Tahun ini, Nilai Ekspor Kakao Sulsel Diprediksi Merosot

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Sulsel memprediksikan ekspor kakao di tahun ini akan merosot lantaran kurangnya perhatian dari pemerintah.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Askindo Sulsel, Yusa Rasyid Ali, Dia menuturkan sejak tahun 2010 hingga sekarang, nilai ekspor kakao Sulsel turun drastis. Sama halnya para eksportir kakao, jumlahnya kini tak seberapa.

“Dulu, Sulsel punya 15 eksportir biji kakao dan 6 industri pengolahan kakao. Sekarang tersisa 3 eksportir dan 2 industri pengolahan,” tuturnya saat dikonfirmasi RakyatSulsel, Kamis (18/5).

Dia menjelaskan, nilai ekspor kakao Sulsel pada tahun 2009 lalu, itu sebesar USD 400 juta (sekitar Rp5,3 triliun). Capai tahun 2016 lalu, hanya senilai USD 150 juta.

“Penurunan nilai ekspor dan eksportir kakao di Sulsel, itu karena ada beberapa hal. Misalnya lahirnya regulasi baru terkait penetapan bea keluar untuk biji kakao. Serta adanya Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Regulasi ini dahulu belum ada, tetapi semenjak 2010 mulai diberlakukan hingga sekarang,” jelasnya.

Ia mengatakan, di tahun ini di prediksi produktifitas akan menurun lagi. Karena penurunan itu diakibatkan kurangnya perhatian dari pemerintah soal lahan produksi kakao di Sulsel.

“Hal itu mengakibatkan, kurangnya bahan baku bagi para eksportir. Sehingga nilai ekspor kakao Sulsel terus melempem. Saya berharap untuk kedepannya bisa meningkatkan produktivitas agar tidak menurunnya nilai ekspor di Sulsel,” tegasnya.

[NEXT-RASUL]

Sementara itu, Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam menjelaskan kakao di Sulsel menduduki urutan kedua terbesar nilai ekspor Sulsel sebesar USD 10,88 juta (sekitar 12,38 persen).

“Di tahun ini ekspor Sulsel, sejak Januari sampai April 2016 sebesar USD 29,34 juta. Untuk di tahun ini, Januari sampai April 2017, capai nilai ekspor sebesar USD 37,40 juta. Hal itu mengalami perubahan dari Januari sampai April 2017 terhadap Januari – April 2016, yakni sebesar 27,48 persen,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, di tahun 2017, produksi tanaman kakao per-ton di Sulsel mencapai 143.237 dengan luas lahan tanah (Ha) 143.237. Ada beberapa daerah, mengalami penurunan produktifitas kakao. Diantaranya, Luwu Utara, Bone, Pinrang, Kepulauan Selayar dan Jeneponto.

“Beberapa daerah yang mengalami siklus naik turunnya produktifitas di Sulsel, yakni Luwu Utara sebesar 21.236, disusul Kabupaten Bone 16.412, Kabupaten Pinrang 12.018, Kepulauan Selayar 151, dan paling terbawah yakni Kabupaten Jeneponto,” ungkapnya.

Ia mengatakan, ada empat negara tujuan ekspor Sulsel terbesar dari tahun ke tahun (y or y). Diantaranya, Jepang, Amerika Serikat, Malaysia, dan Tiongkok.

“Di bulan Januari sampai April 2016 capai sebesar USD166,38 juta, disusul Amerika Serikat USD 32,07 juta, Tiongkok 27,29 juta, Malaysia USD 8,75 juta. Untuk Januari sampai April 2017, Jepang menduduki peringkat atas nilai ekspor Sulsel senilai USD 204,68 juta, disusul rivalnya, Amerika Serikat 39,13 juta, Tiongkok USD28,32 juta, dan Malaysia USD 27,41juta,” jelasnya.