KAMIS , 19 JULI 2018

SEJARAH BEDA PENDAPAT DALAM ISLAM

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 12 Februari 2016 11:49
SEJARAH BEDA PENDAPAT DALAM ISLAM

int

Sejarah sebagai Ilmu Perubahan

Sejarah adalah ilmu perubahan. Jika tidak berubah bukanlah sejarah. Ilmu sejarah mengajarkan tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Ilmu sejarah juga mengajarkan bahwa tidak ada kejadian tiba-tiba, setiap perubahan pasti ada faktor penyebabnya. Perubahan itulah yang dipelajari sejarah dengan meneliti faktor penyebabnya.

Perubahan terjadi disebabkan dua hal, yaitu karena perbedaan time and spice. Semakin lama rentang waktu yang ditetapkan untuk melihat perubahan itu akan semakin banyak perubahan yang ditemukan. Lihat saja kejadian di awal kemerdekaan sudah jauh berbeda dengan kondisi sosial umat masa kini.

Perbedaan di Masa Nabi

Tradisi beda pendapat lahir bersamaan dengan kelahiran Islam. Perbedaan di masa Nabi segera bisa diselesaikan mengingat kebijakan, wibawa, dan otoritas Nabi dalam menyelesaikan sebuah persoalan agama. Satu di antara persoalan adalah perbedaan para sahabat dalam menyikapi perintah Nabi.

Ketika selesai Perang Khandaq, Nabi dapat informasi, telah terjadi pengkhianatan di Bani Quraizah. Nabi segera menginstruksikan kepada para sahabatnya segera berangkat ke Bani Quraizah, ketika itu sudah hampir menjelang waktu Asar. Nabi mengintruksikan agar para sahabat salat Asar di Bani Quraizah.

Janganlah salah seorang di antara kalian salat Asar, kecuali di Bani Quzaizah (HR Bukhari)

Ternyata, waktu Asar sudah hampir habis dan segera masuk waktu Magrib, padahal para sahabat belum juga sampai di Bani Quraizah. Terjadi perdebatan di antara para sahabat. Sebagian sahabat berpendapat dengan mengartikan sabda Nabi di atas secara kontekstual, maka sebaiknya salat Asar segera dilakukan walaupun belum sampai ke Bani Quraizah. Makna sabda Nabi tersebut, dimaksudkan agar perjalanan dipercepat. Sebagian sahabat yang lain tetap berpegang pada pesan Nabi secara tekstual agar melaksanakan salat Asar ketika telah sampai di Bani Quraizah, walaupun waktu Asar sudah berlalu.

Setelah perbedaan itu sampai pada Nabi, perbedaan dapat dicegah sehingga tidak meningkat ke perpecahan berkat kehadiran Nabi Muhammad sebagai pemberi keputusan. Lebih-lebih keputusan yang diberikan beliau adalah keputusan bijak dengan tidak menyalahkan salah satu dari kedua pihak.

[NEXT-RASUL]

Perbedaan di Masa Sahabat

Segera setelah Nabi meninggal dunia para sahabat berbeda pendapat dalam hal siapa pengganti Nabi sebagai khalifah atau pemimpin masyarakat. Puncak perbedaan itu terjadi pada dua khalifah terakhir dari Khulafa al-Rasyidin. Di masa kedua khalifah pertama, Abu Bakar al-Siddiq dan Umar ibn Khattab, perbedaan itu tidak berujung pada perpecahan, karena ketegasan kedua khalifah tersebut.

Faktor Terjadinya Perbedaan dalam Agama

1.Tabiat Agama

Allah menurunkan al-Qur’an bukan saja dalam bentuk muhkamat, sebagian mutasyabihat; qatiyat dan zanniyat; Sarih (jelas) dan mu’awwal (interpretable). Bahagian-bahagian mutasyabihat, zanniyat, dan mu’awwal inilah yang memberikan ruang kepada para ulama untuk melakukan ijtihad yang bisa menghasilkan perbedaan pendapat. Menurut al-Qardawiy, perbedaan bersifat fitrah yang merupakan sunnatullah. Orang yang menginginkan agar semua manusia sama dalam pemikiran dan agama berarti ia telah menginginkan sesuatu yang impossible atau meminjam pendapat al-Qardawi, “Mereka telah menginginkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi dalam realitas,” (annahum yuriduna mala yumkin wuqu’uhu).

