MINGGU , 19 AGUSTUS 2018

Tak Dikemas Baik, Beras Tarone Kalah Saing

Reporter:

Editor:

hur

Senin , 14 September 2015 17:22

LUWU UTARA, RAKYATSULSEL.COM – Kecamatan Seko merupakan daerah andalan Kabupaten Luwu Utara sebagai penyuplai sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Salah satu produk andalan Seko adalah beras Tarone.

Bupati Luwu Utara, Arifin Junaedi mengungkapkan, beras Tarone punya potensi yang sangat bagus, terutama kalau dikemas dengan baik. Harga per kilo bisa mencapai baras 35 ribu per kilo di supermarket. Namun saat ini, kata Bupati Lutra, harga beras andalan Seko itu masih berkisar antara Rp 6.000-7.000 per kilo.

“Saya yakin, dengan harga seperti itu masih banyak yang minat beli. Tidak perlu sawah diperluas, kemasan saja yang diperbaiki,” ujarnya usai malam ramah tamah Gubernur Sulsel bersama masyarakat Seko, Sabtu (12/9).

Tinggi potensi beras Tarone, lanjut Arifin, sehingga Gubernur Sulsel meminta agar dibuatkan program kemasan yang lebih bagus.

Sementara itu, Camat Seko, Tandi Bulan mengatakan, beras Tarone merupakan beras organik non pestisida. “Beras Tarone merupakan aset utama kami,” katanya.

Sayangnya, dia tidak mengetahui secara rinci jumlah produksi beras Seko. “Yang jelas, kami di Seko penyuplai beras,” katanya.

Dikatakan bahwa Seko menerapkan peraturan desa mengenai wilayah yang tidak boleh menggunakan pestisida. Karena itulah, setengah dari persawahan yang ada Kecamatan Seko, tidak boleh menggunakan pestisida.

Tandi Bulan menilai, area persawahan masih banyak yang belum produktif karena masalah perairan. “Lahan yang masih tidur seluas 27 hektar. Sedangkan yang produktif hanya seluas 14 ribu hektar,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Camat Tandi Bulan mengharapkan adanya bantuan pemerintah dari sisi perairan persawahan. Sehingga, kata dia, Seko bisa menjadi lumbung pangan Luwu Utara bahkan Sulsel.

Di bidang peternakan, Tandi Bulan mengungkapkan bahwa Seko memiliki pengembangbiakan kerbau dan sapi yang terbesar di Luwu Utara. “Mungkin juga di Sulawesi Selatan,” katanya seraya menambahkan bahwa khusus di Desa Padang saja, ada 1.006 kerbau, sedangkan ternak sapi sekitar 800 lebih.

“Populasi ternak sapi kurang lebih 4.000-an untuk Kecamatan Seko berdasarkan data 2014 kemarin,” imbuhnya.

Tandi Bulan menambahkan bahwa kekayaan utama lainnya adalah sektor perkebunan, khususnya kopi jenis Arabica dan Robusta. Musim kopi di Seko, kata dia, dari bulan enam hingga sembilan.

“Saya tidak tahu memastikan berapa jumlah distibusi kopi. Namun, yang pasti, setiap turun panen, ada tujuh truk roda empat yang mengangkut hasil panen,” ungkapnya.

Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, melihat potensi besar kecamatan Seko, mengimbau pihak pemerintah setempat untuk meningkatkan orientasi pasar, khususnya pembuatan kemasan. “Beras Seko dan kopi Seko kan memiliki kekhasan tersendiri,” ujarnya.

Untuk saat ini, pemasaran produk Seko juga menggunakan ojek. Hasil bumi didistribusikan ke Masamba yang berjarak 136 km dari Seko serta kabupaten lainnya.


div>