JUMAT , 16 NOVEMBER 2018

Sosok Sawaluddin Arief, Mantan Aktivis Ulung Pilih Jadi Caleg Makassar

Reporter:

Suryadi Maswatu

Editor:

Iskanto

Kamis , 18 Oktober 2018 11:21
Sosok Sawaluddin Arief, Mantan Aktivis Ulung Pilih Jadi Caleg Makassar

Sawaluddin Arief

MAKAKSSAR, RAKYATSULSEL.COM – Dunia politik memang sangat menggoda. Tidak sedikit mantan aktivis mahasiswa pada zamanya, tergoda untuk bergelut di dunia politik.

Misalnya, Sawaluddin Arief adalah salah seorang politisi Gerindra Sulsel yang kini mencalonkan diri di DPRD Kota Makassar, dapil Biringkaya dan tamalanrea. Ia kini menjabat sebagai Juru Bicara (Jubir) DPD Partai Gerindra Sulsel.

Sawal menceritakan ia menghabiskan masa kecil di Dusun Lanipa Desa Bakti Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu. Di dusun inilah dirinya dilahirkan oleh orang tua dengan latar belakang, ayah seorang Guru SD dan ibu seorang guru mengaji.

Dengan landasan agama, sehingga kehidupan dirinya di masa- masa kecil itu penuh dengan pendidikan agama dan pendidikan formal. Juga karena kedua orang tuanya sama-sama memiliki latar belakang pendidik.

“Pada masa kecil saya habiskan masa kecil disana bersawa, bikir syaur di kebu. Waktu itu juga belum ada teknologi, belum ada televisi. Tidak ada handphone, tidak ada-apa. Yang ada adalah kehidupan seperti layaknya masyarakat desa,” kenang Sawal.

Pria kelahiran tanggal 21 November 1974 itu, sejak kecil tak bermimpi jadi politisi atapun pengusaha. Ia punya mimpi besar ingin menhadi seorang Pilot Pesawat.

Dirinya terinspirasi ketika dahulu kalah, jika bemain-main saat masa kanak-kanak, merdengar bunyi pesawat yang melintasi di atas perkampungan selalu berteriak seakan ikut terbang.

Bagaimana tidak, diceritakan situasi di kampung waktu kecil, belum bersekolah. Jika ada Pesawat lewat semua orang yang ada di desa itu keluar rumah meskipun singkat tetapi terdengar suara gemuruh.

Disaat itulah, Sawal memikirkan bahwa ketahuan pesawat itu dikendalikan oleh seorang yang namanya pailot. Makanya dirinya mau berkeinginan jadi Pailot Pesawat.

“Sebenarnya waktu kecil itu bercita-cita untuk menjadi seorang Pailot Pesawat. Kenapa saya bercita-cita jadi Pilot, di kampung saya waktu kecil itu kita belum bersekolah kalau ada Pesawat lewat semua orang yang ada di desa itu keluar rumah meskipun singkat tetapi suaranya keburu,” tuturnya.

Setelah melewati masa-masa kecil. Ia kemudian masuk di dunia pendidikan, awal Sekolah Dasar (SD) di Kota Palopo, lanjut SMP di Palopo serta tamat SMA di Palopo. Bahkan semasa sekolah penuh prestasi.

Dengan berbekal prestasi yabg ditorehkan. Pria belatar belakang aktivis itu melanjutkan pendidikan tinggi di salah satu kampus ternama di kota Makassar yakni Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, tanpa tes (bebas tes).

Di kampus almamater merah ini tahun 1992, Sawal salah satu peserta terbaik dari berbagai daerah di Sulsel. Ia kemudia memilih jurusan atau Program Studi Sosial Ekonomi Peternakan.

“Saya SD, SMP, SMA, saya selalu juara kelas. Makanya saya satu satunya alumni SMA dari semua daerah bebas tes masuk Unhas, tahun 1992. Jurusan Sosial Ekonomi,” katanya.

Awal duduk di bangku kuliah, karir pertama dinobatkan sebagai ketua umum jalur komando potensi belajar. Dia membawahi seluruh mahasiswa yang ada di Unhas dari seluruh Fakultas yang bebas tes kalah itu.

“Kurang lebih ada 600 mahasiswa yang bebas tes itu, saya menjadi ketua umumnya dari seluruh provinsi seluruh kabupaten di Indonesia Timur, dimulai dari Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Ambon Maluku,” terangnya.

Dengan amanah yang diemban sebagai ketua umum, maka dirinya mulai aktif berorganisasi di Kampus. Kata dia, hampir semua organisasi di geluti, baik intra kampus maupun ekstra kampus.

