SABTU , 18 AGUSTUS 2018

Telur Ayam Ras Rusak Masih Beredar di Makassar

Reporter:

Rusman

Editor:

asharabdullah

Rabu , 14 Februari 2018 10:00
Telur Ayam Ras Rusak Masih Beredar di Makassar

TELUR AYAM. Pedagang telur ayam ras di Pasar Pa'baeng-baeng Makassar sedang melayani pembeli, Selasa (13/2). Rusman/rakyatsulsel

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Informasi beredarnya telur ayam ras rusak (broken) di Makassar rupanya masih berlangsung saat ini. Telur ayam ras rusak yang dipasarkan pihak-pihak tak bertanggung jawab adalah telur yang gagal menetas.

Salah seorang pedagang telur di Pasar Pa’baeng-baeng Makassar, Ansar, Selasa (13/2), membenarkan adanya telur ayam bekas penetasan yang diperjualbelikan.

Menurutnya, ia sering ditawari pemasok telur seperti itu dengan harga cukup murah. “Memang ada telur ayam ras yang bekas penetasan yang dijual di sini,” tuturnya.

Harga telur ayam ras bekas penetasan itu dijual Rp500 per butir dari pemasok. Namun, pedagang eceran yang memasarkan telur-telur rusak itu, dicampur dengan telur ayam yang baik, sehingga susah dideteksi.

Ansar mengaku, telur rusak tersebut diketahui apabila dalam sepekan tidak terjual atau saat pembeli hendak memasaknya.

Ansar membocorkan, telur ayam ras rusak itu apabila dipecahkan, maka kuningnya pasti hancur atau ada darahnya.

Pedagang telur ayam ras ini pun menyebutkan pada saat menjelang hari besar keagamaan, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW paling banyak telur ayam ras semacam itu yang beredar.

Hanya saja ia sayangkan masyarakat yang lebih senang membeli telur ayam dengan harga murah padahal tidak layak dikonsumsi.

“Telur-telur ayam yang bekas penetasan itu kan tidak layak konsumsi. Cuma masyarakat senang membeli karena harganya murah. Sangat disayangkan ada orang yang mengedarkan telur tidak layak konsumsi,” ujarnya.

Ansar menyebutkan, harga telur yang berkualitas baik saat ini Rp1.300 per butir atau jauh lebih murah dibandingkan saat mau maulid nabi yang mencapai Rp1.500 per butir.

Ansar mengajak konsumen memperhatikan telur yang berkualitas baik melalui harga yang ditawarkan.

Ia mengaku tidak pernah berminat menjual telur ayam rusak meskipun seringkali ditawarkan.

“Ada teman pedagang pernah beli telur ayam bekas penetasan sampai 500 rak tapi satu minggu tidak terjual semua sampai ratusan rak yang rusak (busuk) digudangnya,” aku Ansar. (*)


div>