SENIN , 20 AGUSTUS 2018

Selamat Jalan Alfaidil, Al Fatiha

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Sabtu , 16 April 2016 07:00
Selamat Jalan Alfaidil, Al Fatiha

Haidar Majid

BELUM lagi kering duka kita, belum lagi tamat cerita kita, belum lagi reda keterkejutan kita atas kematian Alif, seorang bayi usia 13 bulan, beberapa waktu yang lalu, yang mati secara tak wajar di tangan ibunya, meski belakangan diketahui bahwa pelakunya tak lain adalah ayah tirinya; hari ini, mata bathin kita kembali tersayat-tersayat, membaca berita, seorang anak bayi usia 5 bulan, bernama Alfaidil, tewas karena perlakuan kasar dari ayah kandungnya.

Alif meregang nyawa setelah lehernya dicekik dan buah zakarnya di remas sampai pecah. Itu dilakukan oleh ibunya atau ayah tirinya, lantaran kesal karena Alif tak mau berhenti menangis. Sungguh sebuah alasan yang sangat tidak bisa dinalar oleh akal sehat. Bukankah anak seusia Alif memang ‘kerjaan’ utamanya adalah menangis karena menangis adalah satu-satunya alat untuk menyampaikan pesan kepada orang tuanya, tatkala dia sedang kepanasan, lapar atau mungkin popoknya lagi basah atau penuh.

Lain lagi dengan kisah kematian Alfaidil yang juga amat sangat tragis dan memilukan. Alfaidil menghembuskan nafas terakhir setelah mendapat perlakuan kasar dan tidak berperikemanusiaan dari ayah kandungnya sendiri. Alfaidil ditendang oleh ayahnya yang sedang mabuk. Naudzubillah summa Naudzubillah, bagaimana mungkin seorang ayah bisa menendang anak usia 5 bulan, yang tidak lain darah dagingnya sendiri?

Kepergian Alif dan Alfaidil menambah  panjang daftar kekerasan terhadap anak yang berujung maut. Masih segar diingatan kita, bagaimana tragisnya kematian Mutiara Rumi tahun lalu, seorang anak usia 12 tahun, murid kelas V SD, yang juga tewas di tangan ayah kandungnya setelah tangan dan lehernya dipukul dengan sapu dan batang kayu, hanya karena persoalan sepele, Mutiara minta dibelikan buku dan baju lebaran.

Setali tiga uang, ayah kandung Alfaidil dan Mutiara menjadi eksekutor kematian anak kandungnya. Alfaidil yang baru berusia 5 bulan tewas karena tendangan dan Mutiara yang berusia 12 tahun tewas setelah mendapat pukulan tanpa ampun di bagian tangan dan lehernya. Baik ayah Alfaidil maupun ayah Mutiara, keduanya tega melakukan itu semua dalam keadaan mabuk atau dibawah pengaruh alkohol.

Jika mengamati berbagai macam tindak kekerasan, baik itu yang terjadi di dalam rumah tangga atau di jalan-jalan atau perang antar kelompok, kelihatannya kita hampir tiba pada kesimpulan bahwa semua itu bermula dari minuman keras atau obat-obat terlarang yang berpengaruh signifikan terhadap perubahan perilaku seseorang, cenderung bisa berbuat apa saja, nekat, menganiaya bahkan sampai membunuh, tanpa sempat berfikir efek atau dampak yang bisa ditimbulkan, baik itu untuk dirinya sendiri, apalagi orang lain. Seperti apa yang dilakukan oleh Ayah Mutiara dan Alfaidil.

[NEXT-RASUL]

Masalah ekonomi juga seringkali menjadi salah satu alasan penyebab, tetapi di banyak contoh lain, alasan ini akan sulit mendapatkan pembenarannya. Ada orang yang hidupnya amat sangat pas-pasan, ‘senin-kamis’, tapi toh kasih sayang kepada anaknya melebihi cara mencurahkan kasih sayang dari orang yang hidup berkecukupan. Merawat, membesarkan dan menyekolahkan anaknya, sampai kemudian sang anak menjadi orang yang “berhasil”. Sebaliknya, mereka yang berkecukupan, tidak jarang mengalami hal yang sebaliknya. Anak mereka ‘terlantar’,¬† terjerembab ke jurang kenakalan, putus sekolah dan menjadi biang kerusakan moral.

Kembali ke soal minuman keras dan obat-obat terlarang tadi, yang dianggap sebagai sebab utama terjadinya banyak tindak kekerasan, terutama dengan melihat peristiwa yang dialami oleh Alfaidil dan Mutiara, maka tentu tak ada tawar menawar lagi, menghilangkan peredaran minuman keras dan obat-obat terlarang, sudah sangat mendesak. Kedua barang haram ini telah terbukti menjadi pemicu utama terjadinya banyak tindak kekerasan.

Selain itu, menjadi penting untuk memberikan pemahaman yang cukup kepada setiap pasangan hidup yang akan melangsungkan pernikahan, tentang hak dan kewajiban seorang suami-istri. Begitu pula dengan tanggungjawab yang harus diemban jika keduanya suatu saat kelak memperoleh kesempatan memiliki anak. Anak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik di dunia, terutama di akhirat kelak.

Apakah proses pemberian pemahaman tersebut dimulai dari masing-masing keluarga calon pasangan suami-istri atau diserahkan kepada para penghulu atau mereka yang berkompeten untuk “menikahkan”, saya kira itu masalah teknis. Satu yang pasti, bahwa sebaiknya pernikahan itu hanya bisa dilakukan jika keduanya telah dianggap memiliki pemahaman yang cukup tentang apa arti keluarga dan apa arti eksistensi seorang anak.

Kepergian Alfaidil tentu menyisakan duka yang amat dalam. Anak usia 5 bulan yang sedang lucu-lucunya, pergi untuk selama-lamanya dengan cara yang amat tragis. Kejadian seperti ini tidak bisa terulang lagi. Kejadian seperti ini harus berhenti sampai disini. Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa ternyata potensi kekerasan itu ada dimana saja dan bisa menimpa siapa saja. Selamat jalan Alfaidil, semoga kasih sayang yang tak kau temukan di dunia ini, sepenuhnya kau dapatkan di alam sana. Al Fatiha. (*)


div>