KAMIS , 16 AGUSTUS 2018

SYL Lepas Golkar Demi Idealisme

Reporter:

Suryadi - Al Amin

Editor:

asharabdullah

Jumat , 23 Maret 2018 10:45
SYL Lepas Golkar Demi Idealisme

Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo dan Bupati Sidrap, Rusdi Masse. (ist)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Setelah kepemimpinan Golkar Sulsel “dirampas”secara paksa oleh Nurdin Halid, mantan Ketua DPD I Golkar Sulsel Syahrul Yasin Limpo (SYL) akhirnya legowo melepas partai Golkar dan memilih bergabung di partai NasDem dengan penuh pertimbangan.

Usai menyatakan maju ke Partai NasDem, Syahrul menyatakan tidak akan membuat malu Surya Paloh di Pileg dan Pilpres. Pernyatan tersebut merupakan garansi SYL akan all out untuk memenangkan NasDem di Sulsel?. Jika ini betul, maka kepindahan salah satu politisi terpenting di Golkar ini akan menjadi ancaman bagi partai Golkar di Sulsel.

SYL memang bukan orang baru di Golkar. Selama 40 tahun ia membesarkan partai itu. Sebelum mengumumkan akan bergabung ke Nasdem, SYL mengungkapkan kekecewaan pada Golkar yang dibesarkan keluarga Yasin Limpo selama puluhan tahun.

Saat di temui di Bandara Sultan Hasanuddin, Syahrul mengatakan dirinya meninggalkan partai beringin itu lantaran pendirian idealisme yang ia pegang sangat kuat. “Antara lain membuka pintu seluas-luasnya tanpa embal-embel apa (mahar politik) dan menyebut dirinya (NasDem) sebagai partai restorasi perubahan adalah sebuah visi parti yang kita harapkan,” ujar Syahrul, Kamis (22/3) kemarin.

Oleh karena itu, lanjut Syahrul atas dasar ideologi itu menjadi alasan dirinya memilih NasDem. “Saya punya perjalanan politis dan pemerintahan dari bawah dan saya harus punya pilihan secara tegak lurus pada kepentingan idealisme kepentingan negara dan rakyat. Bukan berarti ada partai yang bagus tetapi tentu partai yang memiliki aktualisasi seperti itu adalah pilihan saya dan ini pilihan saya untuk bisa berada di NasDem,” paparnya.

Syahrul juga mengaku dengan pengalamannya menjadi pamong di dunia politik dan pemerintahan membuatnya dapat berkomitmen bersama di partai NasDem. “Saya selama ini menjalani dengan baik saya berharap kemampuan Yang saya miliki sebagai birokrasi yang saya punyai saya kira saya butuh bersama orang yang mau memiliki komitmen yang membangun negara,” lugasnya.

Terkait tawaran posisi jabatan, Syahrul mengaku tidak begitu mengurusi lebih jauh. “Tentu saja ketua umum menawarkan macam-macam tapi untuk saya tidak mencari posisi, tentu jabatan itu perlu karena jabatan adalah posisi untuk melakukan sesuatu,” ucapnya.

Pakar politik, Unismuh Makassar Andi Luhur Priatno menilai, sosok SYL akan menjadi amunisi andalan bagi partai manapun jika ia bergabung. Bahkan diyakini menambahkan semangat kader partai. “Saya kira SYL sudah menentukan masa depan karier politiknya. Tawaran NasDem terlalu kuat untuk di tolak oleh SYL,” katanya.

Lanjut dia, tentu pilihan untuk bergabung sudah di pertimbangkan matang dan strategis oleh tokoh sekelas SYL. Akademisi Unismuh itu berpendapat SYL masuk partai NasaDem bisa membedakan betul, mana rekrutmen berbasis idealisme dan mana rekrutmen yang hanya untuk pragmatisme Pilkada serentak 2018.

Dikatakan, ujian pertama bagi SYL adalah memperjuangkan kemenangan usungan NasDem, di semua langgam Pilkada Serentak 2018. Meskipun untuk situasi kontestasi Pilgub Sulsel 2018, pasti ada kompromi untuk sikapnya. “Tetapi pilihan sikapnya bisa menjadi langkah awal bagi masa depan karier politik SYL di NasDem,” tuturya.

Dia menambahakan, SYL seperti sudah kehilangan “sumange’ na ininnawa” berpolitik di Golkar, dua elan vital kehidupan.

Meskipun mengusung kandidat yg sama, tetapi akseptabilitas langkah langkah politik SYL di Nasdem tentu berbeda dengan di Golkar.
“Politisi memang harus berani (bunuh diri) untuk memulai kehidupan baru yang lebih memberi harapan,” demikian pandangan Luhur.

Terpisah, saat dikonfirmasi menanggapi SYL yang juga politisi terpenting di Golkar akan menjadi ancaman bagi partai Golkar di Sulsel. Pakar politik Arif Wicaksono mengatakan sudah tentu itu terjadi, karena SYL keluar karena tak dianggap di Golkar. “Sudah tentu itu terjadi,” katanya.

Ia menuturkan, bergabungnya SYL ke NasDem tujuanya ingin mantap masa depan untuk berkarir di kancah nasional, seperti tokoh Sulsel lainya. Oleh sebab itu dinilai, sangat wajar SYL memilih NasDem. “Saya pikir untuk sementara tunai sudah kewajiban pak Syahrul dalam menjaga partai ini. Pak Syahrul dan Golkar Sulsel saling membesarkan satu dengan yang lain, namun jika saat ini peluang untuk membesarkan Indonesia didapatkan melalui Nasdem, itulah yang terjadi,” tuturnya.

Menanggapi SYL akan bermain di Pilwakot atau Pilgub. Arief berpendapat terlalu kecil bagi Syahrul jika masih harus lagi bermain di pilwali atau pilgub, apalagi jika dikatakan mengancam Golkar. Sudah saatnya SYL berkiprah di level nasional.

“Kecil kemungkinan saya pikir untuk Pak Syahrul melakukan itu. Karena sebelum fix kepindahannnya ke NasDem, pasti Pak Syahrul memberikan prasyarat dan kondisi yang bisa diterima Surya Paloh maupun RMS. Saya melihat justru Pak Syahrul menghindari teknik pecah-belah itu, dengan melangkah ke level nasional,” pungkasnya.

Kepindahan SYL ke Partai NasDem disikapi oleh DPP Partai Golkar. Wakil Sekretaris Jenderal DPP Golkar Ace Hasan Syadzily menilai mantan koleganya itu tidak memiliki ideologi partai. Ace menjelaskan, Partai Golkar itu partai yang mengedepankan ideologi karya kekaryaan. Partai Golkar memiliki banyak kader yang militan, konsistensi, dan tidak pragmatis.

“Berpartai politik harus memiliki nawaitu yang kuat karena ideologi partainya. Apapun posisi dan keadaannya, seorang kader tidak mudah untuk pindah-pindah partai,”ujar Ace melalui pesan singkat.

Bahkan kepindahan SYL, sejauh yang ia tahu belum melakukan komunikasi dengan Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Namun demikian, Golkar sama sekali tidak terganggu dengan langkah politiknya. Sebab masih banyak kader Partai Golkar yang sangat militan di Sulawesi Selatan yang merupakan lumbung dari partai ini. “Soal kepindahan Syahrul Yasin Limpo ke NasDem, itu hak nya,” katanya. (*)


div>