JUMAT , 16 NOVEMBER 2018

Sulsel Surplus 2,32 Juta Ton Beras

Reporter:

Editor:

Iskanto

Kamis , 01 November 2018 18:00

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Kepala Badan Pusat Statistik Sulawesi Selatan (Sulsel), Yos Rusdiansyah menyebutkan surplus beras hingga akhir tahun 2018 mencapai 2,32 juta ton. Kendati demikian, surplus tersebut hanya bisa bertahan hingga satu bulan.

Secara Nasional surplus beras mencapai 2,85 juta ton, dan Sulsel memberikan kontribusi besar dalam surplus tersebut.

“Daerah yang memberilan Kontribusi surplus beras di Sulsel sendiri berasal dari daerah Wajo, Bone, Soppeng dan Sidrap. Dengan adanya surplus ini tentunya kita tak butuh impor beras lagi, kalau bisa ekspor kenapa tidak,” ungkapnya, Kamis (1/11).

Secara garis besar, tahapan dalam perhitungan produksi beras dimulai dari perhitungan luas lahan baku sawah nasional, perhitungan luas panen dengan metode baru Kerangka Sampel Area (KSA), serta perhitungan tingkat produktivitas lahan per hektar.

BPS mencatat, luas panen padi sepanjang periode Januri hingga September 2018 sebesar 1,02 Juta hektar. Dengan memperhitungkan potensi hingga Desember, maka luas panen sepanjang 2018 adalah 1,14 juta hektar,” jelasnya.

Berdasarkan hitungan tersebut, diperkirakan produksi Gabah Kering Giling (GKG) hingga September 2018 sebanyak 5,13 juta ton. Sampai akhir tahun, diperkirakan total produksi GKG tahun 2018 mencapai 5,74 juta ton atau setara dengan 3,28 juta ton beras.

Sementara itu, terkait hal tersebut seperti yang diberitakan sebelumnya, Sekretaris Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PIPSI) BPW Sulsel, Abdul Ma’bud, mengaku sependapat dengan data yang dikeluarkan BPS, kata dia, data BPS merupakan acuan dalam mengukur produksi dan validitas data.

“BPS juga sebelum mengeluarkan data tentu berkoordinasi dengan instansi teknis, jadi dari kajian BPS, disebutkan bahwa rumah tangga produksi, dalam hal ini petani akan menyimpan sekitar 44 persen dari total surplus beras kumulatif di tahun ini,” ungkapnya.

Penyebab surplus sendiri menurutnya, Luas pertanaman yg bertambah, kondisi alam yg bersahabat dan adanya intervensi pemerintah dalam hal pemberian subsidi. Sedangkan apakah harus impor beras atau tidak hal tersebut tergantung dari surplusnya bertahan atau tidak.

“Kalau surplusnya hanya bertahan untuk satu atau dua bulan ke depan maka impor diperlukan untuk menjaga stabilitas. Perlu diingat meski surplus tapj berasnya ada di petani bukan di gudang-gudang bulog. Kalau ada di gudang-gudang bulog itu pasti untuk kebutuhan menjaga stock pangan nasional terkhususnya beras,” tutupnya. (*)


div>