SENIN , 19 NOVEMBER 2018

Tak Ada Kuota Khusus, Diatas 35 Tahun Hanya Bisa Gigit Jari

Reporter:

Al Amin

Editor:

Iskanto

Kamis , 13 September 2018 17:45
Tak Ada Kuota Khusus, Diatas 35 Tahun Hanya Bisa Gigit Jari

ILUSTRASI

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Nasib honorer kategori dua (K2) di Sulsel tidak merata. Di beberapa daerah masih menerapkan prioritas kepada kuota honorer yang tersisa. Hanya saja di Pemprov Sulsel tidak mengadakan kuota khusus honorer K2.

Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah (NA) mengatakan tidak adanya usulan honorer di Pemprov Sulsel lantaran sudah menjadi kebijakan pemerintah pusat. Dalam hal ini kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi dan Birokrasi (kemenpanRB).

“Harus dipisahkan, yang pasti kebijakan pemerintah itu, dia ingin tenaga teknis, seperti guru dan tenaga kseshatan. Sehingga kita kurangi tenaga administrasi,” singkatnya, Kamis (13/9).

Bukan hanya itu, syarat untuk mereka pun harus mengikuti formasi umum. Seperti halnya batasan usia dan spesifikasi jurusan/bidang.

Hal itu diungkapkan Sekretaris Daerah Provinsi (Sekprov) Sulsel, Tautoto Tana Ranggina saat memberikan sambutan pada rapat koordinasi persiapan penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Tahun 2018 Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota seSulawesi Selatan, Rabu lalu.

Dari pertemuan itu, dipaparkan bahwa untuk usia pelamar paling rendah 18 tahun dan paling tinggi 35 tahun pada saat melamar termasuk honorer K2.

“Bagi tenaga honorer eks kategori II, usia paling tinggi 35 tahun pada tanggal 1 Agustus 2018 dan masih aktif bekerja secara terus-menerus sampai sekarang,” sebutnya.

Selain itu, akreditasi perguruan tinggi bagi pelamar yakni Formasi Khusus bagi putra/putri lulusan terbaik berpredikat dengan pujian (cumlaude), yakni berasal dari perguruan tinggi terakreditasi A/unggul dan program studi terakreditasi A/unggul pada saat kelulusan. Selain itu Formasi Umum berasal dari perguruan tinggi yang terakderitasi.

Sementara untuk passing grade, formasi khusus, putra/putri lulusan terbaik berpredikat dengan pujian (cumlaude), dengan nilai 298, disabilitas nilai 260, tenaga honorer eks. kategori II nilai 260 dan formasi umum nilai 260.

Pada kesempatan ini juga dibahas, penanganan dan validasi data formasi khusus eks. Kategori lI jabatan guru dan jabatan tenaga kesehatan. Hal-hal yang berpotensi menimbulkan kendala dalam tiap-tiap tahapan proses seleksi. Hal-hal yang berpotensi dalam tiap tahapan seleki harus dibicarakan kemudian.(*)


div>