Minggu, 26 Maret 2017

Darussalam Syamsuddin

Suara Perempuan

Selasa , 14 Maret 2017 10:14
Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg
Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Di sisi seorang laki-laki yang sukses, pasti ada seorang perempuan yang hebat mendampinginya, dan perempuan itu adalah istrinya. Sementara di sisi seorang lelaki yang gagal, juga ada seorang perempuan, dan perempuan itu bukan istrinya melainkan selingkuhannya. Pernyataan seperti ini mengundang pro dan kontra dalam menyikapinya, bahkan ada kawan yang memberi komentar bahwa didampingi seorang perempuan saja bisa membuat seorang lelaki sukses apalagi kalau didampingi oleh dua orang perempuan.

Orang bijak berkata jangan dengarkan apa yang  perempuan ucapkan, tapi dengarkan apa kata hati dan matanya. Karena mulut perempuan dapat saja berdusta, namun hati dan matanya tidak demikian melainkan senantiasa sarat dengan kasih sayang. Berbahagialah perempuan-perempuan Indonesia yang memperingati hari perempuan beberapa hari yang lalu 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional. Semoga pesan moral dari Nabi senantiasa menginspirasi para perempuan di dunia: “Jika perempuan di satu negeri itu baik, maka baiklah seluruh negeri. Namun bila perempuan di satu negeri itu buruk, maka buruklah seluruh negeri”.

Gemuruh pemilihan Kepala Daerah telah bergema di mana-mana, peraturan perundang-undangan juga telah memberi peluang yang sama dengan laki-laki kepada perempuan Indonesia di semua tingkatan pemilihan untuk memilih dan dipilih. Pelan namun pasti perempuan menjadi mitra sejajar dengan kaum laki-laki di semua aspek kehidupan. Selanjutnya bagaimana memanfaatkan mitra kesejajaran ini baik dalam kehidupan sosial maupun politik.

Dalam hal memilih dan dipilih, perempuan tidak lagi memiliki hambatan teologis. Dahulu ulama klasik mempersoalkan tentang boleh tidaknya perempuan ikut sebagai peserta musabaqah tilawah Alquran, ulama yang tidak membolehkan beranggapan bahwa suara perempuan termasuk aurat sehingga tidak boleh diperlombakan kemerduannya. Sementara ulama lain yang membolehkan karena memandang hal ini berkaitan dengan syiar Islam.

Kini, dalam konteks pilkada pada jenjang manapun suara perempuan diperebutkan karena sangat signifikan dari sisi jumlah bila mendukung seorang kandidat. Hal ini tidaklah berarti bahwa keterlibatan perempuan dalam pilkada hanya sebagai pemberi suara, tapi perempuan yang menjadi kandidat juga berhak memperoleh suara dukungan dari laki-laki maupun perempuan.

Kenyataan menunjukkan bahwa di berbagai wilayah pemilihan Kepala Daerah, perempuan dapat mengungguli laki-laki. Hal ini membuktikan tidak adanya hambatan teologis, perundang-undangan maupun budaya untuk menampilkan seorang perempuan menjadi Kepala Daerah. Terpilihnya seorang perempuan menjadi Kepala Daerah banyak ditentukan oleh integritas dan popularitas sang kandidat sehingga dapat mendulang dukungan bukan hanya dari kaumnya melainkan dari kaum laki-laki.

Realitas politik dalam masyarakat pun tak dapat dipungkiri bahwa tidak selamanya pemilih perempuan  memilih sesamanya perempuan, artinya banyaknya pemilih perempuan tidak berbanding lurus dengan dukungan yang diperoleh kandidat perempuan, kenyataan seperti ini dapat kita saksikan di berbagai pilkada apakah perempuan menjadi kandidat utama atau kandidat pendamping. Ini berarti kandidat laki-laki berpotensi untuk meraih dukungan dari kalangan perempuan tergantung dari berbagai faktor yang dapat menjadi daya tarik sang kandidat dari kalangan pemilih perempuan.

Terlepas dari semuanya, kehidupan ini memang membutuhkan perempuan bukan hanya suaranya. Melainkan kehadirannya identik dengan kesejukan, kasih sayang, dan kebahagiaan. Kini saatnya setiap perempuan Indonesia untuk menampilkan integritas pribadi di lingkungan keluarga, masyarakat dan ruang-ruang publik untuk menolak semua hal yang dapat menjatuhkan martabatnya termasuk eksploitasi perempuan dengan dalih apa pun.

Semoga kehadiran perempuan pada semua aspek kehidupan tidak melahirkan perang dingin dengan kaum laki-laki, tidak memandang perempuan sebagai warga negara yang lemah, melainkan sebagai mitra sejajar untuk sebuah kehidupan yang lebih baik. Karena kita semua lahir dari rahim seorang perempuan. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*