RABU , 25 APRIL 2018

Sulsel Darurat Narkoba

Reporter:

Ramlan Makkaratang

Editor:

asharabdullah

Senin , 16 April 2018 11:20
Sulsel Darurat Narkoba

ilustrasi

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Direktur Direktorat Reserse Narkoba (Dit Resnarkoba) Polda Sulsel, Kombes Pol Hermawan, menyebut Sulsel sebagai daerah darurat narkoba. Barang haram tersebut bahkan sangat mudah masuk ke Sulsel, mengingat banyaknya pelabuhan yang menjadi akses masuknya peredaran narkoba.

“Memang peredaran narkotika sangat mudah masuk di Makassar, karena banyak pelabuhan di sini. Selain pelabuhan yang ada di Kota Makassar, juga banyak pelabuhan seperti di Parepare,” ungkap Hermawan, baru-baru ini.

Ia membeberkan, jumlah pengguna narkoba juga bertambah setiap harinya. Karena itu, keluarga korban juga harus berperan dalam meminimalisir peredaran narkotika.

“Peredaran narkoba di Indonesia sudah cukup tinggi. Maka hal tersebut menjadi atensi khusus untuk menekan tingginya angka peredaran serta penyalahgunaan narkotika yang terjadi,” terangnya.

Menghadapi hal itu, pihaknya mengaku membutuhkan perumusan dan perencanaan. Terlebih, informasi dari masyarakat untuk mengungkap sindikat jaringan Narkoba yang masuk di Sulsel.

“Tentunya langkah-langkah ke depan untuk menghadapi permasalahan narkoba perlu dirumuskan dengan baik, perlu direncanakan. Tentunya, informasi-informasi dari masyarakat juga sangat penting untuk mendukung pelaksanaan tugas kami nantinya untuk bisa memaksimalkan pengungkapan narkotika yang ada di Sulsel,” paparnya.

Di Sulsel sendiri, lanjutnya, banyak pengguna yang menjalani rehabilitasi. Keinginan pemerintah saat ini terhadap para penyalahguna, dapat diberi solusi dengan tanpa melakukan penahanan. Melainkan dengan merehabilitasi para pencandu agar tertolong.

“Kalau anggota yang terlibat narkoba sudah pasti diproses, sudah pasti, itu sudah komitmen pimpinan,” tegasnya

Beberapa langkah yang akan ditempuh, lanjutnya, seperti melakukan survei data hingga penelusuran dan tes urine untuk mengantisipasi adanya oknum anggota yang terlibat.

“Kalau bicara oknum, seluruh Indonesia pasti ada. Untuk mengantisipasi hal tersebut, tentunya banyak hal yang akan kami lakukan. Mungkin kami akan lakukan dadakan tes urine kemudian kita akan survei dari tangkapan-tangkapan bandar atau pengedar, mungkin ada yang terlibat di situ sebagai pertemanan atau apa, kami akan menelusuri itu semua,” terangnya.

Ia mengakui, sindikat jaringan peredaran narkotika yang dikendalikan dalam Lapas juga cukup besar. Rata-rata pengedar yang ada di dalam Lapas, karena orang-orang yang ada di dalam Lapas adalah pemain-pemain lama.

“Ini kita bicara oknum, kita bicara adalah bandar dan pengedar. Jaringan yang inilah yang cukup kuat di luar. Termasuk di Sulsel,” pungkasnya. (*)


div>