2.Tabiat Bahasa

Al-Qur’an dan hadis Nabi terdapat lafaz musytarak yang memiliki lebih dari satu arti. Ada pula mengandung arti sebenarnya (haqiqih) dan ada arti kiasan (majaz); ada lafaz ‘amm dan khas. Sebagai contoh, dalam QS al-Ma’idah (5): 6,

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kemabali dari tempat buang air (toilet) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammunlah dengan tanah yang baik (bersih), sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

Terdapat perbedaan interpretasi pada ayat tersebut: Apakah huruf  “ila” pada ayat, “ila al-marafiq” dan ila al-ka’baiyn,” berarti “sampai dengan” atau “sampai?” Apakah huruf “ba” pada bi ruusikum berarti “seluruh” atau “sebagian.” Apa yang dimaksud dengan “auw la mastum al-nisa’?” Apakah sentuhan kulit atau hubungan seksual, seperti pendapat Ibn Abbas? Apa yang dimaksud dengan “tanah” yang dipakai dalam bertayammun. Apakah “debu” ataukah benda-benda sejenis lainnya. Apa yang dimaksud “fa lam tajidu maaan?” apakah tidak ada air sama sekali atau ada air tetapi hanya cukup untuk minum atau memasak. Apa yang dimaksud dengan (wujuh) muka?

Para ulama memberi komentar, “Baru satu ayat saja telah menimbulkan beberapa pemahaman dan penafsiran yang berbeda-beda yang semuanya bersumber dari faktor bahasa.”

3. Tabiat Manusia

Allah menciptakan manusia beraneka ragam: kepribadian, pemikiran, dan tabiat. Sebagaimana setiap orang berbeda bentuk wajahnya, tekanan suaranya, dan sidik jarinya. Demikian pula, pola pemikirannya, kecenderungannya, dan pandangannya terhadap sesuatu.

Perbedaan yang demikian itu disebut ikhtilaf tanawwu’ (perbedaan yang bersifat variatif) yang merupakan sumber “kekayaan” bahkan menjadi salah satu ayat Allah yang menunjukkan keagungan-Nya. Dalam QS al-Rum (30): 22, Allah berfirman:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.

Kecenderungan manusia yang berbeda-beda itu diekspresikan dalam bentuk pemahaman terhadap teks-teks al-Qur’an dan hadis Nabi. Contoh antara Abu Bakar dan Umar tentang salat witir,

Dari Jabir ibn Abdullah, sesungguhnya Rasulullah saw. bertanya pada Abu Bakar, “Kapan engkau salat witir?” Abu Bakar menjawab, “Di awal malam setelah salat Isa.” Selanjutnya, Nabi betanya pada Umar dengan pertanyaan yang sama. Umar menjawab, “Di akhir malam.” Nabi kemudian bersabda, “Adapun engkau Ya Abu Bakar telah mengambil posisi yakin, Dan engkau ya Umar telah mengambil posisi kuat.” (HR Ahmad)

[NEXT-RASUL]

Perbedaan dalam Sejarah

Seperti dikemukakan bahwa perbedaan terjadi disebabkan karena perbedaan waktu dan tempat. Umar ibn Abdul Aziz yang juga dikenal sebagai Umar II, berbeda dalam menetapkan hukum ketika di Madinah dan di Irak. Ketika Umar menjadi gubernur Madinah, ia memutuskan perkara untuk seorang penggugat dengan menghadirkan hanya seorang saksi, jika si penggugat mau bersumpah. Sumpah yang dilakukan penggugat dipandang sebagai saksi kedua. Menurutnya, kejujuran masih dapat dipertahankan di Madinah. Akan tetapi, setelah Umar menjadi khalifah di Damaskus ia tetap memerlukan dua orang saksi, karena ia melihat masyarakat Madinah berbeda dengan masyarakat Syam yang terdiri atas para pedagang yang materialistik, sehingga kurang bisa dipercaya dibanding dengan masyarakat Madinah. Kehadiran dua orang saksi didasarkan pada QS al-Baqarah (2): 282 tentang kesaksian dalam masalah muamalah, yaitu:

Dan persaksikanlah dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya.

