SELASA , 17 JULI 2018

Sejarah Es Batu dan Bir di Indonesia

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Minggu , 07 Februari 2016 01:05
Sejarah Es Batu dan Bir di Indonesia

int

RAKYATSULSEL.COM – ES batu pernah jadi menu istimewa di zaman kolonial. Lazim dipasangkan dengan minuman beralkohol, terutama bir.

Berdasarkan laporan Departement van Financien, ribuan gulden masuk ke kas pemerintah Hindia Belanda dari cukai minuman beralkohol.

Jenis minuman yang beredar mulai dari Jonker Capero, Heineken’s Bier, Haantjes Bier, Pittig Hollandsch Pils, bir pahit Belanda cap ayam hingga Koentji Bier yang merek sebenarnya Beck’s Beer, bir buatan Jerman.

“Bir-bir tersebut biasanya disajikan dengan aijer batoe alias es batu,” tulis Achmad Sunjayadi, dalam artikel Kuliner dalam Pariwisata Kolonial di Hindia Belanda, termuat dalam Titik Balik Historiografi di Indonesia.

“Tentunya bir dingin tersebut mampu membasahkan kerongkongan sekaligus menghilangkan dahaga para turis yang kelelahan setelah berpelesir di udara panas,” sambungnya.

Pesona Es Batu
Batu es menjadi barang mewah ketika itu lantaran masih langka. Ia didatangkan dari luar negeri.

[NEXT-RASUL]

Pada pertengahan abad ke 19, menurut Sunjayadi, kapal-kapal yang datang dari Amerika Utara membawa berbalok-balok es ke beberapa pelabuhan di Nusantara.

Satu di antara pelanggan tetapnya, pengelola Hotel de Provence (leluhur Hotel Des Indies, ikon Batavia tempo doeloe. Kini jadi pusat perbelanjaan Duta Merlin di Jl. Gajahmada, Jakarta).

“Es memang menjadi salah satu sajian andalan Hotel de Provence,” papar Sunjayadi.

Dikisahkan, Etienne seorang juru masak Hotel de Provence, mengimpor es dari luar Hindia, terutama Amerika Utara karena di Batavia belum ada es.

Bahkan mereka menjadikan es batu sebagai menu andalan.

Tengok saja iklan di Javanesche Courant, edisi 22 Desember 1846 berikut ini:

Hari Kamis mendatang beberapa musisi akan memainkan musik di Salon de Glaces. Hotel de Provence. Berbagai macam es akan disediakan sepanjang malam.

Nah, batu es baru dibuat di Batavia (Jakarta) pada akhir 1880, setelah teknologi pembuatan amoniak yang ditemukan di Eropa, sebagai bahan pembuat es diimport ke Jawa.

[NEXT-RASUL]

Mulanya, sebagaimana dikisahkan F. Schulze dalam Guide of West Java (1894), pabrik es dimiliki oleh orang Eropa.

Di Batavia ada satu di Molenvliet, sekitar Gambir dan satunya lagi di wilayah Petojo. Selanjutnya, dengan cepat pengusaha Tionghoa mengambil alih usaha ini.

Nasib Minuman Tradisional
Seiring tingginya keuntungan yang diraup dari cukai impor minuman beralkohol, rupanya pemerintah Hindia Belanda membentuk Alcoholbestrijdings-commisie (komisi pemberantasan alkohol) pada 1918.

“Sasaran utamanya adalah minuman keras tradisional yang populer di kalangan masyarakat pribumi, seperti arak, badeg dan ciu,” ungkap Sunjayadi.

Menurut polisi kolonial, jenis minuman beralkohol itu termasuk minuman gelap tak berizin. (jpnn)


div>