RABU , 21 NOVEMBER 2018

TBL Bisa Gigit Jari

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 04 Agustus 2017 10:18
TBL Bisa Gigit Jari

int

MAKASSAR, RakyatSulsel.com – Nurdin Abdullah (NA) sebelumnya sesumbar akan melakukan deklarasi dengan pasangannya Tanribali Lamo (TBL) untuk bertarung pada Pilgub Sulsel tahun 2018 mendatang.

Namun hingga saat ini, niat tersebut tak kunjung terwujud. Bahkan sosialisasi paket NA-TBL mulai redup karena konstalasi politik akhir-akhir ini mulai berubah.

Apalagi, Bupati Bantaeng dua periode itu tengah santer diwacanakan akan berpaket dengan Bupati Sidrap yang juga Ketua NasDem Sulsel, Rusdi Masse (RMS). Jika nanti paket ini (NA-RMS) terwujud, maka TBL siap-siap gigit jari.

Nurdin Abdullah yang ditemui usai mengembalikan formulir pendaftaran di DPD Demokrat Sulsel, tidak menampik adanya wacana yang mencuat bahwa dirinya akan berpaket dengan RMS.

“Saya tidak ingin mengatakan tidak, karena kita bukan tuhan dan kita juga tidak ingin takabbur. Saya tidak memiliki modal politik, yang mengajak kita, nanti kita lihat, berapa persen positifnya begitupula negatifnya,” ujarnya, Kamis (3/8).

Ia mengaku jika belum melakukan komunikasi politik dengan Ketua NasDem Sulsel tersebut. “Kalau komunikasi politik belum ada,” kata NA.

Meski demikian, pihaknya masih tetap berkomitmen untuk berpasangan dengan TBL dengan alasan begitu banyak dorongan dari masyarakat untuk maju sebagai orang nomor satu di Sulsel. “Saya dengan pak Tanribali figur yang ingin mengabdikan diri untuk Sulsel, bukan untuk mencari, memburu jabatan,” jelasnya.

[NEXT-RASUL]

Terkait deklarasi yang hingga kini belum juga dilakukan, NA mengaku jika belum memiliki partai politik. “Bagaimana mau deklarasi, partai belum ada karena proses di partai itu sendiri masih berlangsung. Saya memang tidak memiliki partai tapi saya yakin partai melirik saya karena komitmen kedepan bisa diyakini apalagi respon masyarakat bagus, sehingga secara teori partai ingin menang,” tuturnya.

TBL yang dikonfirmasi lebih memilih untuk irit bicara. Saat ditanya perihal wacana NA – RMS di menjawab secara diplomatis. “Biar pak Prof (NA) yang jawab, saya serahkan ke beliau, saya ini no coment,” ungkapnya.

TBL optimis, NA akan tetap menggandeng dirinya dan akan melakukan deklarasi setelah mendapat rekomendasi partai politik. Dia membeberkan bahwa komitmenya dengan NA sudah dilakukan sejak Desember 2015 lalu.

“Meski tidak ada hitam di atas putih, kita komitmen sebagai orang bugis Makassar, dan Insya Allah, kami optimis lah,” jelas TBL.

Tim Relawan NA, Rusnin yang dikonfirmasi mengatakan, hingga saat ini konstalasi politik terkait bakal calon pendamping Nurdin Abdullah itu masih sangat cair. Apalagi, kata dia, untuk maju di Pilgub Sulsel masih ada cara lain bagi NA selain jalur Parpol.

“Kalau melihat konstalasi partai belum 100 persen, kecuali pak Nurdin Abdullah kukuh dengan itu (TBL) dan siap dengan segala konsekuensinya, yah paling mungkin bisa ambil jalan independent,” ungkapnya.

[NEXT-RASUL]

Saat ditanya terkait wacana paket NA-RMS, Rusnin mengaku hal itu bisa saja terjadi, bahkan ia tidak menampik bahwa wacana tersebut menjadi perhatian tim NA sendiri. Namun memang, kata dia, apabila hal tersebut terjadi tentunya TBL sebagai bakal calon pendamping NA selama ini yang kuat diwacanakan akan tergeser.

“Kalau itu terjadi (paket NA-RMS) resiko bagi TBL. Karena partai tentu memiliki nilai tersendiri yakni dengan mendorong kader. Kalau memang tidak bisa, maka akan ada lobi berikutnya. Tapi mungkin maharnya lebih mahal,” jelasnya.

Sementara itu, Pakar Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto menuturkan, peluang paket NA-RMS masih sangat terbuka lebar. Pasalnya, yang menjadi penentu pada akhirnya akan diketahui di injuritime. “Bisa saja. Politik penuh kemungkinan-kemungkinan. Masih dinamis hingga last minutes,” bebernya.

Namun memang, kata Luhur, sejauh ini paket yang diwacanakan antara NA dan TBL telah menciptakan opini publik yang sangat kuat antar kedua figur tersebut. Sehingga, untuk dipisahkan bisa jadi akan memberikan persoalan yang mungkin merubah konstalasi politik baik di tim NA sendiri.

“Meskipun kalau di liat yang terpublikasi selama ini, pasangan NA-TBL sudah “di kunci”. Bahkan di beberapa kesempatan NA sering mengistilahkan “sudah tukar cincin”, sebuah komitmen yang dalam makna kebudayaan Bugis-Makassar sangat mustahil untuk berpisah. Kalaupun sampai terpisah, bisa menimbulkan “bunuh diri budaya”,” jelasnya.

Lebih lanjut, Luhur menjelaskan, dari sisi realitas politik, NA dan RMS sebenarnya juga saling membutuhkan, hubungan keduanya bersifat resiprokal dan memungkinkan terjadi take and give. Tinggal kita menghitung apakah ada momentum yang bisa mempertemukan keduanya. (E)


div>