SELASA , 21 AGUSTUS 2018

Seru! Polhut Lutim Kejar-kejaran Dengan Perambah Hutan

Reporter:

Editor:

hur

Kamis , 03 September 2015 15:13
Seru! Polhut Lutim Kejar-kejaran Dengan Perambah Hutan

Anggota Polhut Lutim saat melakukan operasi pengawasan di kawasan hutan lindung Larona dan taman Wisata Alam Towuti. (Dedi/Rakyat Sulsel)

MALILI, RAKYAT SULSEL.COM – Maraknya penebangan liar yang dilakukan secara ilegal oleh Perambah Hutan, telah memaksa pihak Kepolisian Kehutanan (Polhut) Kabupaten Luwu Timur (Lutim), untuk melakukan operasi pengawasan rutin.

Hasil dari operasi rutin tersebut, Polhut menangkap basah pelaku perambah hutan yang melakukan penebangan liar di area Hutan Lindung dan hutan Wisata, di desa Mahalona, Kecamatan Towuti. Bahkan polisi dipaksa kejar-kejaran dengan pelaku yang melarikan diri saat dipergoki melakukan aksinya.

Anggota Polhut Lutim, Thomas Agustinus, mengatakan, operasi dilakukan karena ada banyak laporan dari masyarakat tentang adanya perambahan hutan lindung secara liar.
Dalam operasi yang baru saja dilakukan, anggota Polhut memergoki 5 orang pelaku yang melakukan perambahan hutan di Kawasan hutan Lindung. “Kelima orang itu melakukan perambahan hutan secara liar, 3 di antaranya melarikan diri, sehingga kami harus melakukan kejar-kejaran dengan mereka,” ungkap Thomas Kamis ( 3/9).

Dalam operasi tersebut, Polhut mengamankan sejumlah barang bukti berupa puluhan kubik kayu, alat penebangan (Sainsaw), satu unit mobil hardtop yang sudah dimodifikasi untuk mengakut sejumlah kayu dan alat-alat perlengkapan lainnya.

Menurut Thomas, perambahan hutan sering terjadi di kawasan hutan lindung Larona dan taman Wisata Alam di Towuti. “Kami selalu melakukan penyisiran di dua kawasan tersebut, dan seringkali menangkap basah pelaku yang sedang melakukan penebangan kayu,” jelasnya.

Area kedua kawasan hutan Lindung Larona dan taman wisata alam Towuti memang sangat strategis bag pelaku penebangan liar untuk melakukan aksinya. Karena kawasan tersebut dekat dengan sungai atau danau, sehingga mudah mengjangkau tempat pengolahan kayu (sawmill). “Untuk sementara, kedua pelaku telah diamankan di kantor Kehutanan,” kata Thomas seraya menambahkan bahwa kualitas kayu yang tumbuh di daerah itu sangat bagus sehingga memilihi harga yang tinggi.

sementara itu, salah seorang pelaku penebangan liar yang tertangkap, Aldy (16) mengaku, dirinya dan temannya sering melakukan perambahan hutan di kedua area itu. Menurut Aldy, dalam sehari mereka bisa menebang sebanyak 5-10 berdiameter 30 centimeter, untuk selanjutnya dijual ke tempat pengolahan yang ada di Towuti.


div>