SENIN , 22 OKTOBER 2018

Survei IPO UIN Bukan Pesanan

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 14 April 2018 12:00
Survei IPO UIN Bukan Pesanan

ILUSTRASI

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Polemik mengenai Survei Laboratorium Ilmu Politik (IPO) UIN Alauddin Makassar terus berlanjut. Survei yang menempatkan pasangan Agus-Tanribali (Agus-TBL) dengan elektabilitas hanya 2,52% ada yang pro, namun tidak sedikit yang kontra.

Terkait dengan ramainya isu tersebut, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Dr Abd Rasyid Masri, angkat bicara. Menurutnya, survei yang dilakukan oleh kampus independensinya sangat tinggi karena tidak terafiliasi dengan partai politik maupun pasangan calon.

“Kampus adalah pusat kajian ilmu berbagai disiplin, termasuk kajian ilmu politik, survey adalah kerja riset sehingga kalau kampus dan dosennya merilis hasil survey itu sah saja,” ungkapnya.

Bahkan menurutnya, hasil surveinya tidak boleh dikecam karena survei tersebut benar dan sah. “Maka hasil survei itu sah dan tak boleh di kecam, kalau seseorang memahami cara kerja pikir ilmiah termasuk survei terhadap tingkat keterpilihan kandidat calon gubernur” jelasnya.

Secara terpisah, peneliti dari Indonesia Local Victory (ILV) mengaku tidak mau menanggapi terlalu jauh ketika diminta tanggapan mengenai hasil survei IPO, UIN tersebut.

“Rasanya tidak elok saya menanggapi hasil survei tersebut, sama tidak eloknya dengan pihak institusi kampus yang mempublish data survei yang sama sekali tidak bisa menjadi cerminan populasi Sulawesi Selatan” ujar Adi Panrita, peneliti ILV.

Saat diminta penjelasan lebih lanjut. Adi menjelaskan bahwa kampus bukan laboratorium populasi Sulsel, di sana respondennya dosen, tenaga administrasi, mahasiswaa, dan satpam.

“Profesi masyarakat Sulsel didominasi oleh petani, tapi tidak ada sama sekali yang menjadi responden dalam survei IPO” ujar Adi.

Lebih lanjut, Adi Panrita merasa tidak perlu membaca hasil survei tersebut. Dia menganggap apa pun hasilnya, itu tidak menjadi keterwakilan persepsi masyarakat Sulsel. Itu hanya menggambarkan populasi di kampus UIN. Kalau pun sama dengan hasil survei yang diacak di seluruh populasi Sulsel, maka itu dianggap hanya kebetulan saja.

“Jika pihak IPO – UIN mempertegas bahwa survei itu hanya menangkap persepsi publik UIN dan itu berarti tidak menjadi perwakilan seluruh populasi Sulsel, saya rasa tidak ada pihak yang protes” lanjut Adi.

Lebih lanjut, Adi memberi penjelasan bahwa proses survei tiga bulan adalah hal yang tidak ladzim dan memperlihatkan kedangkalan pengalaman riset.

“Tidak usah menanggapi hasil survei tersebut, semakin jauh dibahas maka semakin terbuka kelemahannya. Kasihan mahasiswa yang kuliah di sana,” tutup Adi Panrita. (*)


div>