SELASA , 12 DESEMBER 2017

Sekilas Tentang Glodok, Kawasan Favorit Daendels

Reporter:

Editor:

Sofyan Basri

Selasa , 10 Oktober 2017 21:19
Sekilas Tentang Glodok, Kawasan Favorit Daendels

int

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Keberadaan kawasan Pasar Glodok, Jakarta, tak lepas dari masyarakat Tionghoa. Sejak pemerintahan Hindia Belanda, kawasan Pasar Glodok merupakan permukiman masyarakat Tionghoa yang diasingkan pada masa pemberontakan.

Di sejumlah titik pemusatan penduduk Tionghoa, penjajah mengizinkan mereka untuk mendirikan pusat perdagangan. Setelah itu, terbentuklah sejumlah pasar di Jakarta seperti Pasar Senen, Pasar Tanah Abang, termasuk Pasar Glodok.

”Pasar Glodok terbentuk karena ada konsentrasi penduduk Tionghoa di sana sekitar 1740-an. Secara sosiologis, masyarakat Tionghoa sejak awal adalah bakat-bakat pedagang sehingga waktu itu mereka diperbolehkan melakukan perdagangan oleh pihak penjajah,” ujar sejarawan sekaligus founder Komunitas Historia Indonesia Asep Kambali sebagaimana dilansir Jawa Pos, Senin (9/10).

Seiring perkembangan Kota Batavia, di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon (JP) Coen, peradaban masyarakat Tionghoa di Glodok semakin maju. Glodok menjadi perkampungan ramai dan pusat perdagangan daerah pinggiran.

Sebagai kawasan pusat perdagangan, daya tarik Glodok mengundang banyak perhatian warga sekitar untuk datang ke kawasan tersebut.

Hingga JP Coen lengser pada 1811 dan digantikan Gubenur Jenderal VOC yang baru, Daendels, kawasan Glodok tetap maju.

Ketertarikan Daendels terhadap Glodok dibuktikan dengan dibangunnya jalan dari kota lama menuju kota baru di kawasan Gambir. Jalan itu melintas kawasan Glodok. Kini, jalan itu dikenal dengan nama Jalan Gajah Mada.


div>