RABU , 18 JULI 2018

Sistem Pelaksanaan PPDB SMA/SMK Dinilai Tak Efektif

Reporter:

Al Amin

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 30 Juni 2018 10:55
Sistem Pelaksanaan PPDB SMA/SMK Dinilai Tak Efektif

Sekelompok warga berjumlah 30an orang dewasa dan beberapa anak kecil mendatangi rujab Gubernur sekira jam 22:15, Jumah (26/6). Mereka adalah orang tua siswa yang kecewa atas PPDB Sulsel. (ist)

*Kurang Sosialisasi, Data Sering Berubah, dan Posko Pengaduan Tidak Efektif

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2018/2019 untuk tingkat Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMA/SMK) tuai berbagai masalah. Masalah ini muncul lantaran adanya komplain dari seluruh perwakilan siswa baru yang mengeluhkan terhadap pelaksanaan PPDB.

Hingga kemarin, puluhan orang tua siswa mendatangi pusat pelayanan pengaduan PPDB yang terletak di kantor dinas pendidikan (Disdik) provinsi Sulsel.

Masalah yang banyak dihadapi oleh orang tua siswa adalah, terjadinya perubahan data hingga malam hari, sementara pengumuman telah ditetapkan pada 28 Juni lalu.

Menanggapi hal itu, Kepala Disdik Sulsel, Irman Yasin Limpo mengatakan hal itu bisa terjadi lantaran pihaknya menerapkan sistem timer. Dijelaskan bahwa sistem timer ini yang sebelumnya akan diumumkan pada 25 Juli lalu terpaksa ditunda hingga tanggal 28 Juni, sehari setelah pilkada serentak.

Selanjutnya sistem timer ini dilanjutkan karena sempat tertunda, maka dampaknya banyak data yang baru masuk di sistem hingga malam hari. Keterlambatan data itu, kata Irman membuat sistem sempat terhenti, kemudian kembali bekerja secara otomatis hingga larut malam.

“Ini baru gelombang satu, sampai kemarin kenapa baru jam 2 kita buka pengumuman, karena waktu kita tunda itu passwordnya sistem timer, kita tutup di jam 2. Dua hari selanjutnya jam 2 lagi baru buka,” kata None, sapaan akrab Irman YL, Jum’at (29/6) kemarin.

“Karena ini kan tiga sekolah, jadi sistem menyesuaikan pilihan siswa, namun yang mendaftar belum masuk semua. Mungkin masih loading. Kita tutup itu tadi malam jam 12 data masuk,” sambungnya.

Salah satu orang tua siswa, Masdir, mengeluhkan anaknya tidak terdaftar di pilihan pertama pada sekolah yang didaftarkannya, padahal skor yang dimiliki anaknya cukup tinggi, yakni mencapai 433.

Masdir mendaftarkan anaknya di SMAN 2 Makassar sebagai pilihan pertama, sementara kuota siswa yang diterima di SMAN 2 melalui jalur akademik sebanyak 70 orang. Seharusnya Suci berada di urutan 43. Namun di sistem, namanya tidak ada. Di urutan 42 skoring siswa lulus 434. Dibawahnya langsung terinput siswa dengan skoring 432.

Menjawab hal itu, None mengatakan pada umumnya orang tua siswa kurang memahami tentang sistem peringkat nilai yang diterapkan.

“Jadi dimana nilainya tinggi, maka disitu dia ditetapkan. Kan tiga sekolah ini, mereka kaget nama anaknya tidak ada, padahal dia belum cek kalau nilainya lebih tinggi di pilihan ke dua atau ke tiga,” jelas None.

None melanjutkan, bahwa sistem scoring yang dilakukan oleh e-Panrita sebenarnya memudahkan pemilihan sekolah bagi siswa baru, alasannya sistem yang bekerja secara otomatis menempatkan siswa sesuai nilai atau skor yang diraih oleh setiap siswa.

“Ini bukan kayak dulu dimana kalau pilihan pertama diutamakan, tapi pilihannya itu di sekolah mana nilainya paling tinggi maka disitu lah dia terpilih atau lulus,” lanjutnya.

Pelaksanaan PPDB 2018 ini merupakan hal pertama dilakukan secara keseluruhan, namun sejumlah orang tua siswa menganggap sosialisasi PPDB yang berbasis online ini belum sepenuhnya efektif. (*)


div>