RABU , 13 DESEMBER 2017

Tembus Pasar Luar Pulau, Produksi Serupa Jadi Ancaman

Reporter:

Editor:

Sofyan Basri

Senin , 30 Oktober 2017 22:26
Tembus Pasar Luar Pulau, Produksi Serupa Jadi Ancaman

Dua perajin menyelesaikan pesanan kerajinan anyaman bambu di Kemlagi, Mojokerto. (Didin/Radar Mojokerto)

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Potensi bambu yang melimpah di Desa Mojogebang, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto dimanfaatkan sebagian warganya untuk disulap menjadi kerajinan. Hampir di sepanjang jalan desa, menjamur perabotan rumah tangga kini produksinya diminati pangsa pasar regional dan luar pulau. Seperti apa?

Bambu memang identik dengan bahan yang biasa dijadikan sebagai kandang ayam. Dulu dan bahkan sampai sekarang pun masih banyak digunakan sebagai dinding rumah atau biasa disebut gedek. Namun, di tangan Agus, 38, warga Desa Mojogebang, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, bambu disulap menjadi perabotan rumah tangga bernilai jual tinggi.

Agus merupakan salah satu perajin bambu di Dusun Mojogebang. Di samping kanan dan kiri rumahnya pun berjajar pula perajin serupa. Agus menuturkan, usaha ini bermula semenjak warga di desanya melihat potensi bambu yang tak termanfaatkan dengan maksimal. Atas inisiatif beberapa orang itu, dia lantas diajak menjadi perajin bambu. ”Saya langsung minat, karena saya dulu saya pekerja serabutan. Jadi ya mau-mau saja,” ujar Agus.

Dia mengawali dengan membuat kerajinan dalam bentuk sederhana. Seperti kursi dan meja. Tetapi, lambat laun, kini dia mampu memproduksi gazebo, rak televisi, sampai ranjang tidur.

Usaha yang ditekuni dari tahun 2003 ini pun berbuah manis. Agus memasarkan karyanya hampir di seluruh wilayah Jawa Timur (Jatim). Bahkan sudah menembus Kalimantan. ”Pemasarannya cukup cepat, dari mulut ke mulut. Jadinya sudah terpercaya,” imbuhnya.

Saking banyaknya permintaan, perajin didominasi warga sekitar tersebut sampai kuwalahan menyediakan bahan baku bambu, khususnya jenis bambu Jawa. Karena teksturnya dianggap lebih halus dan mempunyai ruas lebih panjang. ”Kalau kehabisan stok bahan baku, biasanya kita datangkan dari Jombang dan Kediri,” terangnya.

Bermodal Rp 3 juta, sekarang Agus mampu meraup omzet hingga puluhan juta per bulan. Harga perabotan yang dijual sangat bervariatif, tergantung model dan tingkat kesulitan. Untuk kursi model sederhana dijual Rp 150 ribu, sedangkan paling mahal, sebuah gazebo dibanderol sampai Rp 3 juta.

Kini, Agus bukan hanya dapat menghidupi keluarganya, namun turut menyediakan lapangan perkerjaan bagi warga sekitar. Terhitung, sekarang dia sudah punya tiga karyawan. ”Ya Alhamdulillah, bisa buat dapur ngepul dan semoga bisa makin banyak menyediakan lapangan pekerjaan,” imbuhnya.

Namun, ada beberapa kendala yang dihadapi Agus bersama perajin lainnya. Yaitu, menjamurnya usaha serupa di Jatim membuat persaingan semakin ketat. Agus ketir-ketir karena sebagian pelanggannya banyak beralih ke perajin lain. ”Kita dituntut lebih kreatif sih. Kalau modelnya lebih baru dan mengikuti tren kemajuan zaman, nanti akan dilirik lagi,” tuturnya. (mj/ris/ris/JPR)


div>