RABU , 21 NOVEMBER 2018

Stok Guru SMK Minim, BKD Sulsel Harap Pertimbangan MenpanRB

Reporter:

Al Amin Malliuri

Editor:

Iskanto

Senin , 08 Oktober 2018 19:30
Stok Guru SMK Minim, BKD Sulsel Harap Pertimbangan MenpanRB

Ilustrasi-Guru

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sulsel masih menyimpan harapan penuh kepada Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) atas pertimbangannya tentang penambahan kuota guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Sulsel.

“Kita berharap seperti itu. Apalagi kita terbatas untuk honorer, sementara anggaran insentifnya tak besar, meskipun pemerintah sudah naikkan,” kata kepala BKD Sulsel, Ashari Fakhsirie Radjamilo, Senin (8/10).

Selain itu, kata dia sangat menyayangkan adanya banyak jurusan yang dinilai sulit mendapatkan formasinya, seperti guru bahasa Jepang dan Jerman. Hal itu dinilai mubasir.

“Tak mengusulkan juruan tertentu seperti Bahasa Jepang dan Jerman yang kurang dibutuhkan. Utamakan kebutuhan lain,” ungkapnya.

Calon Pj Sekprov Sulsel ini mengatakan pihaknya sudah berusaha untuk memenuhi kebutuhan pegawai guru. Usulan formasi sesuai kebutuhan sebenarnya sudah dikirim ke pusat. Namun, penentuan akhir ada di tangan Kemenpan RB.

“Kami sudah sampaikan bahwa penentuan formasi bukan ditentukan BKD tapi Kemenpan RB dan pusat. Kita ini sesuai dengan kita kirim kebutuhan kita. Keinginan kita, semua sekolah-sekolah baik SMA/SMK secara keseluruhan terpenuhi semua bidang studi. Tapi ini pusat semua yang tentukan,” ungkap Ashari.

Solusinya, tambah Ashari, kita tunggu regulasi apa yang akan ditentukan pusat.

Diketahui untuk membiayai dana insentif, APBD Sulsel hanya bisa menyanggupi sebanyak 4.000 orang dari anggaran Rp38 miliar. Sisanya dibiayai oleh Dana BOS setiap sekolah.

Sulsel terancam kehabisan tenaga guru SMK yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN). Sementara dalam seleksi CPNS yang saat ini digelar, pemerintah membuka formasi untuk penerimaan guru SMK cukup minim.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Irman Yasin Limpo, kondisi tenaga pengajar yang terbatas, membuat sekolah kesulitan. Harapan tertumpu pada guru honorer.

Malah untuk Sulsel, tahun ini Kemenpan-RB tidak memberikan jatah sama sekali untuk tenaga pengajar untuk jajaran SMK. Padahal itu menjadi kebutuhan terbesar Disdik Sulsel untuk tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya.
Untuk SMK, kata dia, ada sekitar 1.500 guru kejuruan. Semuanya diprediksi akan pensiun pada 2020 mendatang.

Untuk beberapa juruan terentu, sudah ada persiapan honorernya. Hanya saja, ada guru jurusan yang sulit dicarikan penggantinya.

“Tahun ini ada 145 guru kejuruan SMK yang pensiun. Sementara SMA 256. Guru SLB ada 11 orang. Sementara penggantinya minim, tidak sesuai kebutuhan disdik,” ungkap Irman.

Dia menggambarkan, misalnya untuk guru mesin las yang sangat terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan, terpaksa direkrut honorer atau kerjasama dengan pihak swasta.

“Dimana mau dicarikan itu. Masa’ tukang las yang mau mengajar,” tuturnya.

Terpisah Kepala Bidang SMK Disdik Sulsel, Rusli mengakui, kondisi tenaga pengajar SMK saat ini sangat kekurangan. Diprediksi hingga dua tahun kedepan, guru kejuruan sudah pensiun dan tak bisa mengajar.

Makanya untuk menyiasati ini, tenaga yang pensiun kembali diangkat sebagai tenaga honorer. Selain itu tambahan perekrutan guru tenaga honorer lain, untuk menambah sumber daya.

“Ada sekitar 1.500 sampai 2.000 tenaga guru kejuruan. Ini terus berkurang, tidak pernah bertambah. Apalagi tidak tidak jatah khusus untuk pengangkatan bagi SMK,” tambahnya. (*)


div>