SABTU , 18 NOVEMBER 2017

Temuan IYL di Finlandia, Setiap Mata Pelajaran Didampingi Tiga Guru

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Selasa , 10 Oktober 2017 17:00
Temuan IYL di Finlandia, Setiap Mata Pelajaran Didampingi Tiga Guru

Ichsan Yasin Limpo saat berkunjung langsung ke salah satu sekolah setingkat SD di Helsinki, Finlandia, Selasa (10/10/2017) waktu setempat. ist

HELSINKI, RAKYATSULSEL.COM – Ichsan Yasin Limpo (IYL) tercengang dengan perhatian pemerintah Finlandia terhadap siswa di setiap sekolah dasar.  Pasalnya, negara yang 100 tahun lalu tergolong sebagai bangsa yang miskin, kini sumber daya manusianya sangat melimpah.

Dari negara tertinggal menjadi negara yang punya daya saing, tentu saja bukan sesuatu yang didapatkan begitu saja. Butuh keseriusan dan terobosan mengejar ketertinggalan.  Dan semua itu tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang sejak dulu memperhatikan sektor pendidikan melalui berbagai regulasi.

Tak salah jika Finlandia selama beberapa tahun terakhir mendapat predikat sebagai negara yang sistem pendidikannya terbaik di dunia. Lalu apa yang menjadi pembeda di Finlandia untuk kebijakan pendidikan? IYL menuangkan di laporannya saat berkunjung langsung ke salah satu sekolah setingkat SD di Helsinki, Finlandia, Selasa (10/10/2017) waktu setempat.

Menurut IYL, hasil penelitian untuk penyusunan disertasi gelar doktornya, perhatian pemerintah terhadap pendidikan memang sangat besar dan punya pembeda dibandingkan dibeberapa negara, termasuk di Indonesia. Salah satunya, setiap siswa di sekolah mendapatkan makanan siang gratis.

“Pemerintah Finlandia berbuat sangat maksimal untuk rakyatnya. Makan siang gratis pun bagi siswa itu diterapkan dan ditangung di sekolah-sekolah. Salut,” kata Ichsan melalui laporan yang dikirim ke redaksi, Selasa (10/10/2017).

Selain menanggung makan siang gratis bagi siswa, IYL yang juga pelopor pertama perda pendidikan gratis di Indonesia, juga mengagumi cara pemerintah dan pihak sekolah dalam proses belajar-mengajar di ruangan. Seperti, di setiap kelas dibatasi maksimal 17 siswa, dan semua fasilitasnya sama dengan sekolah lainnya.

“Setiap proses pembelajaran, guru didampingi satu guru magang dan satu calon guru. Ini dilakukan, agar siswa benar-benar bisa menyerap dengan baik apa yang disampaikan. Itu pun modelnya lebih pada bagaimana menggali potensi dan bakat yang dimiliki siswa,” tambah IYL.


div>