SABTU , 15 DESEMBER 2018

Selamat dari Hempasan Gelombang Tsunami

Reporter:

Editor:

Iskanto

Rabu , 10 Oktober 2018 08:20
Selamat dari Hempasan Gelombang Tsunami

int

Jumat, 28 September 2018 menjadi hari yang kelam bagi rakyat Palu, dan Dongala, Sulawesi Tengah (Sulteng).
Pada hari itu, gempa berkekuatan magnitudo 7,4 skala richter diikuti gelombang tsunami meluluhlantahkan Palu dan Donggala hingga menewaskan dua ribu lebih orang.

Di balik berita duka bencana itu, banyak kisah dramatis perjuangan untuk tetap hidup di tengah terjangan gelombang besar tsunami dan kerasnya gempa bumi. Salah satunya dikisahkan Usman. Warga Parepare yang berdomisili di Donggala, Provinsi Sulteng.

Pria kelahiran Parepare 1 Maret 1988 ini memilih mengungsi di kampung halaman. Kepada awak media, Usman menceritakan kisah dramatis yang dilaluinya. Ia mengaku, sebelum gempa dan tsunami, Usman yang berprofesi sebagai nelayan itu tengah memperbaiki kapal ikan miliknya di tepi laut Donggala, tempat dia mengais rezeki.

Saat asyik bekerja, gempa bumi pun terjadi. Tiga kali berturut-turut, seakan menjadi alarm akan datangnya tsunami besar. Usman pun kaget, seraya menghentikan pekerjaannya. Dia mulai berlari ketakutan, namun naas tsunami datang menghempaskan tubuh kecil pria berkulit legam ini.

“Saya lari dan terus berlari, berusaha menjauhi kejaran air laut, tapi apa boleh buat, saya dibawa arus ke tengah laut,” cerita Usman ditemani tiga orang anaknya, didampingi Ketua LMP Parepare H Syamsul Latanro, dan Pembina Pare Jeef, Muhammad Amir, Senin, (8/10/2018) malam.

Doa tak henti-hentinya dia panjatkan, meski sekujur tubuhnya sudah mulai kaku kedinginan. Dia pasrah, menyerahkan hidup kepada Sang Pencipta. Kunfayakun, doa Usman terkabul. Sekira 30 menit terombang-ambing dalam hempasan tsunami, Usman melihat sebuah jerigen terapung di sampingnya.

“Saya ambil itu jerigen, itumi saya jadikan pelampung selama sehari semalam di tengah laut,” ujar Usman, melanjutkan kisahnya.

Setelah mendapat pertolongan dari Tim SAR, Usman berlari menuju ke tempat tinggalnya. Dilihatnya rumah miliknya sudah rata dengan tanah. Dia kembali terisak karena mengira Istri dan anak-anaknya telah tewas akibat bencana itu.

“Setelah selamat, saya langsung ke rumah cari istri dan anak-anak, tapi ya Allah rumah saya sudah rubuh, matimi kodong istri dan anak-anakku,” pikir Usman.

Beruntung, Usman mendengar informasi dari tetangganya jika anak dan istrinya kini di tempat pengungsian yang aman. “Alhamdulillah kami sekeluarga selamat. Namun sampai sekarang saya trauma lihat laut, itumi juga saya pilih pulang kampung ke Parepare,” ucapnya.

Kini Usman dan istrinya, Rezki Anisa tinggal bersama keluarganya di Kelurahan Sumpang Minangae, Parepare.
Sementara, Ketua Laskar Merah Putih (LMP) dan Komunitas Pare Jeef, H Syamsul Latanro yang mendampingi korban, mengatakan, sebelumnya pihaknya telah mengagendakan berangkat ke Kota Palu dan Donggala untuk menjemput Usman, bersama warga Parepare lain.

“Kami sudah rapat persiapan untuk berangkat ke Palu, namun kami dapat informasi kalau Pak Usman dan keluarganya dalam perjalanan pulang ke Parepare,” kata H Syamsul Latanro, Ketua LMP dan Pare Jeef ini.

Kendati demikian, pihaknya terus memerhatikan kondisi kesehatan korban, termasuk kebutuhan pokoknya.

“Kami siapkan dua orang dokter dan dua perawat yang selalu memantau kondisi kesehatan korban. Kita juga kunjungi tempat pengungsiannya, dan memberikan bantuan logistik yang rencananya mau dibawa ke Palu waktu itu,” lugasnya. (*)

Laporan: Rahmaniar


div>