Suara Nurani

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang terbaik di antara semua ciptaan-Nya. Karena itu hanya manusia yang dapat bersifat seperti sifat-sifat terbaik yang dimiliki Tuhan. Misalnya kasih sayang, Maha Pemberi, Maha Pemaaf dan sifat terpuji lainnya. Pada diri setiap orang bermukim potensi untuk berkembang ke arah kesucian atau keburukan. Karena Tuhan telah menganugerahkan ke dalam hati setiap insan potensi kebaikan dan keburukan.

Hanya saja potensi kebaikan seringkali redup oleh sekat-sekat yang dibuat oleh manusia sendiri. Misalnya kehausan akan popularitas, jabatan dan fasilitas negara, terjebak dalam ikatan etnis komunitas agama dan prilaku korupsi dan penjara-penjara lain yang dibuat dan diciptakan oleh manusia sendiri sehingga kehilangan kebebasannya sebagai manusia merdeka. Padahal potensi yang ada dalam diri setiap orang senantiasa mengarah kepada kesucian terlepas dari segala jenis ketergantungan. Kalau saja ukuran keberhasilan seseorang tidak hanya berorientasi pada kepemilikan yang bersifat benda dan materi yang sifatnya sangat sementara.

Immanuel Kant berkata: Kita seringkali kagum pada bintang yang ada di langit, kagum pada bintang di lapangan, kagum pada bintang di panggung. Tapi kita tidak pernah kagum pada bintang yang ada di hati kita masing-masing yakni nurani. Kalau seseorang hendak mengambil sesuatu yang bukan miliknya atau berbuat zalim kepada sesama, maka yang pertama kali menjerit adalah nurani kita: jangan ambil itu bukan milikmu atau jangan lakukan hal itu tidak pantas. Namun suara hati nurani seringkali redup tak terdengar karena terhalang oleh desakan kebutuhan hidup atau dorongan nafsu.

Ada empat macam nafsu yang bersemayam dalam diri seseorang, keempat macam nafsu itu adalah: Nafsu bahimiyah (kebinatangan), nafsu sabuiyah (kebuasan), nafsu syaitaniyah (syaitan), dan nafsu insaniyah (kemanusiaan). Hanya satu yang ditolerir dan dibina menurut ajaran Islam yakni nafsu insaniyah (kemanusiaan). Kalau nafsu kebinatangan yang lebih dominan pada diri seseorang, maka ia tidak akan pernah merasa malu melakukan perbuatan-perbuatan tercela dimana pun dan kapan pun, dalam keadaan sendiri maupun bersama-sama. Demikian pula halnya apabila nafsu kebuasan yang memenuhi hati seseorang, maka tidak akan pernah mengenal kata puas apalagi bersyukur. Kebuasan orang kenyang jauh lebih berbahaya dari pada kebuasan orang lapar. Kebuasan orang pintar jauh lebih berbahaya dari pada kebuasan orang bodoh. Kebuasan orang kaya jauh lebih berbahaya dari pada kebuasan orang miskin.

Sementara nafsu syaitaniyah senantiasa mengarahkan siapa saja untuk melakukan kemungkaran dan menabrak aturan apa saja yang menghalangi dalam mewujudkan apa yang diinginkan sebagai sesuatu yang biasa. Lihat saja di media dan di lingkungan sekitar, yang melakukan pelanggaran dan tidak mengindahkan aturan yang ada, pada dasarnya bukan orang yang tidak paham aturan melainkan orang-orang yang sangat paham bahkan yang membuat aturan-aturan itu, namun mereka sendiri yang melanggarnya. Ataukah mereka menganut prinsip bahwa aturan itu hanya berlaku untuk orang lain dan tidak berlaku untuk diri dan kelompoknya.

Nafsu kemanusiaan menyebabkan setiap orang senantiasa ingin suasana hidup ini indah, tentram, maju dan berkembang dalam bingkai kebersamaan tanpa dibatasi oleh sekat-sekat primordial etnis, suku, agama dan status sosial atas dasar pilantropi yakni kepedulian terhadap sesama yang dibangun di atas nilai-nilai kemanusiaan. Karenanya manusia dipandang lebih mulia dari pada malaikat manakala nafsu kemanusiaannya terkendali dan mengarahkannya kepada nilai-nilai kebaikan dan kesucian. Sebaliknya seseorang akan jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya, bagi siapa saja yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya dijunjung dan dihargai sebagai ciri makhluk yang berperadaban. (*)