SENIN , 21 MEI 2018

Tegas, SYL Ogah Urus Pilkada

Reporter:

Suryadi - Al Amin

Editor:

asharabdullah

Selasa , 23 Januari 2018 12:00
Tegas, SYL Ogah Urus Pilkada

Dok. RakyatSulsel

*Diminta Menangkan NH-Aziz

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto resmi mengumumkan struktur kepengurusan baru di Dewan Pimpinan Pusat (DPP), di bawah kepemimpinannya. Diantara 116 nama pengurus, terdapat nama mantan Ketua DPD Golkar Sulsel, Syahrul Yasin Limpo.

Masuknya nama Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo (SYL) di kepengurusan DPP Golkar, telah diprediksi sebelumnya. Selain karena prestasi SYL selama memimpin Golkar Sulsel, SYL juga diketahui memiliki hubungan baik dengan Ketua Umum Airlangga Hartarto.

Saat Golkar dipimpin Setya Novanto, SYL diberi posisi Wakil Ketua Dewan Pakar. Di era Airlangga, ia kemudian mendapat kepercayaan menjabat Ketua Bidang Kerawanan Sosial.

Susunan pengurus DPP Partai Golkar yang baru. (Dok.RakyatSulsel)

Menanggapi hal tersebut, SYL mengaku dirinya tidak merasa asing jika dijadikan sebagai pengurus DPP Golkar. Bahkan, ia menyikapi santai terhadap posisi apapun yang ditunjukkan padanya.

“Sejauh ini kan saya menjadi Ketua I Dewan Pakar, dan kalau saya masuk di jajaran DPP itu karena memang saya masuk dalam kepengurusan DPP,” ujarnya, Senin (22/1) kemarin.

Ia mengaku belum mengetahui posisi apa yang diberikan kepadanya. Tetapi, dirinya berharap agar dirinya dapat diposisikan pada tempat yang tidak terlalu sibuk, apalagi yang bersentuhan langsung dengan pilkada.

“Tentu saja saya hargai itu. Tapi kembali saya berharap, jangan dulu kasi saya tugas yang mengarah ke pilkada, karena saya masih mau urus rakyatku,” terangnya.

Selain jabatan untuk SYL, posisi Sekjen yang selama ini dijabat Idrus Marham, kini dipegang oleh Lodewijk Freidrich Paulus.

Sementara, Idrus Marham yang kini menjabat Menteri Sosial tetap diberikan posisi di kepengurusan DPP, sebagai Koordinator Bidang Hubungan Eksekutif Legislatif. Sedangkan posisi Ketua Harian yang dijabat Nurdin Halid (NH) dihapuskan. NH kemudian ditempatkan di posisi Koordinator Bidang Pratama.

NH saat dikonfirmasi mengatakan, posisi tersebut tidak jauh berbeda dengan jabatannya yang dulu sebagai ketua harian. Yang membedakan, hanya tanggung jawabnya saja.

“Korbid Pratama lebih fokus pada pemenangan pemilihan kepala daerah, pemilihan legislatif, dan pemilihan presiden,” kata NH.

Jika dirinya menjabat ketua harian, kata NH, maka kesibukan akan mengganggu konsentrasinya di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel. Sehingga, ia memilih untuk jabatan baru Pratama, layaknya struktur militer.

“Sebenarnya hampir sama. Jabatan ketua harian dihilangkan. Terlalu besar tanggungjawabnya. Korbid Pratama sama halnya Bappilu,” jelasnya.

Menurut NH, perombakan struktur pengurus ini atas persetujuan Airlangga sebagai Ketua Umum DPP Golkar, dan dirinya bersama jajaran Golkar se-Indonesia. “Kepengurusan ini sisa 1,5 tahun, jadi akan mengisi masa sisa,” pungkasnya.

Sementara, Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Daerah DPP Golkar, Risman Pasigai, mengatakan, jabatan baru NH di Pratama semacam tertinggi atau senior di Golkar.

Jika NH tetap menjabat ketua harian, akan mengganggu konsetrasinya sebagai Calon Gubernur Sulsel. Apalagi, sudah masuk pada tahap mempersiapkan pilkada serentak di Indonesia dan Pemilihan Umum 2019 mendatang.

“Ketua Pratama itu semacam ketua senior, karena beliau (Pak NH) tidak mau lagi ketua harian. Harus fokus di Sulsel mempersiapkan diri hadapi Pilgub,” ujarnya.

Terkait masuknya nama SYL di struktur kepengurusan DPP, Risman berharap, bisa ikut memenangkan usungan Golkar, NH – Aziz. Keputusan partai harus diikuti oleh semua pengurus dan kader, termasuk bekerja memenangkan NH – Aziz.

“Selamat datang kembali Pak SYL di kepengurusan Partai Golkar. Mari kita menangkan usungan Partai Golkar di Pilgub Sulsel,” ucap Risman.

Sementara, pakar politik UIN Alauddin Makassar, Syahrir Karim, menilai, SYL bakal dihadapkan dengan suasana berbeda. Apalagi, jika partai mengharuskan untuk berkampanye dan memenangkan calon usungan partai Golkar yakni NH-Aziz.

Sedangkan, sisi keluarga menjadi faktor penting yakni penentu kemenangan adik kandungnya, Ichsan Yasin Limpo (IYL), yang juga bertarung di Pilgub Sulsel.
“Artinya, jika dilihat Pak SYL dilematis nanti, mau ikuti perintah partai atau keluarga,” katanya.

Ditambahkan, dalam komitmen politisi, apalagi masuk jajaran pengurus inti partai, mendahulukan perintah partai serta menjalankan apa yang menjadi keinginan partai. Apalagi, menghadapi pilkada demi kemenangan bersama.

“Tentu komitmen terhadap partai penting, tapi kepedulian keluarga tak bisa diabaikan,” pungkasnya. (*)


div>