SABTU , 26 MEI 2018

Skenario Kotak Kosong Appi – Cicu, Rusak Citra Demokrasi

Reporter:

Iskanto - Armansyah

Editor:

asharabdullah

Rabu , 28 Maret 2018 11:19
Skenario Kotak Kosong Appi – Cicu, Rusak Citra Demokrasi

Ilustrasi. Dok. RakyatSulsel

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Skenario melawan kotak kosong yang disiapkan Munafri Arifuddin – Rachmatika Dewi (Appi – Cicu) di Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Makassar, akan memberikan dampak besar terhadap pemilih, khususnya pendukung Moh Ramdhan “Danny” Pomanto – Indira Mulyasari Paramastuti (DIAmi). Selain adanya upaya perlawanan dengan memenangkan kotak kosong, hal tersebut juga bisa merusak citra demokrasi.

Pakar Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Syahrir Karim, mengatakan,
seandainya terjadi kotak kosong di Pilwalkot Makassar, akan berdampak serius pada psikologi
pemilih. Potensi munculnya perlawanan dan memenangkan kotak kosong itu akan besar.

Apalagi, peluang terjadinya kotak kosong di saat tahapan pilkada sudah masuk masa kampanye. Hal ini tentu sangat merusak citra demokrasi yang seharusnya berjalan dengan baik menjelang pencoblosan.

“Karena kenapa, bahwa kotak kosong di Pilwalkot Makassar ini terjadi di saat tahapan pilkada
berlangsung dan ini memunculkan kesan yang kurang baik di mata publik. Berbeda misalnya di tempat lain, bahwa kotak kosong memang sudah ditetapkan oleh KPU jauh-jauh hari sebelumnya,” terangnya, Selasa (27/3) kemarin.

Danny yang seorang petahana tentunya memiliki pendukung yang besar. Apabila terjadi kotak kosong, maka tidak menutup kemungkinan gerakan memenangkan kotak kosong akan terjadi. Dan kerugian besar bagi negara akan terjadi bila pada akhirnya yang menang adalah kotak kosong.

“Kasus di Makassar bisa jadi akan muncul kesan tidak fair dalam kontestasi. Dan dampak yang paling mungkin adalah gerakan memenangkan kotak kosong. Kalau ini yang terjadi, maka akan muncul kerugian besar,” paparnya.

“Bisa dibayangkan berapa banyak duit rakyat habis untuk membiayai pilwalkot ini. Toh pada akhirnya tidak menghasilkan apa-apa dan mesti menunggu pilkada serentak selanjutnya. Dampak yang lain, potensi gesekan antar pendukung sangat mungkin terjadi,” lanjut Syahrir Karim.

Sementara, Celebes Research Center (CRC) melalui Manager Risetnya, Andi Wahyudin, mengatakan, kotak kosong sangat menciderai pendidikan berdemokrasi yang baik. Masyarakat dipaksa untuk memberikan pilihan yang bukan menjadi keinginannya.

“Kalau kotak kosong tidak ada pilihan, meskipun kotak kosong itu sah secara demokrasi tapi
sebenarnya kurang baik bagi masyarakat. Seharusnya masyarakat disajikan, ibaratnya pilkada inikan ibarat menu, harus disajikan menunya sesuai dengan selera mereka,” terang Wahyu.

Hal-hal seperti ini sangat merugikan masyarakat yang sedari awal telah menentukan sikap dukungan. Dengan terjadinya kotak kosong bisa dipastikan akan ada sikap-sikap penolakan.

“Sehingga masyarakat harus diberikan beberapa pilihan dan kesempatan memilih pemimpin. Kalau kotak kosong begini kan cuma ada pilihan memilih yang ada atau memilih kotak kosongnya,” paparnya.

Terpisah, Ketua Tim Pemenangan DIAmi, Adi Rasyid Ali, mengatakan, pihaknya masih yakin
kemungkinan Appi – Cicu melawan kotak kosong di Pilwalkot Makassar tidak bakalan terjadi.
Apalagi, KPU Makassar telah mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA).

“Saya sampaikan KPU telah melakukan kasasi, dan kita serahkan proses hukum berjalan dan kita akan kawal terus ini sebagai upaya tim mengawal suara rakyat,” kata Adi.

Ia mengatakan, skenario kotak kosong tim Appi – Cicu sudah lama diprediksi bakalan terjadi. “Saya kira langkah-langkah kotak kosong ini menciderai demokrasi. Artinya jangan takut bertarung, jangan mau jadi wali kota tanpa bertarung dan masyarakat Kota Makassar mencatat hal ini,” terangnya. (*)


div>