Suara Tuhan

Arifuddin Saeni

AH…, ini mungkin berlebihan atau kalau tidak mau dikatakan terlalu sarkasme. Dalam banyak hal,  ketika bicara soal Tuhan,  kita digiring pada pemikiran absolut tentang kepenciptaan,  kejujuran dan tanpa cela.  Ia tidak berada pada labirin gelap yang penuh gunjing,  tapi ruang terang menderang penuh puji-pujian dan sesekali kita menitikkan air mata. Suara Tuhan,  mengantarkan pada satu tujuan tentang hak dan tanggung jawab.

Kesucian suara Tuhan inilah yang kemudian diabsorbsi masuk dalam dunia politik. Dunia yang kita tidak memahami batasannya antara hitam dan putih, benar atau salah. Suara rakyat terpersonifikasi sebagai suara Tuhan. Bahwa pilihan rakyat itu adalah kebenaran, tapi mengapa ada sakit, mengapa ada dendam,  bahkan ada kebusukan yang terselip.  Lalu di mana suara Tuhan.

Kita barangkali terlalu berlebihan dalam hal menilai diri, apalagi menjastifikasi tentang sebuah tindakan.  Bahwa sebuah pilihan akan melahirkan tanggungjawab,  entah untuk siapa, rakyat atau kelompok.  Bukankah, politik selalu ada harganya.  Bahwa makan siang tidaklah gratis,  tentu akan melahirkan apa yang disebut politik uang.

Jika ini terjadi,  apa makna suara Tuhan.  Apakah kita harus menjejaki suara Tuhan dengan kebohongan ataukah tipu-tipu, lalu kita berakrobatik tentang kebenaran.

Saya teringat dengan apa yang dikatakan,  Cicero, seorang konsul Roma, yang berasal dari rakyat biasa—-bahwa uang yang diberikan kepada rakyat bukanlah sogokan,  tapi penyemangat. Lagi pula,  ini adalah pesta yang hanya dilakukan sekali setahun.  Salahkah kalau rakyat bersenang-senang sedikit. Bukankah Tuhan akan senang jika hambanya senang.

Itu memang benar, bahwa rakyat ada masa sangat selalu diperlukan.  Ia kadang dijamu atau dipura-puraki kalau dia sangat berharga untuk bangsa ini. Tapi ada masa,  juga ketika rakyat ditindas atas nama kepentingan–dan suara Tuhan yang selama ini sering kita dengar menjadi angin lalu saja. Toh suara itu tak penting lagi ketika kekuasaan berada dalam genggaman.

Atau seperti yang dikatakan Walter Lippmann,  jurnalis besar pada zamannya,  bahwa betapa pun besarnya kekuatan,  akan ada batasnya.

Dan mungkin saja,  suara Tuhan akan terus diendus  dalam kelanggengan kekuasaan.  Dan rakyat akan mendapat puja puji.  (*)