JUMAT , 19 JANUARI 2018

Tasming Hamid, Sosok yang Tekun, Sosial dan Merakyat

Reporter:

Editor:

niar

Kamis , 25 Mei 2017 21:37
Tasming Hamid, Sosok yang Tekun, Sosial dan Merakyat

int

PAREPARE, RAKYATSULSEL.COM – Bagi politikus yang relatif “belia”, baik dari pengalaman politik maupun usia, perjalanan sosok hidup anak muda ini bisa dibilang sebuah fenomena. Dilahirkan 31 tahun lalu dari pasangan Abdul Hamid (almarhum) dan Hj. Tammase, tapak langkah kehidupan yang disusur benar-benar berangkat dari “tiada” menjadi “ada”.

Realitas hidup H. Tasming Hamid, SE, MH kala kecil ditempa dengan segala keterbatasan. Keadaan ekonomi sulit (elit) rumah tangga orang tua memaksa dirinya ikut berjuang mendapatkan sesuap nasi demi mempertahankan keberlangsungan hidup. Saat duduk di sekolah dasar, ia membantu pendapatan orang tuanya dengan berkeliling menjajakan es.

Beranjak di usia sekolah menengah pertama, ia dituntut membagi waktu antara mengenyam ilmu dengan bahu-membahu bersama kakak pertama menjadi kuli panggul di Pelabuhan Parepare. Namun, dengan kegigihan dan kerja keras, sedikit demi sedikit apa yang dilakukan mengubah nasib hidup diri dan keluarganya. Kini, ia dan keluarganya dikenal sebagai pengusaha terkemuka di Kota Bandar Madani.

Usai menamatkan pendidikan di sekolah menengah atas, Tasming melanjutkan studinya di sebuah kampus swasta. Sewaktu menjadi mahasiswa, corak pergumulan hidupnya mulai diwarnai dengan dunia organisasi. Tercatat sebagai Direktur PT. MST OTO Parepare, pengalaman organisasi dirasa perlu untuk mematangkannya sebagai entrepreneur. Terlibatlah Tasming pada beberapa organisasi kepemudaan di Parepare.

Dirinya pernah menjadi Wakil Bendahara di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Parepare 2012-2015, pengurus Partai Demokrat 2012-2017, bahkan menjadi Ketua Insan Muda Demokrat Indonesia Parepare 2012-2017.

Di tahun 2013, Tasming mulai aktif terlibat dalam dunia politik. Amanah yang diembannya sebagai Ketua IMDI (sayap Partai Demokrat), menuntunnya untuk maju sebagai calon anggota legislatif Kota Parepare tahun 2014.

Alhasil, TSM (akronim dari Tasming Hamid) mampu meraih suara terbanyak se-Kota Parepare sebagai anggota dewan dari daerah pemilihan satu. Bahkan, raihan dukungan suaranya mengalahkan beberapa incumbent dewan yang kembali bertarung satu dapil dengannya saat itu.

Setelah terpilih sebagai aleg, TSM dipercaya untuk memimpin beberapa posisi strategis di DPRD. Ia pernah dipercaya sebagai ketua di beberapa komisi dan hingga kini tercatat sebagai Ketua Fraksi Demokrat dan Ketua Komisi I.

Permintaan memimpin organisasipun membanjiri beliau. Sosok “sombere” ini secara aklamasi dipilih sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Parepare 2014-2017. Ia juga diminta menghidupkan Perbasi Parepare sebagai Ketua periode 2014-2018, Pembina GP Anshor Kota Parepare 2014-2018, Wakil Ketua PMI Kota Parepare 2016-2021, Wakil Ketua MPC Pemuda Pancasila Parepare 2015-2019, menjadi Ketua Ikatan Kerukunan Keluarga Besar Tosibolata 2017-2021, dan pengurus di beberapa OKP lainnya.

Menghadapi event politik pemilihan kepala daerah (pilkada) tahun 2018 nanti, rupanya TSM mengaku mendapati begitu deras dukungan mengalir agar dirinya mengambil bagian dari kompetisi demokrasi tersebut. Di setiap perjumpaan dengan masyarakat, baik kala ia reses sebagai aleg, maupun dari kegemarannya merajut silaturahmi dengan sesama, banyak permintaan agar ia ikut mendaftar sebagai calon kepala daerah 2018.

