RABU , 14 NOVEMBER 2018

Survei Jadi Alat Kampanye

Reporter:

Suryadi - Ramlan

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 19 Mei 2018 15:15
Survei Jadi Alat Kampanye

ILUSTRASI

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Masing-masing kandidat calon gubernur dan wakil gubernur mulai mengklaim menang dalam kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel. Kondisi inipun membuat masyarakat semakin bingung dengan keberadaan rilis hasil survei yang menunjukkan perbedaan hasil tiap lembaga survei.

Pakar Statistika Universitas Hasanuddin, Prof Lellah Rahim yang dikonfirmasi menuturkan, adanya perbedaan dari hasil survei sangat bergantung pada jumlah responden yang digunakan. Jangan sampai, responden yang dipilih tidak mewakili sebuah wilayah yang disurvei.

“Survei itu tergantung respondennya berapa banyak yang diambil, kalau metode surveinya tidak terlalu. Yang penting itu respondennya yang diambil apakah representatif atau tidak. Artinya bisa mewakili populasi atau tidak,” kata dia.

Selain berpatokan pada responden, Prof Lellah Rahim menjelaskan, hasil survei sangat dipengaruhi oleh wilayah dilakukannya survei. Karena, setiap kandidat memiliki basis suara masing-masing.

“Ada teknik memang dalam pengambilan data responden, misalnya, ada yang mengambil di daerah lawan tentu berbeda kalau di ambil di daerah sendiri, itu ji intinya,” terangnya.

Lebih lanjut, Prof Lellah Rahim menjelaskan, dalam ilmu statistika, semakin banyak responden yang mewakili suatu daerah maka keakuratan hasil survei akan sangat baik pula. Serta, yang paling penting karena pendidikan masyarakat yang sudah cerdas dalam menentukan pilihannya.

“Intinya itu dalam statistik semakin besar responden semakin akurat. Kalau pelaksanaan survei itu juga tergantung dari responden, apakah gampang terpengaruh atau tidak. Tergantung lagi dengan pendidikan respondennya,” tandasnya.

Pakar Politik Univeraitas Hasanuddin Aswar Hasan mengatakan, ada beberapa indikator yang menyebabkan hasil survei masing-masing lembaga survei berbeda. Namun selain indikator-indikator tersebut, terpenting adalah track record lembaga survei itu sendiri.

“Survei sekarang itu sudah menjadi alat kampanye. Apakah survei itu independen atau tidak dalam artian tidak bekerja untuk kandidat. Bagaimana track record lembaga survei itu dan dalam surveinya lihat sampelnya berapa besar,” kata Aswar Hasan.

“Kemudian tingkat kesalahan sampling error berapa persen dan lihat kapan di survei. Karena survei itu secara konservatif itu setiap tiga bulan,” lanjutnya.

Karena memang, berdasarkan indikator pelaksanaan survei tersebut tentu akan memberikan hasil yang berbeda-beda. Sehingga, bukan hal yang salah ketika ada perbedaan yang didapatkan oleh satu lembaga survei dengan lembaga survei lainnya.

“Kalau mau hadapkan antara survei satu dengan yang lainnya lihat tanggal surveinya. Kalau berbeda periode waktunya, itu pasti berbeda. Jadi survei itu memang biasa berbeda,” jelasnya.

Meskipun begitu, terkadang lembaga survei yang menjadi alat kampanye memiliki cara tersendiri untuk memenangkan kandidatnya. Yakni dengan memainkan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan ke responden.

“Kemudian survei itu ditentukan juga dari quesionernya. Survei itu bisa disetel sekalipun sampelnya sudah benar tapi tergantung dari instrumen pertanyaaannya,” terangnya.

“Kalau mau bandingkan survei itu periode waktu, sampel sama quisionernya. Aturan KPU itu survei harus transparan, harus membuka berapa biaya dan siapa yang membiayai. Berapa sampel, kita juga bisa minta instrumen pertanyaannya. Kalau dia tertutup patut di curigai,” lanjutnya lagi.

Menyikapi hasil survei yang berbeda-beda, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Kepolisian Daerah (Polda) Sulsel, Kombes. Pol. Dicky Sondani mengimbau kepada seluruh masyarakat Sulsel agar tidak mengaggap maraknya rilis survei Pilkada yang berbeda menjadi suatu keresahan.

Menurutnya, salah satu upaya yang harus dilakukan untuk menjaga situasi jelang Pilkada agar tetap kondusif adalah dengan menghilangkan keresahan tersebut yang dikarenakan adanya perbedaan hasil survei yang marak di tengah masyarakat.

“Masyarakat jangan resah dengan hasil survei yang berbeda. Laksanakan saja proses tahapan Pilkada dengan baik dan damai,” singkatnya. (*)


div>