SENIN , 20 NOVEMBER 2017

Setnov Tersangka, Jadi Beban Bagi Nurdin Halid

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Senin , 17 Juli 2017 23:00
Setnov Tersangka, Jadi Beban Bagi Nurdin Halid

Ketua DPD I Golkar Sulsel, Nurdin Halid.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan Ketua DPP Golkar, Setya Novanto sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi KTP Elektronik (e KTP).

Terkait hal tersebut, tentunya Nurdin Halid (NH) sebagai Ketua Harian DPP Golkar diprediksi akan didorong untuk menahkodai Golkar untuk sementara. Selain itu, seperti kita ketahui NH juga merupakan Ketua DPD I Golkar Sulsel dan juga bakal calon Gubernur Sulsel yang berdampingan dengan Aziz Kahar Mudzakkar (AQM).

Olehnya itu, dengan adanya masalah yang diterpa Ketua DPR RI Setya Novanto, otomatis akan menjadi beban kapada Nurdin Halid.

Pakar Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto menuturkan, dengan situasi seperti itu konsenterasi NH akan terpecah.

“Dengan situasi Setnov tersangka, tentu NH sebagai ketua harian akan mengambil alih tanggung jawab kepemimpinan yang lebih besar dalam mengendalikan Partai Golkar,” Luhur, Senin (17/7).

Hal ini tentunya, lanjut Luhur, akan menjadi batu sandungan bagi NH dalam mensosialisasikan diri sebagai bakal calon Gubernur Sulsel. Bukan tanpa alasan, pastinya akan ada tekanan dari DPP Golkar untuk segera mencari Ketua baru Golkar menggantikan Setya Novanto yang kini menjadi tersangka kasus korupsi.

“NH akan menghadapi desakan dan fragmentasi internal dari Faksi yg mendorong Musdalub. Situasi ini bisa membuat NH bisa kehilangan fokus untuk running di Pilgub Sulsel,” bebernya.

[NEXT-RASUL]

Luhur menambahkan, disisi lain, keputusan politik NH akan diuji jika bersedia menggelar Musdalub. Apakah akan memilih menjadi Ketua Umum atau cukup bertahan sebagai bakal calon Gubernur Sulsel.

“Skala kepemimpinan NH yang luas, membuatnya harus mendelegasikan kewenangan kepemimpinan dan membuat tokoh seperti Moh Roem, Kadir Halid atau Abdillah Natsir bisa menjadi strategis posisinya dalam penentuan usungan Golkar di Pilkada 12 Kab/Kota dan Pilgub,” terangnya.

“Kandidat lain tentu bisa mendapat insentif elektoral pada situasi ini. Dengan mulai masuk pada basis-basis suara NH-AQM dan merebut simpati pemilih,” tambah Luhur.


div>