JUMAT , 20 JULI 2018

SYL Ogah Beli Suara

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Rabu , 24 Februari 2016 12:00
SYL Ogah Beli Suara

int

PENULIS: SOFYAN – FAHRIL – SURYADI
EDITOR: LUKMAN

MAKASSAR,RAKYATSULSEL.COM – Optimisme Ketua DPD I Golkar Sulsel, Syahrul Yasin Limpo untuk bertarung pada Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Golkar makin bulat. Syahrul bahkan menasbihkan diri sebagai orang yang paling layak menjadi Ketua Umum DPP Golkar.

Syahrul mengaku percaya diri dengan track record yang dimilikinya. Terutama hubungan baik yang selama ini dibangun dengan elite Partai Golkar di DPP.

“Saya mungkin satu-satunya calon yang tidak memiliki musuh. Tidak bermusuhan dengan Agung Laksono dan Aburizal Bakrie (ARB). Saya berteman dengan keduanya. Termasuk dengan calon yang ada. Saya tidak bermusuhan dengan Ade Komarudin, Setya Novanto, Idrus Marham, dan lainnya,” terang Syahrul saat bersantai bersama pengurus DPD I Golkar Sulsel, seperti Zulkarnain Arief, M Roem, Farouk M Betta, dan lainnya di Warung Kopi (Warkop) Olala Makassar, Rabu (23/2).

Optimisme lain Syahrul adalah dorongannya maju sebagai calon ketua umum karena visi dan misi yang ditawarkan, yaitu bertarung secara konseptual dan ideologi tanpa money politic.

“Saya berangkat maju dengan idealisme bukan kepentingan. Idealisme itu tanpa kepentingan. Jadi yang sesama pemilik idealisme tentunya akan saling mendukung.

Mari bertarung secara konsep dan idealisme dalam membangun Golkar untuk kepentingan rakyat dan negara,” terangnya.

“Ini pertarungan konsepsi dan idealisme. Munas Golkar itu bukan hanya untuk Golkar, tetapi secara menyeluruh. Untuk kepentingan negara. Golkar sangat menentukan harga minyak, harga gula, harga mentega, dan lainnya,” tambah Syahrul.

[NEXT-RASUL]

Gubernur Sulsel dua periode ini mengaku tidak mempermasalahkan jika ia kurang diperhitungkan dalam bursa calon Ketua Umum Partai Golkar. Namun dirinya tetap yakin dan optimistis mampu meraup dukungan mayoritas nantinya.

“Syahrul itu memang underdog, tidak direken (tidak diperhitungkan, Red), tapi saya yakin masih banyak juga yang memiliki idealisme. Kita akan bersama dengan yang memiliki idealisme. Dan saya yakin masih banyak orang di Golkar yang memiliki idealisme,” terangnya.

“Kita underdog saja. Saya mau hilangkan stigma harus dengan uang. Modal yang utama ketulusan dan kecerdasan. Ada janji Tuhan di situ jika kita memiliki niat tulus dan ikhas. Perasaan saya happy happy ja’. Mungkin karena ketulusan. Beda dengan yang ada kepentingannya di situ. Saya sudah beberapa kali ikut Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), tidak pernah satu kalipun saya lihat uang beredar di depanku. Sekarang kita masih ingat Pak Baharuddin Lopa, ketegasannnya merupakan gambaran dari Sulsel. Suatu waktu nanti sejarah juga akan mencatatkan nama Syahrul dengan konsep dan idealismenya,” tambahnya.

Soal rumor politik uang yang santer terdengar menjelang pelaksanaan Munaslub Partai Golkar ditanggapi keras oleh Syahrul. Bahkan dirinya tidak membenarkan adanya praktik politik uang di Munaslub Golkar.

Sebelumnya, informasi adanya money politic jelang Munaslub didapatkan dari pengurus DPD II dalam pertemuan paguyuban di Sumatera Utara, yakni soal adanya sogokan senilai 10 ribu Dollar Singapura yang diberikan salah seorang calon ketua umum untuk mendapatkan surat dukungan.

“Itu yang tidak benar, itu yang tidak boleh terjadi dan hancur Golkar kalau orang-orang seperti itu yang pimpin. Kalau hancur Golkar berarti ada kekuatan negara yang tersumbat,” kata Syahrul.

