JUMAT , 17 AGUSTUS 2018

SYL Butuh Dukungan Faksi Terkuat

Reporter:

Suryadi Maswatu

Editor:

asharabdullah

Kamis , 21 Desember 2017 12:36
SYL Butuh Dukungan Faksi Terkuat

Dok. RakyatSulsel

– Untuk Masuk ke Jajaran Pengurus DPP
– Airlangga Diberi Waktu Sebulan

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Langkah mantan Ketua DPD I Golkar Sulsel, Syahrul Yasin Limpo (SYL) untuk masuk ke jajaran pengurus inti DPP Golkar, tidak akan berjalan mulus. Meskipun memiliki kedekatan secara personal dengan Ketua Umum Terpilih Airlangga Hartarto, namun SYL masih butuh diendorse oleh faksi dan tokoh yang tepat.

Loyalitas SYL sebagai kader Partai Golkar tidak diragukan lagi. Kalah di pertarungan memperebutkan posisi ketua umum tahun lalu, dan tidak mendapatkan posisi strategis di DPP, tidak membuat Gubernur Sulsel dua periode ini meninggalkan partai tersebut. SYL bahkan sempat mendapatkan tawaran menduduki posisi strategis di sejumlah partai, tetapi dirinya memilih untuk setia di partai beringin rindang.

Pasca pengukuhan Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum Partai Golkar, beredar draf pengurus DPP Partai Golkar di kalangan awak media di Makassar, Rabu (20/12). Dalam draf tersebut, SYL lagi-lagi tak direkeng. Dalam draf yang beredar, Nurdin Halid masih menempati posisi sebagai Ketua Harian DPP Golkar. Namun, pada posisi sekretaris Letjen TNI (Purn) Eko Wiratmoko ditunjuk menggantikan Idrus Marham. Sementara untuk jabatan Bendahara, dijabat oleh Melchias Mekeng. Pada posisi Ketua Dewan Pembina, Agung Laksono menggantikan Aburizal Bakrie. Untuk jabatan Ketua Dewan Penasehat ditempati oleh Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla.

Pakar politik dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Priyanto, mengatakan, dengan adanya penyegaran di partai tersebut akan semakin sengit persaingan di dalamnya. Dimana, Partai Golkar sekarang mengalami situasi transisi kepemimpinan baru.

“Pemimpin baru perlu energi yang kuat untuk mengembalikan citra institusi lembaga. Secara politis, Ketua Umum Airlangga Hartarto yang anggota kabinet, tetap bawahan Jokowi. Rivalitas internal tetap sengit,” kata Luhur, Rabu (20/12) kemarin.

Potensi SYL, kata Luhur, memang tidak menutup kemungkinan untuk mendapatkan bangku di DPP Golkar. Akan tetapi, dibutuhkan perjuangan yang panjang dalam persoalan yang lebih strategis dalam dinamika partai.

“Posisi Pak SYL sendiri secara personal memiliki kedekatan dengan Ketua Umum Airlangga Hartarto. Tetapi untuk dapat posisi strategis di DPP, SYL harus diendorse oleh faksi dan tokoh yang tepat,” terangnya.

Senada, pakar politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Adi Suryadi Culla, menilai, Golkar akan rugi jika tidak mengakomodir SYL dalam kepengurusan. SYL adalah kader yang memiliki komitmen moral membesarkan partai, juga mempunyai visi yang sangat idealis untuk memperbaiki Golkar.

“Pak SYL sudah lebih dari layak untuk masuk dalam jajaran pengurus DPP Golkar. Ia sangat memberikan efek positif yang sangat besar ke beringin rindang itu jika meduduki jabatan yang strategis,” ujarnya.

Terpisah, Ketua Harian Partai Golkar, Nurdin Halid, membantah draf yang beredar. Ia menegaskan, tidak akan ada revitalisasi pengurus DPP di Munaslub. Selain itu, tidak ada perubahan di posisi Ketua Dewan Pakar dan Dewan Pembina di tubuh partai beringin.

“Pak Airlangga diberi waktu satu bulan untuk revitalisasi pengurus. Saya kira satu bulan. Cukup lah untuk ketua umum melakukan perubahan itu. Selain itu, tidak ada demisioner kepengurusan, baik dewan pakar ataupun dewan pembina,” ujarnya.

Sebelumnya, SYL menegaskan jika dirinya tidak berburu jabatan di DPP Golkar. Tetapi, bagaimana bisa berkontribusi dan bersama-sama menghadirkan satu kekuatan untuk Partai Golkar.

“Saya berharap Munaslub ini betul-betul tidak melihat kepentingan internal Golkar, tidak melihat posisi kekuasaan yang ada, tapi lebih banyak dia akan menjadi sebuah tekad bersama menghadirkan Golkar yang berpihak pada kepentingan negara dan rakyat. Kalau ini hadir, maka saya yakin semua pihak akan merespon kembali Golkar bersih yang dibicarakan itu,” ujarnya.

Sementara, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin, mengimbau, Airlangga harus mengambil langkah berani untuk menyelamatkan partai berlambang pohon beringin itu. Salah satunya yakni merombak kepengurusan DPP. “Harus diubah komposisinya,” tegasnya.

Pasalnya jika tidak diubah komposisi kepengurusannya, maka menurut dia, Golkar pasti masih dicitrakan sebagai partai lama yang status quo. Dipertegas soal sosok yang harus diganti, Ujang menyebut nama Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham dan Ketua Harian Partai Golkar Nurdin Halid.

“Ketua harian dan sekjen. Ganti saja dengan orang-orang yang bersih. Sesuai dengan jargon kampanye dia Golkar Bersih,” desak Ujang yang juga pengajar di Universitas Al-Azhar Indonesia ini.

Sekedar diketahui, ada empat poin penting yang dihasilkan Munaslub. Keputusan utama dari Munaslub adalah penetapan Airlangga sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar.

Kedua, masa jabatan ketua umum yaitu periode 2017-2019 dan dapat diperpanjang dengan kesepakatan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas). Munaslub juga menyepakati adanya penyempurnaan AD/ART yang tertulis dalam pasal peralihan. Terakhir adalah ketua umum diamanatkan melakukan revitalisasi dan restrukturisasi kepengurusan partai. (*)

 


div>