RABU , 12 DESEMBER 2018

Setnov Pilih Kasih

Reporter:

get_the_user_login

Editor:

faisalpalapa

Rabu , 14 Desember 2016 14:40
Setnov Pilih Kasih

int

MAKASSAR, REKYATSULSEL.COM –Keperkasaan Partai Golkar di Sulsel tak terlepas dari tangan dingin dan peran mantan Ketua DPD I Golkar Sulsel, Syahrul Yasin Limpo. Bahkan, ketika Golkar mengalami dualisme kepengurusan pada Dewan Pimpinan Pusat (DPP), SYL tetap kukuh menyatukan kedua kubu tersebut di Sulsel.

Namun, kini Syahrul seakan angin berlalu bagi Golkar Sulsel. Era kejayaannya perlahan tapi pasti mulai dilupakan. Bahkan, prestasinya dalam membangun dan mempertahankan prestasi Golkar secara eksekutif sebagai Gubernur dam legislatif di DPRD Sulsel seakan mulai dilupakan.

Terkait hal itu, Pakar Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Adi Suryadi Culla mengatakan pemberian diskresi DPP Partai Golkar kepada Taufan Pawe adalah bentuk ketidakadilan terhadap Syahrul. Menurutnya, mestinya DPP memperlakukan sama setiap kader termasuk dalam meberikan diskresi.

“Saya pikir ini tidak adil, harusnya DPP memegang teguh konsistensinya dalam memperlakukan sama kepada seluruh kader, apalagi kan diskresi itu bersumber dari aturan dalam organisasi Partai Golkar,” terang Adi, Selasa (13/12).

Menurut Adi, bicara soal keadilan dalam politik maka harusnya perlakuan serupa juga berlaku kepada Syahrul. Bahkan Adi menilai, hal ini ada unsur politis, bahkan ini cenderung memperlakukan kader secara berbeda.

“Hal ini menjadi fakta yang menggambarkan bahwa aturan Juklak tersebut ada politisasinya. Karena kan hanya berlaku untuk orang tertentu saja. Artinya diskresi itu menjelaskan kader itu tidak mendapatkan perlakuan yang sama,” terangnya.

Oleh karena itu, Adi mengatakan hal ini justru tidak menguntungkan bagi Syahrul jika dilihat dari sisi penegakan aturan tersebut. Menurutnya, hal itu juga semakin memperjelas adanya inkonsistensi yang ditunjukkan oleh DPP Partai Golkar. “Karena kan seharusnya aturan tersebut berlaku sama pada semua kader,” ucapnya.

Selain itu, Adi juga mengatakan jika ada kaitan antara konsolidasi Partai Golkar dengan proses pesta demokrasi akbar di Sulsel yakni Pilgub 2018 mendatang. Menurutnya, proses konsolidasi internal Golkar itu hanya sekadar pelengkap dalam menatap Pilgub.

“Saya kira hal ini terkait meski tidak secara langsung. Sebenarnya yang terjadi adalah proses organisasi dan konsolidasi internal Golkar hanya pelengkap dalam menatap moment Pilgub, hal itu sulit untuk ditampik karena bisa jadi hal itu adalah cara untuk mengantisipasi arah Golkar dalam menghadapi Pilgub,” jelasnya.
Menurut Adi, secara khususnya kepala daerah adalah salah satu instrumen politik untuk menguatkan posisi Golkar di daerah. Pasalnya, kepala daerah dianggap memiliki basis massa yang jelas.

[NEXT-RASUL]

“Logikanya, partai apa yang dapat kepala daerah maka hal itu akan memperkuat basisnya juga. Karena itu diskresi kepala daerah itu adalah bagian dari proses konsolidasi. Dan konsolidasi itu ada kaitannya dengan Pilgub. Dan saya pikir ini menjadi bagian dari pembacaan dan langkah Golkar dalam menghadapi Pilgub dan Pilkada serentak jilid tiga mendatang,” pungkasnya.

Sementara itu, Konsultan Politik Jaringan Suara Indonesia (JSI), Arif Saleh menilai Syahrul masih menjadi magnet di momentum politik, termasuk di Pilkada serentak dan Pilgub. Menurutnya, arah dukungannya tentu akan memberi pengaruh signifikan.

“Tidak bisa dipungkiri jika sosok Pak Syahrul masih menjadi idola dalam menarik simpati pemilih baik dalam Pilkada maupun Pilgub, apalagi kalau sikap politiknya dilakukan secara terang-terangan,” kata Arif.

Khusus untuk Pilgub 2018 mendatang, memang akan membuat posisi SYL dilematis, terutama jika nantinya pilihannya berbeda dengan keputusan partainya di Golkar. “Kalau itu terjadi, Pak Syahrul bisa saja mengambil posisi aman. Artinya tidak terlalu muncul di permukaan melawan usungan partainya, tapi sikapnya mendukung kandidat lain,” terangnya.

Hanya saja, kata dia, posisi itu nampaknya sulit ditempuh Syahrul. Alasannya, siapapun yang didukung Syahrul, diyakini akan total. Apalagi, dibeberapa momentum atau kegiatan yang dilakukan Golkar di bawah kendali Nurdin Halid, Syahrul cenderung menunjukkan sikap berbeda.

“Itu salah satu indikasi kalau Pak Syahrul tidak lagi bergantung pada Golkar. Jika sampai pilihannya beda lagi dengan Golkar di Pilgub, maka sangat memungkinkan Pak Syahrul menunjukkan perlawanan,” jelasnya.

Selain itu, Arif mengatakan kondisi tersebut diyakini akan membuat soliditas Golkar bakal terbelah. Pasalnya, pengaruh Syahrul disebagian elite dan kader tergolong masih bagus.

[NEXT-RASUL]

“Kemana arah dukungan SYL di pilgub, sedikit banyaknya akan ikut mempengaruhi pilihan sebagian kader Golkar. Tentu ini bisa merugikan usungan Golkar,” jelasnya.

Bukan hanya itu, Arif mengatakan indikasi seperti itu seharusnya diantisipasi elite Golkar. Sebab bila salah menentukan usungan, bisa jadi Golkar Sulsel akan mengalami kekalahan di Pilgub yang akan berpengaruh pada penurunan suara di Pemilu 2019 mendatang.

“Pilihan Golkar saat ini, harus menggenjot konsolidasinya dan merangkul semua kekuatan-kekuatan elitnya. Kalau tidak, Golkar bisa bulan-bulanan di pilgub,” pungkasnya. (ian/D)


Tag
div>