MINGGU , 19 AGUSTUS 2018

Sulsel Urutan Kesembilan Peredaran Narkotika

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 29 April 2016 11:16
Sulsel Urutan Kesembilan Peredaran Narkotika

ASEP/RAKYATSULSEL/D SOSIALISASI ANTI NARKOBA. Kepala Bagian Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) RI Kombes Slamet Pribadi (kiri) bersama pembicara lainnya hadir pada sosialisasi anti narkoba dengan tema "Bahaya narkotika bagi generasi muda sebagai next leader" di Hotel Santika, Makassar, Kamis (28/4). Sosilaisasi tersebut digelar oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulawesi Selatan (Sulsel) dan dihadiri sejumlah pelajar di Makassar.

RakyatSulsel.com — Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Kombespol Slamet Pribadi, mengatakan Sulsel hingga saat ini sudah berada peringkat sembilan dalam hal penyalahgunaan narkotika.

Slamet Pribadi mengatakan, peringkat tersebut berdasarkan hasil penelitian BNN dan Puslitkes Universitas Indonesia pada tahun 2015.

“Sulsel menempati peringkat ke-9 dalam catatan BBN pusat dengan jumlah pengguna mencapai 138.937 orang dari jumlah penduduk 6,1 juta orang dengan sekitar 2,27 persen. Artinya penyalahguna di Sulsel besar, pengguna besar, konsumsi besar dan pastinya pemasoknya juga besar karena berlaku hukum ekonomi, semakin besar permintaan maka semakin besar penawaran,” kata Slamet Pribadi, Kamis (28/4).

Masuknya Sulsel pada peringkat sembilan, membuat pihaknya melakukan kerja sama dengan Komunikasi dan Informatika untuk melakukan sosialisasi kepada para perwakilan pelajar SMP dan SMA se-Kota Makassar di Hotel Santika Kamis (28/4). “Kita melakukan pemahaman kepada generasi muda dampak dan bahayanya Narkotika pada diri sendiri dan untuk masa depan mereka sebagai generasi bangsa,” ujarnya.

Pada sempatan tersebut, Slamet mengatakan kepada seluruh para pelajar jika Narkotika tersebut tidak sehat, virus dan sampah untuk tubuh. “Yang idealnya Narkotika itu harus dijauhi dan hanya boleh digunakan untuk ilmu pengetahuan, medis, penelitan dengan cara yang sah, bukan disalahgunakan,” tambahnya.

Dirinya juga mengungkapkan, penyalahgunaan Narkotika di Indonesia saat ini sudah mencapai lima juta orang yang sudah memasuki seluruh kalangan masyarakat baik itu aparat keamanan birokrat hingga para pelajar.

[NEXT-RASUL]

Sementara Ketua Gerakan Anti Narkoba (Granak) Sulsel Jamil Misbah mengatakan Sulawesi Selatan sangat berpotensi menjadi daerah peredaran narkoba. Sehingga dirinya menggap itu merupakan hal yang wajar jika dalam catatan BNN Sulsel masuk dalam sepuluh besar.

“Artinya Makassar ini kota yang sangat besar apalagi Sulsel ini memiliki begitu banyak pulau-pulau kecil dan pelabuhan rakyat yang sangat mudah dilewati para pengedar Narkotika,” ujarnya.

Dirinya juga mengatakan, bukan saja jalur laut yang sangat mudah dilewati para pengedar Narkotika, namun pihaknya juga beranggapan dengan banyaknya jalur-jalur alternatif para pengedar sangat mudah menempuh tujuan tersebut, apalagi baru baru ini beberapa penengak hukum juga ikut terlibat didalamnya.

“Mengingat baru-baru ini begitu banyak kejadian yang melanda Sulsel mulai dari pejabat sipil hingga polisi dan TNI juga ikut terlibat didalamnya,” ungkapnya.

Berdasarkan data proyeksi BNN, tingkat penyalahgunaan Napza/narkoba di Sulawesi Selatan (Sulsel) tercatat 150 ribu orang. Sementara, data dari Polda Sulsel, tindak pidana narkotika hingga tahun 2014 sebanyak 2.385 orang, pengguna 3.029 orang dan pengedar/bandar 1.501 orang.

Sedangkan, data dari Kanwil Kemenkum HAM Sulsel, hingga November 2015 dari 6.536 warga binaan lapas dan rutan terdapat 2.096 orang terkait kasus narkoba.

[NEXT-RASUL]

Staf Ahli Gubernur Sulsel Bidang Pemerintahan, Hasdullah mengatakan, kasus itu mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun dan masih merupakan fenomena gunung es masif dan sulit dikendalikan.

“Perkembangannya sudah mencakup seluruh kabupaten dan kota bahkan sampai di pedesaan atau daerah terpencil yang menimpa semua kalangan, muali dari usia produktif,latar belakang profesi, pekerjaan, dan pendidikan,” katanya pada bimbingan dan pembinaan rehabilitasi Napza dan ODHA di Hotel Raising, Kamis (28/4)

Kasus Napza yang sudah sangat menghawatirkan itu, lanjutnya, tidak dapat dipisahkan dengan kasus HIV/AIDS. Sebab, faktanya sudah menjadi kasus epidemi ganda.

Dikatakannya, selain menjadi korban pengguna Napza juga sudah terinfeksi virus HIV/AIDS.

Menurut Dinas Kesehatan Sulsel, kasus HIV/AIDS hingga Juni 2015 mencapai 10.317 orang. Berdasarkan jenis kelamin, lebih banyak laki-laki, yakni 6.748 orang atau 65,4 persen, perempuan 3.281 orang atau 31,8 persen. Sekitar 288 transgender atau 2,8 persen.

Sementara itu, Kepala Biro Bina Napza dan HIV/AIDS, Sri Endang Sukarsih menungkapkan, tujuan bimbingan ini sebagai bentuk pengendalian kasus Napza dan HIV/AIDS dan pengelolaannya bisa meningkat.

[NEXT-RASUL]

Dikatakannya, salah satunya dengan Hombase Ballata. Namun, sayangnya, rumah rehabilitasi tersebut hanya ada di tingkat provinsi. Oleh sebab itu, pihaknya akan mendorong agar wadah seperti ini dapat dihadirkan pula di kabupaten/kota.

“Kita akan keluarkan Pergub agat kabupaten/kota tidak ragu-ragu untuk menjadikan ini sebagai rehabilitasi yang tepat. Dengan adanya legalitas, mereka tentu merasa bahwa sudah ada landasannya,” tuturnya. (D)


div>