Organisasi intra Kampus seperti Himpunan, Senat, Maperwa kemudian forum forum diskusi dirinya selalu aktif di kampus sehingga menjadi seorang tokoh aktivis demonstran

Sedangkan organisasi ekstra Kampus, dirinya aktif di HMI, KNPI sebagai wakil ketua, Sekretaris Pemuda Pancasila kota Makasssr. Kemudian organisasi-organisasi olahraga, bahkan pernah menjadi Sekjen persatuan olahraga juga posisi sekretaris bendahara umum Persatuan Bulutangkis PBSI kota Makassar. Dan masih banyak lagi organisasi lain.

Selama aktif di bangku kuliah, sosok Sawal adalah aktivis dan orator ulung, saking semangat berteriak di jalan. Kadang-kadang meninggalkan kuliah hanya untuk turun ke jalan demonstrasi memperjuangkan kebenaran, kejujuran dan keadilan dan hak rakyat.

Dirinya selain aktivisi mahasiswa, dulu ia menjadi sentra memimpin demo di jalan, gedung-gedung saat momentum nasional. Apalagi tahun-tahun di mana sangat luar biasa, 1996, 1997, 1998.

“Tahun 1996, 1997, 1998. Inilah saat-saat momentum pergerakan mahasiswa Indonesia. Saya menjadi tokoh pergerakan saya selalu menjadi pemimpin organisasi aktif memimpin demonstrasi mahasiswa saat itu,” kenang Sawal.

Asam garam di jalan raya menjadi pilihan Sawal, karena dia adalah seorang aktivis handal. Semangat meneguhkan demokrasi dan mewujudkan keadilan sosial masih terus bergelora dalam dirinya.

Berbagai problematika sosial, hingga masalah pemenuhan hak sosial ekonomi masyarakat, sebagai perwujudan kedaulatan rakyat telah memberinya kesadaran tentang harapan kehidupan yang lebih baik, serta keberpihakan terhadap publik dalam nafas perjuangannya.

Perjalanan karir Sawal tidak diragukan lagi, begitu banyak organisasi yang ia lalui sebelum menjadi seorang Politisi. Sosok yang dikenal ramah dan mudah bergaul ini dekat dengan semua kalangan masyarakat.

Cerita singkat. Dengan berjalanya waktu, Sawal kemudian berminat untuk terjun ke dua politik, bergabung bersama Ketua Gerindra Sulsel, Indris Manggabarani dibawa partai Besutan Prabowo Subianto sekitar tahun 2016.

Terjun di dunia politik, menjadi bagian dari perjalanan hidup Sawal. Ketertarikannya di dunia politik, mengantarkan dirinya menjadi kader dan Pengurus Partai Gerindra Sulsel.

“Karena saya adalah pengurus Partai, maka wajar kalau kemudian saya menjadi calon anggota legislatif hari ini di partai Gerindra nomor urut 1 dari Dapil 3 Tamalanrea Biringkanaya,” ungkapnya.

Menurutnya, partai Gerindra banyak orang yang bertanya kenapa dirinya sebagai pengurus DPD Gerindra Sulsel, juru bicara partai, akan tetapi caleg DPRD kota Makassar Kenapa bukan caleg DPRD Provinsi?.

Ia beralasan, bahwa yang pertama adalah dirinya sebagai juru bicara Partai tidak boleh meninggalkan kota Makassar, kalau dibutuhkan harus ada di Kota Makassar.

Alasan yang kedua adalah, dikatakan dirinya sangat dekat dengan ketua DPD Gerindra Sulsel, Idris Manggabarani. Katanya sudah 11 tahun dengan bersmama IMB sehingga harus mendampingi dalam kondisi apapun baik dunia pekerjaan maupun di partai.

“Dengan beberapa alasan ini sehingga saya harus caleg di Kota Makassar, yang tidak jauh dari pusat Provinsi Sulawesi Selatan,” tuturnnya.

Dia menambahkan, bermukim di Kecamatan Tamalanrea sudah 27 tahun sehingga dirinya memiliki basis di sana. Juga memiliki keluarga,kerabat, punya teman di daerah Tamalanrea dan Biringkanaya.

“Saya pilih Dapil itu, karena saya dalam sosialisasi untuk memenangkan diri saya sebagai calon anggota DPRD kota Makassar, saya senantiasa sosialisasi door to door dan selalu mengunjungi komunitas komunitas masyarakat yang ada di sana,” pungkasnya. (*)


div>