SABTU , 18 AGUSTUS 2018

Satpol PP Maros Tertibkan PKL

Reporter:

Iqbal

Editor:

asharabdullah

Kamis , 09 Agustus 2018 22:30
Satpol PP Maros Tertibkan PKL

int

MAROS, RAKYATSULSEL.COM – Aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Maros tertibkan puluhan pedagang kaki lima yang menjual buah-buahan di sepanjang pinggiran jalan poros Makassar-Maros, Kamis (09/08/2018).

Penertiban ini dilakukan karena hampir semua pedagang kaki lima ini menggunakan bahu jalan dan trotoar, serta dianggap selalu menimbulkan kemacetan panjang pada waktu-waktu tertentu. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Penegak Perda Satpol PP Maros, Jamaluddin.

“Mereka kami tertibkan, karena memang mereka sudah membangun kios dan lapaknya itu menggunakan bahu jalan dan trotoar. Padahal itu sama sekali tidak bisa digunakan untuk menjual. Karena itu diperuntukkan bagi pejalan kaki. Selain itu, kondisi itu juga membuat kemacetan, karena pembeli terpaksa memarkir kendaraannya di pinggir jalan, apalagi saat-saat jam pulang kerja, kemacetannya bisa lebih parah,” tuturnya, Kamis (09/08).

Jamaluddin menambahkan, penggunaan bahu jalan dan trotoar untuk berjualan dianggap melanggar Perda nomor 6 Tahun 2006 tentang penetiban PKL. Dalam Perda itu disebutkan, bagi pemilik kios dan lapak yang melanggar aturan, dan mendirikan bangunan di atas trotoar dan bahu jalan, akan dituntut 3 bulan kurungan penjara dan denda sejumlah 50 juta rupiah.

“Hal ini melanggar perda nomor 6 tahun 2006 tentang penertiban PKL, dan bagi yang melanggar itu ada sanksi berupa kurungan penjara selama 3 bulan dan denda 50 Juta,” tegasnya.

Lebih lanjut, Jamaluddin mengatakan jika saat ini pihaknya sementara melakukan sosialisasi kepada PKL, karena sudah beberapa kali diberitahukan dan ditertibkan.

“Saat ini kami baru memberikan sosialisasi dulu dan berikan pemahaman kepada pemilik kios. Karena sudah beberapa kali kami memberitahukan dan menertibkan. Namun hanya selang beberapa bulan lagi, mereka kembali mengeluarkan dagangannya ke trotoar,” ungkapnya.

Sementara itu salah seorang pedagang buah, Dewi menambahkan, pihaknya mengeluarkan dagangannya karena dia hanya meniru apa yang dilakukan pedagang lain.

“Saya kasih maju jualan saya, karena pedagang lain juga begitu. Nanti jualan saya tidak terlihat kalau jualan saya mundur ke belakang. Kalau memang ingin ditertibkan semuanya harus ditertibkan. Saya bersedia mundur, kalau memang kami diminta mundur, tapi yang lain juga harus mundur,” jelasnya. (*)


div>