SENIN , 20 AGUSTUS 2018

Suardi Saleh: Geliat Pembangunan di Barru Sangat Terasa di Era Idris Syukur

Reporter:

Editor:

hur

Senin , 21 September 2015 16:02

BARRU, RAKYATSULSEL.COM – Mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pinrang Suardi Saleh mengakui banyak perubahan yang terjadi di Barru selama lima tahun terakhir di bawah kepemimpinan Andi Idris Syukur 2010-2015.

Suardi yang kini maju menjadi calon wakil bupati Barru menyatakan, sebelum Idris mengendalikan Barru, pembangunan di daerah itu terkesan berjalan sangat lambat. Namun saat Idris memimpin, berbagai kemajuan sudah dirasakan manfaatnya.

“Jujur saja, dulu saya sering dicandai teman-teman yang lewat di Barru. Mana ibu kotanya Barru? Tapi sekarang, Alhamdulillah, pembangunan sudah bisa kita rasakan. Penerangan di ibu kota kabupaten dan ibu kota kecamatan sudah bagus,” terang Suardi, Senin (21/9).

Tak hanya itu, Idris yang di awal pemerintahannya mewarisi utang sekitar Rp 65 miliar ditambah pinjaman puluhan miliar dari pemerintahan sebelumnya, bisa ditutupi selama dua tahun. “Andaikan utang itu dipakai membangun jalan, maka bisa dibayangkan bagaimana infrastruktur kita. Tapi Pak Idris menyelesaikan “warisan” pemerintahan sebelumnya itu, dan Alhamdulillah, di tahun ketiga Pak Idris sudah bisa membebaskan APBD dari utang atau disclaimer,” tambah mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pinrang dan Maros ini.

Berkat sentuhan tangan Idris, Barru untuk pertama kalinya bisa mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dua kali berturut-turut. Hal itu sekaligus menjadi penanda jika pengelolaan keuangan di pemerintahan di Barru sudah transparan dan tidak ada temuan kerugian.

“Sangat sulit mendapatkan WTP, karena BPK itu lembaga kredibel. Tapi kita bersyukur, Barru bisa mendapatkan dua kali berturut-turut. Dan itu patut dibanggakan masyarakat Barru,” papar besan Jusuf Kalla itu.

Bukan hanya itu, kata Suardi, saat Idris menyelesaikan masa jabatannya di periode pertama, APBD Barru sudah mencapai lebih Rp 1 triliun, dan sama sekali tidak meninggalkan utang, layaknya pemerintahan sebelumnya.

“Saya harus memberi jempol kepada beliau, karena dari disclaimer ke opini WTP. Jarang ada pemimpin seperti beliau,” katanya.

Berkat pengelolaan keuangan transparan, Suardi ikut menyampaikan apresiasi jika ada kandidat lain yang terus menggembor-gemborkan pemberantasan korupsi. Itu berarti, mereka mendukung apa yang dijalankan pemerintahan lima tahun terakhir.

“Kita berterima kasih kalau ada kandidat lain yang menjadikan pemberantasan korupsi sebagai jualan sosialisasinya. Kenapa, karena mereka mendukung program pemerintah yang selama ini sudah ditunjukkan lewat pengelolaan keuangan transparan dan bebas temuan,” pungkasnya.


div>