SELASA , 25 SEPTEMBER 2018

Sulsel Penyaluran KUR Terbaik di Luar Jawa

Reporter:

Rusman

Editor:

Lukman

Rabu , 07 Februari 2018 09:00
Sulsel Penyaluran KUR Terbaik di Luar Jawa

Tim Kementerian Koperasi dan UMKM RI dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menjadi fasilitator dalam acara Sosialisasi Permenko Perekonomian RI Nomor 11 Tahun 2017 tentang Penyaluran dan Pelaksanaan KUR 2018 di Grand Clarion Hotel & Convention Makassar, Selasa (6/2).

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Penyaluran dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Indonesia masih dominan di Pulau Jawa. Disebabkan luar Pulau Jawa masih banyak dihambat letak geografis. Namun, Sulsel menjadi daerah penyaluran KUR terbesar dan terbaik di luar Pulau Jawa.

Kepala Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UMKM RI, Muh Hasyim di Grand Clarion Hotel & Convention Makassar, Selasa (6/2), membandingkan penyaluran KUR di Pulau Jawa masih dominan, karena mudah menjangkau calon penerima dan lembaga penyalur dan penjamin, seperti perbankan dan koperasi.

Sedangkan di luar Pulau Jawa masih terkendala hal-hal teknis, sehingga penyaluran KUR sedikit terhambat dari target.

Hasyim mengatatakan, khusus di Sulsel sumber daya tenaga pendamping juga cukup kapabel, dimana memiliki kompetensi selaku fasilitator antara calon penerima dengan perbankan.
Sebagaimana tugas tenaga pendamping adalah pro aktif mencari nasabah dan mendampingi hingga pencairan di bank.

“Tenaga pendamping yang direkrut di Sulsel memang cukup kompeten, sehingga penyaluran KUR bisa maksimal. Benar-benar menjalankan fungsinya sebagai pendamping,” tutur Hasyim usai Sosialisasi Permenko Perekonomian RI Nomor 11 Tahun 2017 tentang Penyaluran dan Pelaksanaan KUR 2018.

Hasyim menjelaskan, tenaga pendamping yang direkrut Dinas Koperasi dan UMKM Sulsel mampu menunjukkan kinerjanya dengan baik, sehingga daerah ini menjadi penyalur KUR terbaik di luar Pulau Jawa.

Pada 2017, target KUR oleh Kementerian Koperasi dan UMKM senilat Rp9 triliun lebih, sementara terealisasi hanya pada kisaran Rp3 triliun lebih.

Penyebab kurangnya realisasi karena koneksi antara debitur atau calon penerima dengan perbankan yang kurang sinkron. Maka keberadaan tenaga pendamping sangat dibutuhkan dalam memberikan pemahaman dan pembinaan kepada masyarakat.

Sementara, tenaga pendamping yang direkrut pada sejumlah daerah di luar Pulau Jawa belum menunjukkan kinerja yang baik yang menyebabkan penyaluran KUR kurang maksimal.

Hasyim mengajak koperasi di Sulsel mengajukan diri menjadi lembaga penyalur KUR sebagaimana yang dilalukan salah satu koperasi di Jawa Barat (Jabar) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Hanya saja, koperasi yang berminat menjadi penyalur memiliki kemampuan keuangan yang memadai sebagai salah satu syaratnya.

“Koperasi yang ingin menjadi penyalur KUR harus kondisi finansialnya mumpuni sebagai syarat utama. Di Indonesia baru dua koperasi yang dipercaya menyalurkan KUR, yaitu satu koperasi di Jabar dan satu koperasi di NTT,” sebutnya.

Hasyim mengatakan, perbankan apabila menagih suku bunga KUR harus mengacu pada peraturan Menteri Koordinator Perekonomian RI yang baru tersebut. (*)


div>