuk bisa mengurangi kebakarannya,” tutup Sakiruddin.


div>