Qaulul Qadim dan Qaulul Jadid

Imam Syafii, murid paling cerdas Imam Malik, ketika beliau tinggal di Madinah yang lebih banyak mengandalkan hadis. Namun, ketika ke Iraq, beliau belajar kepada murid-murid Imam Abu Hanifah yang lebih mengandalkan qias. Maka mazhab fikih yang beliau kembangkan di Iraq adalah perpaduan antara dua kekuatan tersebut. Semua keistimewaan mazhab Malik di Madinah dipadukan dengan keunikan mazhab Hanafiyah di Iraq.

Imam Syafii tidak puas dengan ilmu yang dipelajarinya, ia melakukan diaspora dari barat hingga timur, dari utara hingga selatan. Seluruh hidupnya dicurahkan menuntut ilmu. Setelah tinggal di Iraq beberapa lama, Imam Syafi’i pindah ke Mesir, beliau menemukan banyak hal baru yang belum pernah ditemukannya selama ini. Baik tambahan jumlah hadis atau pun logika fikih. Di sanalah, beliau melakukan revisi ulang atas pendapat-pendapatnya sesuai perkembangan ilmu dan informasi yang beliau dapatkan di Mesir, sehingga terkumpul menjadi semacam kumpulan fatwa baru. Kemudian orang-orang menyebutnya dengan istilah qaul jadid. Artinya, pendapat yang baru. Sedangkan yang di Iraq disebut dengan qaul qadim. Artinya, pendapat yang lama. Dalam kaidah usul fikih disebutkan, “Perubahan hukum disebabkan karena perubahan waktu dan tempat.”

Perbedaan sebagai Rahmat

Umar ibn Aziz berkata, “Sungguh tidak menggembirakan bagiku seandainya para sahabat Nabi saw. tidak meninggalkan perbedaan pendapat. Seandainya mereka tidak berbeda, maka kami tidak mendapatkan keluasan (memilih pendapat yang lebih sesuai dengan kondisi kami). Para ulama mazhab pun membolehkan untuk memilih pendapat yang lebih sesuai dengan kondisi sosial yang sedang berkembang, tanpa mewajibkan untuk mengikuti pendapatnya. Di bawah ini dikutip pandangan Imam Malik, “Setiap orang bisa diterima pendapatnya bisa juga ditolak, kecuali Nabi saw.”

Bersatu dalam Akidah dan Toleransi dalam Furuiyah

Perbedaan pendapat adalah sebuah keniscayaan bahkan al-Qardawi menegaskan, “Jika ada orang yang menginginkan hanya satu pendapat saja, maka ia telah memimpikan sesuatu yang tidak mungkin terjadi dalam realitas.” Kesadaran bahwa beda pendapat dalam hal masalah furuiyah khalafiyah telah terjadi sejak masa Nabi dan berlangsung sampai sekarang, maka IMMIM sebagai sebuah organisasi kemasjidan melahirkan motto, “Bersatu dalam akidah dan toleransi dalam Furuiyah-Khilafiyah.” Motto itu dimaksudkan untuk memelihara keseimbangan antara kebolehan beda pendapat dalam masalah furu atau khilafiah dan keperluan bersatu dalam masalah akidah atau masalah usuliyah dalam Islam. Penjabaran dari masalah usuliyah dapat disimpulkan dalam hadis yang disampaikan Jibril kepada Nabi Muhammad saw. tentang arkanul Islam dan arkanul iman. Kebolehan beda pendapat dalam masalah furu dan larangan berpecah belah dan atau berbeda dalam masalah usul.

Akhirnya tulisan ini saya tutup dengan sebuah puisi:

KEBINNEKAAN SUNATULLAH


Al-Qur’an berisi ribuan ayat
Bukan hanya ayat muhkamat-qatiyat
Juga ayat mutasyabihat zanniyat
Memungkinkan ulama beda pendapat
Al-Qur’an berarti firman Allah
Allah-lah menghendaki kebinnekaan pendapat
Andai Allah menghendaki seragam tunggal ika
Dia hanya menurunkan ayat muhkamat

Kebinnekaan bertujuan saling memahami
Sharing kelebihan dalam ber-fastabiqul khaerat
Kesemrawutan justru akan terjadi
Jika semua ditunggalikakan
Polisi pun akan kebingunan
Membedakan penjahat dan orang baik
Dunia akan pudar keindahannya
Akibat semua seragam warnanya
Kebinnekaan tanda kuasa Tuhan


Tag
div>