SABTU , 15 DESEMBER 2018

Satu Keluarga Penyandang Disabilitas di Maros Butuh Uluran Tangan

Reporter:

Editor:

Lukman

Senin , 26 Februari 2018 19:10
Satu Keluarga Penyandang Disabilitas di Maros Butuh Uluran Tangan

Kondisi keluarga penyandang disabilitas yang tinggal di Dusun Tala-tala desa Bonto Manai, Kec Tompobulu.

MAROS, RAKYATSULSEL.COM – Penderitaan Daeng Halim (37) harusnya menjadi perhatian kita semua. Ia adalah seorang ayah yang mengalami keterbelakangan mental dan harus menghidupi tiga anaknya yang merupakan penyandang disabilitas.

Anak pertamanya, Liana (17) pernah mengalami lumpuh layu sejak kecil dan hingga kini kondisinya belum normal. Anak keduanya, Feri (14) juga mengalami lumpu layu dan gizi buruk, hingga kini ia masih saja terbaring di rumahnya, sementara anak bungsunya Ali (6) juga merupakan penyandang disabilitas (Autis).

Selain anaknya, Istri Daeng Halim, Mantang (34) juga merupakan penyandang disabilitas Low Vision (Tuna Netra).

Keluarga yang tinggal di Dusun Tala-tala desa Bonto Manai, Kec Tompobulu, Maros ini mengaku tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Ia hanya menghidupi anaknya dengan pekerjaan kesehariannya sebagai petani penggarap.

Salah seorang tokoh masyarakat, Muhammad Salman Sunu saat mengunjungi kediaman Daeng Halim di Tala-tala menjelaskan jika kondisi ekonomilah yang melatar belakangi kondisi yang dialami oleh Daeng Halim dan keluarganya.

Salman mengatakan jika pendapatan sebagai petani penggarap memang tidak bisa mencukupi biaya hidup mereka.

“Kondisi ini telah ia alami bertahun-tahun, ia tinggal jauh di pelosok dan terisolir, sehingga ia luput dari perhatian, kami menemukan keluarga ini setelah melakukan survey bersama tim HWDI (Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia) dan AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) dari situlah akhirnya kita melakukan pendampingan secara aktif, untuk saat ini sudah ada dari pihak kesehatan yang ikut bersama kami mendampingi,” ujar Salman yang juga pengurus AMAN Maros.

Selain menjadi penyandang Disabilitas, tiga anak Daeng Halim juga tidak pernah mengecam bangku sekolah.

“Jarak dari rumahnya ke sekolah juga sangat jauh, sehingga tidak ada anaknya yang masuk sekolah, Daeng Halim dan istrinya juga tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Di Tala-tala rumahnya itu hanya berdempetan dengan rumah Neneknya yang juga sebatang kara, tidak ada rumah penduduk lain,” ujar Salman.

Salman melanjutkan jika keluarga Daeng Halim saat ini sedang membutuhkan uluran tangan dari sejumlah pihak, ia pun berharap pemerintah juga bisa peduli dan tanggap terhadap kondisi ini.

“Kita berharap ada uluran tangan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah semoga bisa peka terhadap kondisi sosial seperti ini,” tutupnya. (*)


div>