JUMAT , 19 JANUARI 2018

Sulsel Jadi Percontohan Modelling Pembangunan Inklusif

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Selasa , 30 Mei 2017 19:42
Sulsel Jadi Percontohan Modelling Pembangunan Inklusif

Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang saat menerima Tim Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI di ruang kerja Wagub, Selasa (30/5). Foto:ist

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang telah menerima Tim Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI di ruang kerja Wagub, Selasa (30/5).

Kedatangan Tim Kemenko tersebut yang dipimpin oleh Asisten Deputi Pemberdayaan Masyarakat, Magdalena adalah untuk mengkoordinasikan kemungkinan Provinsi Sulsel menjadi Model Pembangunan Inklusif secara nasional.

Magdalena juga menyampaikan, kedatangannya ke Sulsel adalah untuk menindaklanjuti gagasan Wakil Gubernur Sulsel pada Akhir Tahun 2016 untuk Modelling Pembangunan Inklusif, dan gagasan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan diskusi Kedeputian Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat, Desa dan Kawasan Kemenko PMK bersama perwakilan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan beberapa perwakilan Kabupaten dan Kota pada tanggal 22 Maret 2017 yang lalu.

“Kami kesini untuk bisa mendengar keinginan pak Wagub untuk modelling pembangunan itu,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang pada kesempatan itu menegaskan, pembangunan manusia pada intinya adalah pengentasan kemiskinan. Dan upaya untuk menurunkan angka kemiskinan menurut dia adalah membuka lapangan kerja sebanyak banyaknya, sehingga tidak ada lagi masyarakat yang tidak produktif.

Mantan Ketua DPRD Sulawesi Selatan itu menambahkan, program pembangunan desa tidak bisa diseragamkan secara keseluruhan, tetapi harus diterapkan sesuai karakter dan potensi masing masing desa atau wilayah.

Agus Arifin Nu’mang mencontohkan, seperti Kabupaten Jeneponto, dimana menurutnya daerah ini cocoknya dikembangkan industri Gula Areng dan Telur Asing karena bahan bakunya sangat mendukung, sehingga masyarakat Jeneponto tidak terfokos hanya pada sektor maritim saja.

[NEXT-RASUL]

“Perilaku masyarakat yang tinggal dipedesaan pinggiran kota, sangat berbeda dengan masyarakat yang tinggal di desa Pegunungan,” katanya

Menurutnya, masyarakat desa pinggiran perkotaan cenderung berprilaku hidup konsumtif, sementara masyarakat yg tinggal di desa pegunungan hanya memikirkan kebutuhan pangan dan biaya pendidikan keluarganya saja.


div>