“Golkar itu partai besar. Infrastrukturnya sampai ke desa. Sayang banget kalau partai ini kemudian distigmakan harus bayar dan pasti Syahrul tidak bisa kalau bayar,” ungkapnya.

[NEXT-RASUL]

Terkait Idrus Marham yang mengklaim telah memperoleh dukungan 30 persen atau 80 suara DPD I dan II, termasuk Sulsel, Syahrul menanggapinya biasa-biasa saja. “Saya kira semua harus optimis,” singkatnya.

“Orang bilang kalau Syahrul dapat 50 DPD II sudah hebat. 560 ji hak suara, tapi sudah seribu mi yang klaim. Berapakah dukungannya Syahrul? tunggu tanggal mainnya,” tuturnya.

Syahrul pun mengakui dukungan terhadap dirinya semakin berkembang. “Saya sudah terima dari Aceh dan Kalimantan Barat. Apakah dia hadir menjadi kekuatan? Saya kira bukan itu yang penting,” katanya.

Yang penting, kata dia, yang datang adalah punya idealisme untuk negara serta menjadikan Golkar untuk rakyat.

“Yang saya undang adalah orang yang tidak dibayar-bayar. Saya tidak menjanjikan uang. Tetapi, kalau kau punya idealisme untuk menyusun konsepsi untuk Golkar ke depan, datang ke sini bicara sama-sama,” tutur Syahrul.

Syahrul mengakui, meskipun saat ini ia tengah menggalang dukungan pencalonannya sebagai calon ketua umum, namun tugas dan tanggung jawabnya tetap dijalankan. Apalagi, ia terbantu dengan spontanitas jajaran pengurus DPD I Golkar Sulsel dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

“Teman-teman secara spontanitas membantu dan bertanggung jawab terhadap rekomendasi. Misalnya, si A bertanggung jawab untuk Provinsi Sulawesi Tengah, si B untuk Provinsi Kalimantan Timur, ada untuk Aceh, dan lainnya. Makanya, pekerjaan di kantor (selaku Gubernur Sulsel) juga tidak terabaikan. Apalagi, untuk roadshow selalu dilakukan pada akhir pekan,” terangnya.

[NEXT-RASUL]

Syahrul mengatakan, bukti keseriusannya maju sebagai calon Ketua Umum Partai Golkar akan diperlihatkan, besok, Kamis-Jumat (25-26/2). Saat itu juga akan digelar konsolidasi akbar Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) yang akan dipusatkan di Balai Prajurit Jenderal M Jusuf, Makassar. Kegiatan ini akan dihadiri perwakilan Kosgoro seluruh Indonesia. Konsep kegiatannya bela negara.

“Nanti di acara ini akan dibicarakan mengenai bela negara. Soal ini bagian dari Munas Golkar, nantilah dilihat, tapi saya rasa konsep seperti bela negara ini, bagian yang saya usung dalam visi dan misi memimpin Golkar ke depannya. Akan hadir Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, membawakan materi konsep bela negara,” terangnya.

Pakar politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Adi Suryadi Culla menyebutkan calon ketua umum Golkar tak selamanya mengandalkan finansial semata. Namun masih banyak cara bisa ditempuh untuk menggapai niat seseorang untuk menakhodai partai beringin.

“Memang tidak bisa dipungkiri pertarungan untuk menakhodai sebuah kursi kepemimpinan selalu butuh finansial. Namun tak selamanya finansial menentukan. Menurut saya masih banyak jalan untuk meraih suara, apalagi figur yang maju seperti Syahrul bisa pendekatan komunikasi, ideologi, dan struktural jabatan. Apalagi dia ketua asosiasi pemerintahan provinsi se Indonesia. Pasti tanpa uang bisa meraup suara,” ujarnya saat dikonfirmasi via telepon, Selasa (23/2) malam.

Menurutnya, dalam strategi politik sama halnya seperti berperang. Penguasaan medan dan komunikasi dibutuhkan dalam pertarungan.

“Saya pikir Pak SYL sudah menguasai medan, persoalan pragmatisme yang mewarnai perjalanan demokrasi calon Ketua Umum Partai Golkar maupun ketua Partai lain tak bisa dipungkiri. Namun setiap kandidat punya cara dan strategi yang berbeda, apalagi kader Golkar sudah banyak mengetahui kiprah pak SYL mulai gaya kepemimpinan daerah hingga pimpin partai,” tuturnya. (E)


div>