Bukan hanya karena derasnya dorongan dari masyarakat, namun juga karena support yang luar biasa dari keluarga besar, akhirnya TSM mendaftarkan diri sebagai calon kepala daerah di beberapa partai yang telah membuka pendaftaran. Baru-baru saja, TSM telah mengembalikan formulir di lima partai, yakni PBB, PKS, PAN, Hanura dan Gerindra.

“Begitu juga dengan partai lain yang sekiranya akan membuka pendaftaran, maka saya akan mendaftar,” ujarnya.

Lantas, apa dasar utama Tasming terbilang ‘berani’ untuk mendaftar sebagai calon kontestan di pilkada 2018 nanti? Tasming punya perspektif tersendiri soal kepemimpinan di kota ini. Bagi dia, kepemimpinan seyogyanya mampu mentransformasi nilai-nilai pemberdayaan.

Kepemimpinan itu menggerakkan, menginspirasi, menjadi teladan bagi banyak orang. Maka pemikiran untuk mendorong model kepemimpinan yang memberdayakan, menjadi penting mendapatkan perhatian. Bagaimana seorang pemimpin lebih memberi ruang, bahkan mendorong mereka yang dipimpinnya untuk berbuat yang terbaik bagi daerah.

Pemimpin yang memberdayakan adalah pemimpin yang mampu mengeksplorasi secara optimal potensinya sebagai seorang pemimpin yang memiliki komitmen, mengarahkan orang yang dipimpin dengan visi yang jelas, memiliki kemampuan mendengar kebutuhan yang dipimpin dan bisa menjadi suri tauladan (uswah) yang baik.

“Pemimpin tidak menggunakan otoritas tetapi memberdayakan orang,” kutip Tasming.

Menurut TSM, memberdayakan berarti membuat orang atau masyarakat mampu bertindak memperjuangkan kesejahteraannya dalam berbagai bidang secara mandiri. Masyarakat kita membutuhkan transformasi pola pikir dari menunggu, meminta, menerima, dan membeli menjadi budaya bertindak kreatif, membangun dan membuat.

Konsepsi pemberdayaan pada prosesnya lebih memungkinkan pembangunan yang memanusiakan manusia. Pelibatan masyarakat dalam pembangunan lebih mengarah kepada bentuk partisipasi, bukan dalam bentuk mobilisasi. Partisipasi masyarakat dalam perumusan program membuat masyarakat tidak semata-mata berkedudukan sebagai konsumen program, tetapi juga sebagai produsen karena telah ikut serta terlibat dalam proses pembuatan dan perumusannya.

Sehingga, masyarakat merasa ikut memiliki program tersebut dan mempunyai tanggung jawab bagi keberhasilannya serta memiliki motivasi yang lebih bagi partisipasi pada tahap-tahap selanjutnya.

“Kita membutuhkan pemimpin yang mampu melakukan transformasi budaya ini. Tidak hanya Parepare, namun Indonesia membutuhkan banyak pemimpin di berbagai tingkatan, bahkan sampai pada tingkatan keluarga, agar mampu maju sebagai sebuah bangsa. Transformasi dari meminta dan membeli, menjadi membuat dan berkontribusi pada pembangunan kemanusiaan,” katanya.

Oleh karena itu, harapannya kepemimpinan masa depan adalah kepemimpinan yang hadir. Kepemimpinan yang bisa dijamah oleh yang dipimpinnya, bukan pemimpin yang menghadirkan kekakuan, kebekuan atau ketakutan. Kita butuh kepemimpinan yang memberdayakan sehingga kita bisa menjadi penemu, pembuat, pengolah, dan memberikan berbagai “produk” bermutu.

Kepemimpinan yang memberdayakan akan mampu mengelola segala sumber daya (sumber daya alam, sumberdaya manusia, dan sumber daya sosial) dengan efesien dan efektif. Kita tidak butuh pemimpin yang asal semaunya saja.

“Kita merindukan kehadiran model kepemimpinan yang memberdayakan ini. Ayo, mari berdaya bersama membangun kota demi kesejahteraan kita,” seru Tasming.


Tag
div>