RABU , 17 OKTOBER 2018

Syahrul Ogah Jadi Jurkam di Pilkada

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 08 September 2015 14:34
Syahrul Ogah Jadi Jurkam di Pilkada

int

* Tak Mengusung, Golkar Tetap Solid di Lima Daerah
* Pengamat Sebut Sikap Syahrul Tepat

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Ketua DPD I Golkar Sulsel, Syahrul Yasin Limpo (SYL) menegaskan akan bersikap netral terhadap pelaksanaan pilkada di 11 daerah di Sulsel. Bahkan Gubernur Sulsel dua periode ini mengaku tak akan jadi jurkam kandidat manapun di pilkada.

Tak bisa dipungkiri, saat ini tren popularitas Syahrul memiliki pengaruh signifikan dalam memenangkan pasangan kandidat di pilkada. Namun orang nomor satu Sulsel ini, menyatakan tidak akan terlibat secara tekhnis di pilkada, utamanya sebagai Juru Kampanye, terhadap figur yang diusung maupun didukung Golkar.

“Saya tentu mendahulukan posisi saya sebagai gubernur, oleh karena itu tidak mungkinlah saya mengorbankan posisi saya sebagai gubernur dan kemudian turun kampanye, dan macam-macam hal seperti itu, apalagi manuver-manuver.

Saya pasti akan dahulukan saya punya tanggung jawab secara menyeluruh sebagai pembina politik,” kata Syahrul, pada acara pembekalan tim pilkada Golkar Sulsel, Senin (7/9).

Terkait dengan sikap politik Golkar Sulsel di lima daerah dimana partai berlambang pohon beringin hanya sebagai pendukung, Syahrul mengatakan bukan berarti Golkar kalah di lima daerah itu.

[NEXT-RASUL]

“Secara umum, sasaran utama Golkar adalah menjadi pintu untuk mendapatkan kepala daerah yang terbaik dari hasil pilkada yang ada. Oleh karena itu bukan hanya lima daerah, tetapi semua daerah yang bertanding konsen partai ini adalah menemukan orang yang cocok, orang yang punya kapasitas, kapabilitas dan kemampuan untuk menjadi orang terbaik sebagai bupati di daerah itu,” ujarnya.

Terkait itu, Syahrul meyakini bahwa posisi Golkar meskipun tidak maksimal dalam pilkada serentak tahap pertama ini, namun Golkar pada klimaks politik di tahun 2019 mendatang, tetap berada pada posisi sebagai partai papan atas dengan pengaruh suara yang kuat.

“Dinamika politik yang terjadi selama ini tidak serta merta menjadikan Sulsel sebagai lumbung suara Golkar itu kemudian hilang. Golkar punya pengalaman tanding, tujuan akhir tidak hanya pilkada, tapi juga di pemilu 2019.

Sehingga ada komitmen yang diformat Golkar, yang mengatur soliditas dan loyalitas kader. Dimanapun kader Golkar berada, loyalitasnya tetap bermuara di Golkar,” jelas Syahrul.

Diketahui sebelumnya, Golkar tidak menjadi partai pengusung di lima daerah yang menggelar pilkada di Sulsel. Kelima daerah itu yakni Maros, Selayar, Pangkep, Luwu Utara, dan Luwu Timur.

[NEXT-RASUL]

Untuk itu, Syahrul menekankan bahwa Golkar tujuan utamanya adalah menemukan orang yang terbaik di daerah sebagai bupati sesuai dengan proses demokrasi yang berlandas aturan dan tatanan yang ada.

“Makanya konsolidasi kita matangkan, Golkar sudah banyak pengalaman tanding di pilkada dan menghadapi dinamika-dinamika politik seperti ini, mau ada yang didukung formal atau tidak, tujuannya satu yakni menemukan yang terbaik. Ini sangat ideal bagi Golkar. Untuk itu

seluruh proses yang dijalankan di DPD I berjalan normatif saja. Ini kan politik, politik itu tidak harus mesti formal,” tegasnya.¬†Untuk itu di lima daerah, dimana Golkar menjadi partai pendukung, bagi Syahrul, baik rekomendasi Golkar Kubu Aburizal Bakrie maupun Agung Laksono merupakan rekomendasi Golkar. Sehingga apapun bentuk dukungan kader di sana dinilainya sah-sah saja.

“Gokar tidak kalah sepanjang yang ditemukan oleh hasil pilkada itu orang yang punya kapasitas dan kapabilitas untuk rakyat. Kita tidak pernah egosentris, dari tangan siapapun boleh lahir pemimpin, yang penting baik untuk rakyat. Dan itu posisi yang paling utama di Golkar. Untuk itu Golkar dalam menentukan sikapnya, sikap besar maupun sikap tekhnis punya selektifitas yang ketat,” jelasnya.

Namun bagi enam daerah, dimana Golkar dalam posisi mengusung, Syahrul menekankan adanya sanksi terhadap kader yang tidak bekerja dalam memenangkan figur usungan Golkar. “Tentunya semua partai punya sanksi, termasuk Golkar, dan kader tidak boleh dibuat bingung di bawah (daerah). Terkait dengan manuver, dalam politik itu biasa,” tandasnya.

[NEXT-RASUL]

Senada disampaikan Koordinator Pemenangan Pilkada Golkar Sulsel, Moh Roem. Menurut dia, target kemenangan Golkar bukan hanya di enam daerah yang mengusung saja, namun di semua daerah dimana Golkar memiliki kursi di parlemen.

“Kita juga kan punya kader yang bertarung di Maros, Selayar, Pangkep, Luwu Utara, dan Luwu Timur, meskipun tidak sebagai pengusung, tapi kita dorong kemenangan kader disana,” ujarnya diplomatis, tanpa menyebutkan secara konkrit figur yang didukung di lima daerah itu.

Sementara Korda Golkar Pilkada Maros Kadir Halid mengatakan, jika partainya akan solid mendukung pasangan Husein Rasul – Sudirman Said di Pilkada Maros. Bahkan kata dia, pihaknya akan menindak tegas kader Golkar di Maros yang mendukung kandidat lain.

“Jika ada kader di Maros mendukung pasangan lain maka Korda akan merekomendasikan pemberian saksi untuk di kaji di DPD I Golkar Sulsel,” kata Kadir.

Sikap Syahrul yang enggan jadi Jurkam di Pilkada diapresiasi Pengamat politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar Arkam Azikin. Menurut dia, sikap yang diambil Gubernur Sulsel itu menunjukkan integritas dan negarawan.

“Saya sangat setuju dan apresiasi dengan sikap yang diambil pak Syahrul di pilkada. Gubernur memang sebaiknya sebagai penengah di 11 pilkada di Sulsel dan menjaga koordinasi demi menjaga netralitas keamanan,” jelasnya.

Menurut Azikin, pilkada serentak sangat memang rawan terjadi kericuhan, sehingga stabilitas keamanan harus di jaga oleh pemerintah Provinsi Sulsel. “Saya setuju tidak masuk kampaye, itu demi menjaga stabilitas keamanan Sulsel secara keseluruhan,” pungkasnya. (E)


Tag
  • HL1
  •  
    div>